Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
15 April 2026
A A
Mahasiswa berkuliah S2 UGM. PTN terbaik, tapi pakai AI

Ilustrasi - Mahasiswa pakai AI (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik di Indonesia kerap menjadi tolok ukur dalam berbagai hal. Mahasiswa yang berkuliah di sana dianggap dianggap berkualitas sama, padahal ada di antara mereka yang tidak benar-benar mencerminkan kualitas tempatnya menempuh pendidikan tinggi. Level mahasiswa magister (S2) UGM sekalipun tidak menjamin mutunya.

***

Beberapa mahasiswa yang sedang kuliah S2 di UGM berbagi cerita, mereka merasa mumet untuk alasan yang tidak perlu. Persoalannya, mahasiswa S2 seharusnya sudah lebih dewasa dan dapat memahami cara dunia akademik bekerja dibandingkan mahasiswa S1.

Namun, harapan itu tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Mereka justru harus menelan pil pahit, berupa realitas bahwa tidak seluruh mahasiswa S2 memiliki mutu yang setara. Mereka bisa jadi ketergantungan dan sepenuhnya mengandalkan artificial intelligence (AI) untuk mengerjakan berbagai tugas kuliah.

Sialnya, ketika kamu ditempatkan dalam kelompok yang sama dengan orang-orang ini, proses pengerjaan tugas kuliah akan lebih panjang dari seharusnya.

Mahasiswa S2 PTN terbaik, tapi sedikit-sedikit tanya AI

Nabila (bukan nama sebenarnya) (27) adalah salah satu dari mahasiswa tersebut. Perempuan yang tengah menempuh S2 di UGM ini mengaku tidak asing melihat teman-teman perkuliahan menggunakan AI.

Dalam kegiatan belajar sehari-hari pun, mereka kerap langsung mengirimkan prompt ke AI. Alih-alih berpikir lebih dahulu, AI seakan-akan menjadi jalan cepat untuk dapat memperoleh jawaban.

Misal, Nabila menggambarkan, materi kuliah yang seharusnya dibaca dan dipahami sendiri justru diproses oleh AI. Hasil tersebut barulah akan dibaca, kemudian diakui sebagai hasil pemikiran kolaborasi, atau bahkan sendiri. 

Dengan begitu, kualitas mahasiswa S2 di PTN yang berlokasi di Jogja ini mengalami degradasi. Mereka yang ketergantungan kepada AI jadi kosong-melompong karena seluruh pengetahuannya bersumber, serta diolah oleh teknologi. 

“Banyak lho mereka yang kopong,” kata dia, Rabu (15/4/2026).

Salah seorang teman di kelas Nabila, kata dia, terus-menerus menggunakan AI, seperti Claude. Penggunaan yang tidak berhenti sampai ketergantungan itu menimbulkan ketidakmampuan dalam memproses informasi sendiri.

Pada akhirnya, mahasiswa S2 UGM yang seharusnya memahami tugas kuliah dengan tingkatan studi yang lebih tinggi ini, malah tidak memahami pengerjaan tugasnya sama sekali. Pasalnya, mereka juga tidak mencoba membentuk fondasi terlebih dahulu, serta mempertanyakan penjabaran AI yang tidak jarang keliru.

“Itu temanku A pakai Claude terus sampai nggak paham sama penelitiannya, bahkan teorinya pun,” kata dia.

Iklan

“Soalnya dia positif banget sama AI,” kata dia menambahkan.

Sepenuhnya nggak dikerjakan sendiri, parafrase pun enggan

Menurut Nabila, penggunaan AI sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Kecanggihan teknologi hadir untuk dimanfaatkan. Penggunaannya dapat membantu memaksimalkan berbagai hal, termasuk kebutuhan kuliah.

Namun demikian, penggunaan AI tetap harus memahami batasan. Akal imitasi ini tidak dapat diterapkan untuk mengerjakan sesuatu tanpa upaya dikontrol. Artinya, penggunaan AI tidak bisa dilepaskan sepenuhnya.

Pengguna AI tidak dapat menelan mentah-mentah apa yang dikatakan teknologi tersebut.

“AI nggak apa-apa, tapi jangan telan mentah-mentah,” kata dia.

Nabila mengaku, ia merasa kesal ketika menemukan mahasiswa yang tidak menyaring kembali temuan AI. Sebab, menurut dia, penting untuk membaca kembali untuk dapat mengetahui celah eror yang tidak sesuai dari pengerjaan seharusnya.

