Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
4 Mei 2026
A A
WHV di Australia ternyata berat. MOJOK.CO

ilustrasi - Firli Khoirul, peserta WHV di Australia.

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sulitnya mencari kerja di negara +62 sudah bukan hal yang tabu. Setelah lulus dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Firli Khoirul (28) menjadi salah satu orang yang mempertanyakan janji kampanye 19 juta lapangan kerja itu. Hingga mencari peluang kerja di Australia dengan Working Holiday Visa (WHV).

Sialnya, jurusan kuliah yang ia ambil tergolong di bidang pendidikan. Selain merasa tak bakat mengajar, Firli juga sanksi mengenai kesejahteraan guru di Indonesia. Kalut dengan rasa pesimisnya, Firli sempat menganggur hampir satu tahun. 

Ia pun melamar kerja sana-sini sambil membantu ibunya jualan gado-gado dan lotek di teras rumah. Sampai akhirnya ia diterima kerja sebagai pegawai outsourcing di Surakarta, tapi Firli merasa belum puas mengingat gajinya yang kecil.

Sebagai anak pertama yang baru kehilangan bapak di tahun 2019, Firli merasa peran tersebut sudah berpindah sepenuhnya. Namun dengan gaji yang kecil, Firli berpikir tak akan mampu menghidupi ibu, kedua adiknya yang  masih sekolah, serta keluarga kecilnya di masa depan.

“Jika hanya mengandalkan upah bulananku waktu itu, rasanya nggak mungkin bisa menghidupi anak istriku dengan layak kelak,” kata Firli dihubungi Mojok, Jumat (1/5/2026).

Di tengah kegalauannya tersebut, Firli mendapat informasi dari temannya bahwa ada pekerjaan di luar negeri. Gajinya pun lumayan, Rp40 juta per bulan. Kerjanya pun tak susah, kata temannya, hanya jadi kuli alias pekerja lepas dengan bayaran upah minimum Australia. Nyatanya, kerja di sana tak semudah yang dibayangkan Firli.

Sulitnya dapat WHV ke Australia

Firli akhirnya mendaftar Working Holiday Visa (WHV) batch pertama pada Agustus 2023, meski awalnya sempat ragu karena merasa tak punya kemampuan Bahasa Inggris yang bagus. Namun bukannya mundur setelah mengetahui kekurangan tersebut, Firli justru getol belajar secara mandiri.

Pemuda asal Surakarta itu pun sempat mengambil kursus berbayar, tapi menurutnya kurang efektif karena harus ada pertemuan tatap muka setidaknya 8 kali. Alhasil, ia memanfaatkan layanan online secara gratis.

“Yang penting tekadku kuat dan konsisten belajar selama 1-2 jam setiap hari,” ujar Firli.

Sembari melatih kemampuan bahasa asingnya, Firli juga menyiapkan segala berkas guna memperoleh Surat Dukungan untuk Work and Holiday Visa (SDUWHV). Sebetulnya, berkas yang dikumpulkan sederhana seperti bukti kualifikasi pendidikan hingga sertifikat kemampuan bahasa Inggris. 

Namun, kata Firli, SDUWHV sulit didapat karena biasanya, permintaannya jauh lebih tinggi daripada kuota yang tersedia. Perbandingannya bisa 1:10. Artinya, banyak orang Indonesia yang minat ke Australia.

Beruntung, Firli menjadi orang yang lolos di percobaan pertamanya mendaftar. Ia pun berangkat ke Australia pada November 2023 dan mulai bekerja di perkebunan apel. Dari pekerjaan pertamanya itulah Firli sadar bahwa menjadi kerja lepas di luar negeri pun tak mudah.

Penerima WHV harus segera adaptasi

Baru 2 hari bekerja, ia dan teman-temannya kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Firli maklum karena hasil kerjanya tidak memenuhi target dan dinilai lelet. Ia pun tak protes tapi kemudian sadar, WHV di Australia rupanya harus beradaptasi dengan cepat. 

“Untungnya, kami mendapatkan pekerjaan baru seminggu setelahnya,” kata Firli.

Iklan

Tugas Firli di pekerjaan barunya tak jauh berbeda. Ia harus memisahkan buah yang bergerombol sampai tersisa 2-3 buah supaya pohon tersebut tumbuh dengan maksimal. 

Satu bulan berselang, Firli tuntas melaksanakan pekerjaan tersebut seiring dengan sesi penjarangan buah apel yang sudah selesai di musim panas. Setelahnya, ia harus segera mencari pekerjaan lain.

