Berhasil ke Antartika, tapi tidak tahan dingin karena tidak pernah merasakannya di Indonesia
Namun demikian, tidak mengalami quarter-life crisis seperti orang-orang seusianya, bukan berarti Ezra tidak menghadapi kesulitan. Ia justru harus berjuang untuk bertahan hidup selama melakukan penelitian di Antartika.
Kondisi ekstrem tersebut menjadi tantangan untuk Ezra selama proses penelitian. Pasalnya, hampir dua bulan menetap di Antartika, ia menjalani kehidupan di kapal penelitian dengan ombak tinggi di Laut Selatan, serta suhu dingin yang mencapai minus tiga derajat celcius.
Sebagai orang Indonesia yang lebih akrab dengan panas alih-alih dingin, Ezra mengakui ini sebagai tantangan untuknya. “Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah terkena udara dingin, itu menjadi tantangan tersendiri bagi saya,” kata dia.
Tak hanya itu, dirinya juga harus beradaptasi hidup di kapal dalam jangka waktu yang cukup lama. Keterbatasan ruang, aktivitas yang terjadwal, serta keharusan menjaga kondisi fisik menimbulkan kesulitan tersendiri selama ekspedisi.
Meskipun begitu, Ezra mengaku dapat menyelesaikan seluruh rangkaiannya hingga akhir. Pemuda berusia 25 tahun ini, mengatakan, dirinya dapat lolos dari tantangan ekspedisi, termasuk cuaca ekstrem yang tidak biasa.
“Selebihnya sih aman-aman saja. Saya di sana dapat menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan ekspedisi dengan baik,” kata dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














