Febriansyah (22) tak pernah menyangka bakal buka usaha sampingan seperti les khusus komputer, di samping menjalani profesi utamanya sebagai multimedia designer grafis. Ide ini muncul ketika dirinya melihat langsung realitas di sekitar rumahnya di Kota Bogor.
“Dengar-dengar dari orang sekitar, para siswa ini dapat pelajaran informatika di sekolah tapi sepertinya beberapa sekolah belum memiliki fasilitas yang memadai. Sekalipun ada, paling untuk kalangan tertentu,” kata Febriansyah saat dihubungi Mojok, Senin (29/6/2026).
Di sisi lain, pemuda asal Bogor itu juga menyadari mulai banyak usaha les khusus komputer di sekitar rumahnya. Pasarnya pun tak sedikit, sebab ternyata banyak orang tua dan siswa yang minat untuk belajar.
Berangkat dari persoalan di atas, Febri pun terdorong untuk membuka les khusus komputer. Hitung-hitung juga untuk mengalirkan ilmunya yang sudah dia dapatkan selama kuliah di Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).
Curhat orang tua yang ingin anaknya jago komputer
Semasa kuliah, Febri sebetulnya sudah punya pengalaman membuka les-lesan tapi khusus pembelajaran Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan materi dasar untuk siswa SD.
Beberapa anak maupun wali murid dari siswanya pun curhat ingin belajar komputer. Mereka juga menyarankan Febri untuk membuka les komputer tapi dengan harga yang tidak terlalu mahal, sebab mereka sendiri kesulitan untuk membeli device.
“Jika memang ada yang punya device sendiri tapi belum bisa menggunakannya kami juga bisa membantu. Yang penting anak-anak punya bekal untuk mereka kedepannya. Sedih rasanya jika melihat anak-anak gagap teknologi di tengah teknologi yang semakin maju ini,” ujar pemuda asal Bogor tersebut.
Atas permintaan tersebut, Febri pun mulai membuka les khusus komputer di Kota Bogor usai dirinya lulus kuliah pada September 2025, dengan modal awal dua buah laptop, yaitu milik pribadinya dan miliknya kakaknya yang seorang guru.
Buka les komputer hanya di hari Minggu
Dari bisnis les khusus komputer bersama kakaknya itu, Febri sebetulnya tak menargetkan banyak cuan karena dia masih punya pekerjaan utama sebagai desainer grafis multimedia di sebuah perusahaan.
Oleh karena itu, Febri hanya membuka les komputer miliknya di hari Minggu pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB. Namun, karena animonya terus bertambah, dia berencana menambah jam buka lesnya pada hari Sabtu.
“Kami atur jadwalnya dengan durasi 1 jam seharga Rp20 ribu tiap sesi,” jelas Febri.
Jika ditotal dalam sebulan, setidaknya Febri sudah bisa mengumpulkan uang sekitar Rp1,5 juta. Uang itu pun dia putar lagi sebagai modal membeli perangkat baru untuk les komputer miliknya.
Kini, Febri sudah mampu menyediakan 5 device laptop, sekaligus mouse dan keyboard external, serta koneksi internet.
“Untuk materi sebenarnya kami masih yang dasar-dasar saja, seperti teknik mengetik, cara menghidupkan dan mematikan laptop, membuat folder, menyimpan file, cara menggunakan mouse agar tidak kaku,” ujar Febri.
Setelah dasar-dasar itu mampu dipahami siswa, Febri bakal mengajari mereka soal aplikasi Microsoft Office yang dirancang untuk mempermudah berbagai pekerjaan administratif. Misalnya, Microsoft Word, Excel, dan PowerPoint.
“Kami juga sudah mulai kenalkan kecerdasan buatan (AI) untuk siswa SMA,” kata Febri.
Semangat mengajar les komputer meski upah sedikit
Meski tak mendapat cuan banyak dari hasil les komputer itu, Febri tetap bersyukur dan merasa bermakna sebab bisa membagikan ilmunya.
Dari pengalamannya itu, Febri pun menyadari pentingnya pembelajaran ilmu komputer sejak dini, meski gen alpha sejatinya adalah digital native alias orang yang tumbuh dikelilingi teknologi canggih sejak lahir.
“Karena walaupun mereka punya gawai, menurut saya pengalamannya pasti berbeda. Apalagi, jika mereka hanya bisa melihat dan menyentuh tanpa tahu pengaplikasiannya. Jika diajarkan sejak dini, mereka pasti lebih tanggap,” jelas Febri.
Lebih dari itu, Febri juga senang saat melihat antusias anak-anak yang serius dalam belajar komputer. Hal itu terlihat dari kefokusan mereka ketika Febri menerangkan, serta keaktifan mereka dalam bertanya saat praktik.
Meski tak punya niat menjadikan usaha les komputer ini sebagai pekerjaan utama, Febri tetap berharap bisa mengembangkan bisnisnya bahkan melalui pembelajaran secara online, agar anak-anak lain bisa merasakan kebahagiaan bermain laptop dengan modal murah meriah.
“Saya berharap, walaupun teknologi berkembang semakin cepat, anak-anak Indonesia bisa sama-sama mengimbanginya. Semoga tiap anak bisa merasakan teknologi dengan mudah dan jadi generasi yang hebat untuk masa depan,” ujar Febri.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Derita Perintis bukan Pewaris: Beli HP Android dan Laptop Saja Susah karena Tak Tega Minta ke Ibu, Tapi Kini Bisa Kerja di Bidang IT atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