“Karena kalau sudah musim dingin sekitar Mei-Juli, akan sulit untuk mencari kerja terutama di sektor perkebunan. Jika dipaksakan, saya hanya kerja 3-4 hari dalam seminggu sebab tanaman yang ada tidak dapat tumbuh dengan maksimal,” jelasnya.

“Sementara penghasilan saya waktu itu di Australia kurang lebih $30,5 dolar per jam. Akhirnya saya mencari kerja di peternakan sebagai pemerah susu sapi.”

Pajak vs gaji pekerja WHV

5 bulan berselang sebagai pemerah susu sapi, Firli akhirnya naik pangkat. Ia diamanahi sebagai pemimpin yang bertanggung jawab memantau karyawan lain selama 7 hari dalam 2 minggu. Namun, dari waktu ke waktu, Firli merasa kehilangan spark dalam hidupnya.

“Berat badanku turun sampai 7 kilogram, tidak bergizi, wajah berubah seperti tak ada energi untuk menjalani hidup padahal saya bukan tipe orang yang mudah menyerah,” kata Firli.

Segala cara telah Firli lakukan untuk bertahan. Mulai dari mengubah kebiasaannya dengan sarapan sampai membuat daftar lagu yang bisa membuat harinya tetap semangat, tapi upaya itu nihil. 

Sampai kemudian Firli menjumpai realitas pahit. Di awal Januari 2026 kemarin, tabungan dia mencapai lebih dari $45.000 (mata uang Australia). Berdasarkan aturan perpajakan di sana, gaji Firli harus dipotong sebesar 30 persen.

“Sebelumnya saya masih dikenakan pajak potongan sebesar 15 persen. Masalahnya, penghasilan saya sebetulnya masih UMR Australia yakni sekitar $30,5 per jam. Dengan potongan 30 persen, tentu rencana saya jadi berantakan,” kata Firli.

Pulang ke Indonesia dengan harapan baru

Setelah hampir 3 tahun kerja di Australia, Firli berencana mendapatkan sponsor visa dari perusahaannya agar bisa tinggal lebih lama, mengingat WHV miliknya sudah mendekati masa tenggat di November 2026.

Namun, karena aturan pajak tadi, rencana Firli jadi batal. Firli pun akhirnya pulang ke Indonesia demi menjaga kesehatan fisik dan mentalnya. Ia ingin kembali merasakan hidup, dekat dengan keluarga, dan beribadah dengan tenang.

“Sampai saat ini, saya belum memiliki rencana yang matang ketika kembali ke Indonesia. Mungkin saya akan mencoba lagi pekerjaan sebelumnya atau kembali berbisnis, karena saya memang suka berdagang,” jelas Firli.

Ia pun tak merasa cemas jika ibunya heran dengan keputusannya pulang. Waktu menelpon ibunya, beliau justru menangis bahagia karena Firli akhirnya pulang ke rumah. Tak jauh dari keluarga.

“Ibu saya sangat polos. Dia selalu berusaha untuk jujur di segala kondisi, sehingga kalau ngomong terkesan ceplas ceplos ke semua orang. Beliau juga selalu mengingatkan saya untuk ibadah, walaupun sampai sekarang saya masih bandel,” kelakarnya. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Pengalaman Pertama Orang Indonesia Pindah ke Bordertown, Malah bikin Syok karena Melbourne Lebih Menjanjikan dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2026 oleh

Tags: Australiakerja di australiakerja di LNSDUWHVsyarat WHVWHVWNI
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

5 tahun pakai WHV di Australia, kena mental. MOJOK.CO
Sosok

Sisi Gelap Kerja di Australia Tak Seindah Konten Medsos, Sadar bahwa Bahagia Tak Melulu soal Gaji Ratusan Juta

2 Mei 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO
Sekolahan

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis
Sekolahan

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa MOJOK.CO
Sehari-hari

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa

9 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mie ayam bintang di Jakarta. MOJOK.CO

Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

29 April 2026
Mayday 2026: Buruh tuntut 8 poin. MOJOK.CO

8 Tuntutan “Jujur” Buruh di Mayday 2026: Ciptakan Lapangan Kerja, Kendalikan Dampak AI, hingga Lindungi Pekerja Platform Digital

2 Mei 2026
Hidup anak perempuan pertama dibebankan ekspektasi orang tua

Anak Perempuan Pertama di Keluarga Korbankan Kebebasan Masa Muda demi Penuhi Tuntutan Jadi Orang Tua untuk Adik, padahal “Sengsara” Sendirian

3 Mei 2026
Gen Z dihakimi milenial

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

30 April 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026
Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya.MOJOK.CO

Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya

30 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.