Kerja di Australia kena mental
Alih-alih menyadari bahwa kondisi fisiknya mulai melemah, Firli terus memaksakan diri. Sampai ia berhasil memperoleh penghasilan lebih dari $45 ribu di awal Januari 2026. Karena itu pula, ia harus membayar pajak sebesar 30 persen, sebab penghasilannya sudah melebihi syarat perpajakan. Padahal, gaji Firli sebetulnya hanya sekitar Rp300 ribu per jam.
“Dengan potongan pajak itu, terasa sekali dampaknya. Semua rencana yang sudah aku susun berantakan. Aku gagal memperoleh sponsor visa kerja dari perusahaan, hal ini juga yang mempengaruhi penghasilan dan kesehatanku,” kata Firli.
Merasa berada di titik terendah, Firli akhirnya berbenah dengan mendekatkan diri lagi ke Tuhan. Ia sadar, selama ini ia sudah jarang beribadah. 2 minggu sebelum memutuskan resign, Firli pun menelpon ibunya, seolah mengadu ke tempat sandaran hidupnya selain sang Illah.
“Aku cerita ke ibu kalau selama di Australia aku nggak bisa ibadah dengan tenang, salat sering bolong, dan merasa tertekan selama ini. Semakin hari rasanya berat, sampai aku trauma,” tutur Firli.
Telepon dari ibu meluluhkan segalanya
Pada akhirnya, Firli memutuskan resign daripada memperjuangkan sponsor visa dari perusahaannya di Australia, tapi ia merasa tidak bahagia. Saat itu juga Firli menelepon ibunya lagi. Kali ini, ia mengabari kalau sudah berhenti dari pekerjaan sebelumnya dan ibunya tiba-tiba menangis.
“Aku terdiam. Heran, kenapa ibu sampai menangis. Kemudian beliau bilang, ‘sepertinya ini doa ibuk le. Pas awal Ramadhan ibuk minta ke Allah, ‘ya Allah, berikanlah Firli kesehatan, pekerjaan yang nyaman, yang tidak mengganggu ibadahnya. Mudahkanlah jalannya supaya dia bisa ibadah dengan tenang,’ dan seketika itu aku ikut menangis,” jawab Firli.
Telepon dari ibunya itu kemudian menyadarkan Firli, seiring dengan tenggat WHV miliknya yang habis di November 2026. Ia pun tidak sabar untuk pulang ke rumah. Kembali ke Indonesia dan mencoba memulai hidup yang baru.
“Aku ingin kembali ‘bernafas’, benar-benar hidup, dekat dengan orang tua, dan bisa beribadah dengan tenang. Walaupun sekarang aku belum dapat pekerjaan matang di Indonesia, aku yakin akan ada peluang.”
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Australia Menyelamatkan Alumnus IPB dari Cap Pengangguran, Kini Bisa Kerja dengan Gaji yang Layak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