“Aku jujur sebal sama yang nelan mentah-mentah. Apa lu nggak baca ulang? Aneh,” kata dia.

Selain itu, mengingat mereka menyandang status mahasiswa S2 di UGM sebagai PTN terbaik ketiga di Indonesia, keengganan untuk sedikit saja mengerjakan sendiri tugas kuliah ini terasa tidak pantas. Hal ini diperkuat dengan pengalaman Nabila yang pernah bekerja kelompok dengan mahasiswa yang ketergantungan dengan AI.

Dua orang yang pernah bekerja kelompok dengannya itu berujung menjadi beban kelompok. Mereka tidak melakukan pemrosesan informasi sendiri, melainkan melemparkan seluruhnya kepada AI. Masalahnya adalah mereka mempercayai sepenuhnya temuan AI, sehingga terjadi diskusi tidak perlu terkait benar atau salahnya pemikiran yang bukan bersumber dari temuan sendiri.

“Pengalamanku sih ada teman dulu waktu tugas, ada dua orang yang percaya banget sama ChatGPT,” kata dia.

Bikin gila mahasiswa UGM lainnya yang berusaha mati-matian mempertahankan mutu

Meskipun sebenarnya, Nabila mengatakan, dirinya tidak sepenuhnya menentang penggunaan AI. Bagaimanapun, perkembangan teknologi patut dimanfaatkan sehingga penggunaan AI diperbolehkan dalam batas seharusnya. 

Seperti halnya etika penulisan artikel jurnal internasional yang mensyaratkan pencantuman penggunaan AI. Penggunaan dalam batasan untuk memaksimalkan tulisan, seperti pengecekan tata bahasa, tidak perlu dianggap berada dalam batas yang dapat diterima sehingga tidak perlu dijabarkan. Sementara itu, penggunaan lain wajib dicantumkan untuk dapat memverifikasi akurasi dari temuan dan orisinalitas.

Artinya, penggunaan akal imitasi tidak dipermasalahkan selama tidak mengambil alih fungsi akal utama manusia sebagai penggunanya sendiri. 

Nabila mengaku, dia juga menggunakan AI untuk dapat mendukung kebutuhan kuliah. Lebih tepatnya, memaksimalkan capaian dalam kuliah. Misalnya, penggunaan AI seperti NotebookLM dimanfaatkan untuk akselerasi pembacaan dan pemahaman.

Sebab, pembacaan sendiri sering memakan waktu lebih lama.

“Aku tuh bisa yah baca paham gitu, tapi takes time,” kata dia.

Maka dari itu, ia bersiasat dengan melakukan pembacaan sekali. Kemudian, mengoperkan materi pembacaan ke AI, lalu membacanya kembali bersama untuk didiskusikan.

“Makanya hadir NotebookLM sangat membantuku, mempercepat pembacaan dan pemahaman aja,” kata dia menutup.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Malas dan Lelah Kuliah, Telepon Ibu Selamatkan Mahasiswa Keperawatan UGM hingga Lulus dengan IPK Sempurna dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 15 April 2026 oleh

Tags: AIArtificial Intelligencecara masuk ugmkualitas mahasiswa s2kuliah pakai AIkuliah s2kuliah S2 UGMlanjut kuliah s2UGMugm jogja
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO
Pojokan

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026
Mahasiswa keperawatan UGM Jogja lulus berkat ibu
Edumojok

Malas dan Lelah Kuliah, Telepon Ibu Selamatkan Mahasiswa Keperawatan UGM hingga Lulus dengan IPK Sempurna

12 April 2026
Alfath, mahasiswa berprestasi UGM Jogja lulusan SMK di Klaten
Edumojok

Sempat Banting Tulang Jadi Kuli Bangunan saat SMK, Kini Pemuda Asal Klaten Dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UGM

11 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO
Edumojok

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

15 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua MOJOK.CO

Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah

11 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Arif Prasetyo, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta penerima LPDP. MOJOK.CO

Kerap Didiskriminasi Sejak Kecil karena Fisik, Buktikan Bisa Kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga dengan LPDP hingga Jadi Sutradara

13 April 2026
AMSI dan UAJY kerja sama untuk ciptakan media yang sehat. Penandatanganan diwakili Rektor UNY Sri Nurhartanto dan Ketua AMSI Pusat Wahyu Dyatmika. (Istimewa)

AMSI dan UAJY Kerja Sama untuk Ciptakan Ekosistem Media yang Sehat

14 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.