Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
17 April 2026
A A
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Ilustrasi - Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Konon, menjelang bertambahnya usia, kehidupan terasa semakin mengerikan. Hari-hari menyeramkan ini kian intens ketika menginjak usia seperempat abad, yakni 25 tahun. Sebagian orang akan merasa takut, tetapi alumnus UGM ini memilih untuk memanfaatkan quarter-life crisis sebagai dorongan melanjutkan kuliah S2 di Australia, lalu ikut ekspedisi ilmiah ke Antartika.

Quarter-life crisis pada usia 25 tahun bukan alasan

Berbeda dengan midlife crisis yang merujuk pada krisis yang dialami orang paruh baya, quarter-life crisis mengadu kepada mereka yang masih berusia muda, tetapi akan beranjak dewasa.

Iklan

Dilansir dari situs jaringan kesehatan mental, Newport Institute, krisis ini menandakan pergolakan dan pencarian diri mereka yang mengalaminya. Hal ini dialami mereka yang berusia muda, sebab saat beranjak dewasa mulai mempertanyakan tujuan hidup dan meragukan jalur karier yang ditempuh.

Mereka yang mengalami quarter-life crisis, masih berusia 25 tahun, merasa ragu terhadap diri sendiri. Perasaan tidak pasti, ragu, gelisah, cemas, sampai dengan depresi menjadi makanan sehari-hari saat menginjak pertengahan usia 20-an hingga awal 30-an.

Survei yang dilakukan LinkedIn menunjukkan bahwa 75 persen mereka yang berusia 25 hingga 33 tahun mengaku pernah mengalami quarter-life crisis. Survei ini menemukan, mereka merasa berada di persimpangan jalan hidup pada usia tersebut. 

Alasan utama krisis ini adalah kesulitan menemukan pekerjaan yang benar-benar disukai. Sudahlah tidak tahu, mereka yang masih kebingungan ini kerap diharapkan dengan ralitas teman-teman yang lebih sukses. Akibatnya, mereka (49 persen) merasa belum berhasil dalam pencapaian hidupnya. 

Survei LinkedIn mengenai quarter-life crisis (Sumber: LinkedIn Corporate Communications)

Menghadapi situasi ini, Ezra Timothy Nugroho (25) memilih untuk tidak menjadikannya sebagai alasan untuk berjalan lebih lambat. Ezra memilih untuk menjadikan tekanan ini sebagai dorongan untuk meningkatkan pencapaiannya, terlebih setelah lulus dari Program Studi Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lulus UGM, langsung kuliah S2 ke Australia hingga berkesempatan ikut ekspedisi internasional

Tidak ambil waktu lama setelah lulus dari UGM Jogja, Ezra melanjutkan studi magister di Institute for Marine and Antarctic Studies, University of Tasmania, Australia.

Ia bercerita, kuliah S2 membuka pintu baginya untuk melakukan penelitian di Antartika. Padahal, kesempatan untuk melakukan penelitian di wilayah Antartika masih menjadi sesuatu yang langka bagi peneliti Indonesia.

Ezra Timothy Nugroho, alumnus UGM pada ekspedisi di Antartika (dok. UGM)
Ezra Timothy Nugroho, alumnus UGM pada ekspedisi di Antartika (dok. UGM)

Namun, Ezra berhasil menjadi salah satu dari peserta ekspedisi ilmiah selama 57 hari di Antartika yang berlangsung sejak 2 Januari hingga 27 Februari 2026 lalu. Pencapaian ini berhasil diwujudkannya pada usia 25 tahun.

Sedimen laut di Antartika, temuan Ezra dan peneliti ekspedisi internasional (dok. UGM)
Sedimen laut di Antartika, temuan Ezra dan peneliti ekspedisi internasional (dok. UGM)

Keterlibatan Ezra bermula dari ajakan dosen pembimbingnya untuk mengambil sampel penelitian di Cook Region, yang merupakan salah satu wilayah di Antartika Timur. Pengambilan sampel ini dilakukan untuk melanjutkan penelitian tesis yang sekaligus akan menjadi dasar untuk studi doktoral (S3). 

Dalam penelitiannya, ia mengkaji DNA yang diperoleh dari sedimen bawah laut. Melalui ekspedisi ini, Ezra memiliki kesempatan meneliti ekosistem dan sedimen laut di kawasan Antartika Timur, serta memahami lingkungan laut dan perubahan iklim di wilayah kutub.

“Tesis research saya itu tentang sedimentary ancient DNA, jadi berfokus pada DNA yang didapatkan dari sedimen bawah laut. Fokusnya ke Southern Ocean sama Antartika,” tuturnya, dilansir dari laman UGM, Jumat (17/4/2026).

Iklan

Baca halaman selanjutnya…

Di balik pencapaian usia 25 tahun, ada tantangan tak terduga…

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 21 April 2026 oleh

Tags: alumni UGMalumnus UGMAntartikaAustraliacara masuk ugmkuliah s2 di australiakuliah s2 di luar negerikuliah s2 di ugmpenelitiUGM
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Perjuangan masuk UGM.MOJOK.CO
Sekolahan

Kehilangan Ayah Menjelang SNBT, Kini Berhasil Kuliah Gratis di UGM Meski Harus Belajar di Rumah Sakit

23 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO
Kabar

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO
Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO
Sekolahan

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Romo Pitoyo dalam acara peresmian Laboratorium Alam SMA Kolese De Britto Yogyakarta. MOJOK.CO

Laboratorium Alam De Britto: Pondok Perenungan Manusia agar Tak Kehilangan Hati Nurani di Tengah “Bahaya” AI

28 Juli 2026
Akademisi UGM kritik RUU Sisdiknas karena belum menjawab tantangan pendidikan nasional di masa mendatang MOJOK.CO

RUU Sisdiknas Dinilai Belum Jawab Tantangan Pendidikan hingga Menyoal Relevansi Perguruan Tinggi Kedinasan

28 Juli 2026
Sombongkan IPK dan gelar sarjana cumlaude dari PTS Jogja. Optimis pikat HRD perusahaan incaran tapi ujungnya lontang-lantung bawa lamaran pekerjaan MOJOK.CO

Dulu “Sombongkan” IPK dan Gelar Sarjana Cumlaude, Kini Malu Lontang-lantung Cari Kerja karena Tren HRD Tak Terpikat IPK

29 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.