Ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil menggelar aksi unjuk rasa di simpang tiga Gejayan, DIY, Sabtu (13/6/2026) sore.
Massa yang terdiri dari elemen mahasiswa, akademisi, buruh, hingga pengemudi ojek online ini memblokade jalan raya dan tetap bertahan menyampaikan orasi meski diguyur hujan deras.
Aksi demonstrasi ini secara khusus dipicu oleh kondisi ekonomi dan sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai bermasalah. Dalam aksinya, para demonstran memprotes pelemahan nilai tukar Rupiah yang telah menembus Rp18.000 per dolar AS.

Selain itu, massa juga menyoroti lonjakan harga kebutuhan pokok dan tingginya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang langsung membebani pengeluaran masyarakat sehari-hari.
Berbagai persoalan tersebut bermuara pada penyampaian sepuluh poin tuntutan utama kepada pemerintah.
Siapa saja yang turun ke Jalan Gejayan?
Aksi demonstrasi ini tidak hanya diisi oleh mahasiswa. Ribuan massa ini tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil.
Kelompok tersebut merupakan gabungan dari mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat sipil, seperti Forum Cik Di Tiro, akademisi, buruh, aktivis, hingga pengemudi ojek online.
Berdasarkan pantauan Mojok pada pukul 15.45 WIB, meskipun diguyur hujan, massa tetap bertahan memenuhi jalan untuk menyampaikan aspirasinya.

Juru bicara Aliansi Rakyat Memanggil, Marsinah, menyoroti kondisi demokrasi dan ruang kritik yang kian dipersempit oleh penguasa.
“Padahal demokrasi tidak tumbuh dari pujian yang dipaksakan, tetapi dari keberanian mengoreksi kekuasaan,” tegas Marsinah saat ditemui di tengah aksi.
Apa pemicu utama aksi demonstrasi?
Kondisi ekonomi dan sosial politik di bawah rezim hari ini menjadi pemicu utama aksi ini. Berbagai masalah seperti pelemahan nilai tukar Rupiah yang menembus Rp18.000, kenaikan harga bahan pokok, serta melambungnya harga BBM nonsubsidi dinilai sangat memberatkan rakyat.
Ketua Serikat Mahasiswa UGM, Mesa, menyebutkan bahwa himpitan ekonomi ini menyatukan berbagai kelompok sipil.
“Tekanan ekonomi dan berbagai proyek bermasalah pemerintah yang lekat dengan korupsi menyatukan gerakan,” kata Mesa.

Selain itu, perwakilan mahasiswa UGM, Marko, turut mengkritik respons pemerintah terhadap yang dianggap abai dan lambat dalam krisis ini.
“Rupiah melemah tapi pemerintah abai. Malah sibuk jalan-jalan ke luar negeri,” ungkap Marko dalam orasinya. Di luar isu ekonomi, ia juga mendesak pencabutan revisi UU TNI dan UU Polri.
Mengapa program MBG ditolak?
Salah satu dari sepuluh poin tuntutan utama massa adalah mendesak pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP).
Massa menganggap proyek MBG rawan dikorupsi, sangat minim pengawasan, dan membebani APBN. Program KMP juga dinilai sebagai proyek pemerintah yang menyimpang dari prinsip ekonomi rakyat dan tidak berdampak nyata.

Humas Aliansi Rakyat Memanggil, Marsinah, mendesak penghentian program-program tersebut.
“Solusi yang paling dekat adalah untuk menghentikan MBG. Kemudian menghentikan Koperasi Desa Merah Putih,” ucap Marsinah. Ia menuntut agar anggaran negara dialihkan.
“Dananya kembalikan untuk pendidikan, kesehatan, kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tambahnya.
Apa tuntutan khusus dari pengemudi ojek online?
Selain menyoroti isu ekonomi secara umum, para pengemudi ojek online yang ikut berdemonstrasi membawa tuntutan khusus. Kenaikan harga Pertamax sangat berdampak pada pengeluaran operasional pengemudi ojol.
Oleh karena itu, mereka mendesak perlindungan hukum bagi pekerja platform digital. Ketua Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif (Wakanda) Yogyakarta, Rie Ramawati, menekankan pentingnya regulasi tersebut.
“Tuntutannya untuk Undang-Undang transportasi online agar bisa segara dibuat,” sebut Rie. Lebih lanjut, ia juga menuntut pengesahan dan revisi Peraturan Presiden terkait.
“Sama Perpres Nomor 27 itu harap segera ditandatangani dan ada pasal-pasal yang harus direvisi,” imbuhnya. Di samping itu, massa mendesak penindakan terhadap perusahaan aplikasi yang melanggar ketentuan.
“Bunyikan klakson kalau kamu resah sama pemerintah”
Berdasarkan pantauan Mojok, hingga pukul 21.00 WIB ratusan massa aksi dari Aliansi Rakyat Memanggil masih bertahan di simpang tiga Jalan Gejayan. Meskipun sebagian peserta demonstrasi telah mulai membubarkan diri, sisa massa tetap berada di kawasan tersebut.
Pihak kepolisian juga sudah kembali membuka akses jalan bagi kendaraan yang sebelumnya diblokade secara total.

Para demonstran yang masih bertahan kini berdiri berjajar dengan tertib di pinggir jalan. Dalam aksinya di malam hari tersebut, massa tidak lagi melakukan orasi menggunakan pengeras suara secara intens. Mereka menggunakan cara yang berbeda untuk menyampaikan pesan protes.
Massa aksi meminta para pengendara kendaraan bermotor yang melintasi Jalan Gejayan untuk membunyikan klakson kendaraan mereka. Bunyi klakson tersebut diminta sebagai simbol solidaritas atau bentuk persetujuan apabila pengendara juga merasakan keresahan yang sama terhadap berbagai kebijakan pemerintah saat ini.
“Bunyikan klakson kalau kalian resah pada pemerintah.”
Bunyi klakson pun bersautan, kembali menyemarakan aksi demonstrasi sebelum massa sepenuhnya membubarkan diri.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Malam Mencekam di Malioboro: Kepungan Preman yang Mengancam Demokrasi di Sumbu Filosofi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














