Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Tren dan FOMO Olahraga “Kalcer” yang Mahal Lahir karena Minimnya Fasilitas Publik di Perkotaan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
29 Mei 2026
A A
tren olahraga kalcer.MOJOK.CO

ilustrasi tren olahraga kalcer. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Belakangan ini, saya memperhatikan linimasa media sosial mulai dipenuhi pemandangan serupa. Beberapa teman saya yang bekerja di Jakarta dan Jogja, kini rutin mengunggah kegiatan berolahraga.

Uniknya, mereka ini sedang keranjingan olahraga “kalcer” seperti tenis, softball, bergabung dengan komunitas lari, hingga yang paling baru: bermain padel.

Iklan

Tentu saja, perlengkapan yang mereka gunakan tidak sembarangan. Sepatu lari yang dipakai harganya bisa setara atau bahkan di atas Upah Minimum Regional (UMR) Jogja. Baju olahraga, raket padel, hingga jam tangan pintar yang mereka gunakan juga dari merek-merek ternama. 

Pendeknya, fenomena olahraga berbiaya mahal ini telah menjadi tren.

Olahraga karena FOMO

Ternyata, munculnya tren ini bukan tanpa alasan. Dosen Antropologi Universitas Airlangga, Rizky Sugianto Putri, menjelaskan sebuah fenomena bernama “FOMO Positivity” di kalangan Gen Z dan Milenial.

“FOMO biasanya identik dengan rasa takut tertinggal tren hiburan. Namun kali ini, ketakutan itu bergeser ke arah gaya hidup sehat,” jelas Rizky dalam laman resmi FISIP Unair, dikutip Jumat (29/5/2026).

Menurut akademisi Unair ini, olahraga sekarang telah menjadi lifestyle statement atau pernyataan gaya hidup. Bagi anak-anak muda yang sedang berada di fase krisis identitas usia dua puluhan (quarter-life crisis), tampil dengan gaya hidup sehat dan memakai perlengkapan mahal di media sosial menjadi salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi diri mereka.

Dosen muda yang akrab disapa Kiky tersebut mengungkapkan apapun tren olahraga merupakan pertanda baik, terlebih ketika banyak orang yang mengikutinya. Namun, hal ini juga harus dibarengi dengan edukasi teknik maupun memperhatikan kekuatan diri.

Olahraga mahal untuk meningkatkan prestise

Jika kita melihat ke belakang, tren olahraga di kalangan kelas menengah perkotaan memang sangat cepat berubah. Misalnya, aaat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, media ramai menyoroti fenomena masyarakat yang memborong sepeda lipat seharga puluhan juta rupiah. Begitu pandemi reda, tren sepeda langsung meredup dan digantikan oleh demam tenis lapangan. 

Belum selesai demam tenis, sekarang muncul tren padel dan komunitas lari yang perlengkapannya bernilai tinggi.

Menurut sosiolog Universitas Nasional, Nia Elvina, pergeseran tren yang sangat cepat dari sepeda, tenis, hingga padel ini menunjukkan bahwa masyarakat kita memang mudah terbawa arus tren yang sedang ramai diperbincangkan.

“Perubahan tren dalam masyarakat itu ada yang berlangsung secara siklikal (siklus). Olahraga yang trending pada satu periode akan berbeda dengan periode berikutnya, tetapi bisa berulang dalam kurun waktu sekitar satu dekade,” kata Nia, dikutip Jumat (29/5/2026).

Nia, secara spesifik menyebut bahwa tren ini diikuti untuk meningkatkan prestise di mata orang lain. Mengikuti olahraga yang sedang populer, lengkap dengan peralatannya yang mahal, tidak lagi semata-mata didorong oleh kesadaran akan kesehatan fisik. 

Lebih dari itu, olahraga telah beralih fungsi menjadi penanda status sosial bagi kelas menengah. Ada semacam tuntutan tak tertulis untuk tampil menggunakan barang dari merek tertentu agar seseorang bisa diterima dan diakui dalam lingkungan pergaulan olahraga tersebut.

Kegagalan pemerintah menyediakan fasilitas publik yang memadai

Namun, membicarakan tren olahraga eksklusif ini tidak lengkap jika kita hanya melihatnya dari sisi gaya hidup dan media sosial. Ada realita lain di lapangan yang memengaruhi gaya hidup tersebut, yaitu kondisi infrastruktur kota.

Fakta mengenai buruknya fasilitas publik ini sudah lama menjadi perhatian para ahli tata kota. Salah satunya adalah Nirwono Joga, seorang pengamat tata kota yang kritiknya sering dirujuk oleh media nasional.

Dalam bukunya yang berjudul RTH 30%! Resolusi (Kota) Hijau, Nirwono mengkritik minimnya fasilitas publik yang layak bagi warga kota besar di Indonesia.

Sesuai amanat Undang-Undang Penataan Ruang, kata Nirwono, setiap kota sebenarnya diwajibkan memiliki minimal 30 persen Ruang Terbuka Hijau (RTH) dari total luas wilayahnya. RTH ini berfungsi sebagai ruang publik gratis tempat warga bisa beraktivitas secara aman, termasuk berolahraga. 

Iklan

“Namun pada kenyataannya, data ketersediaan taman kota dan RTH di kota-kota besar di Indonesia masih sangat jauh dari target tersebut,” tulisnya.

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa warga kota kesulitan mencari fasilitas publik yang aman dan nyaman. Trotoar di jalanan sekitar perumahan atau tempat kos sering kali rusak, berlubang, atau tidak bisa dilewati karena dipenuhi oleh pedagang kaki lima. 

Selain itu, tingkat polusi udara yang tinggi dari kendaraan bermotor membuat aktivitas olahraga di pinggir jalan raya menjadi tidak sehat. Minimnya penerangan jalan saat malam hari juga menambah risiko keamanan bagi warga yang ingin berolahraga, mulai dari bahaya kecelakaan lalu lintas hingga ancaman kejahatan jalanan.

Sebagai akibat langsung dari krisis Ruang Terbuka Hijau dan minimnya infrastruktur publik tersebut, warga kota mencari alternatif lain agar tetap bisa berolahraga dengan aman. Ketika ruang publik gratis yang disediakan oleh negara tidak memadai, ketersediaan ruang berolahraga akhirnya diambil alih oleh pihak swasta.

Fasilitas olahraga yang aman dan nyaman kini lebih banyak ditemukan dalam bentuk kawasan komersial eksklusif atau lapangan sewa bertarif tinggi. Orang-orang yang ingin berlari di jalur khusus tanpa hambatan dan menghirup udara yang lebih terkontrol harus pergi ke kawasan perkantoran elite seperti SCBD di Jakarta, kawasan Stadion Gelora Bung Karno, atau mendaftar menjadi anggota pusat kebugaran. 

Sementara itu, warga yang ingin bermain tenis atau padel harus menyewa lapangan di area tertutup yang dikelola dan dipasarkan oleh pihak swasta.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka atau liputan Mojok lainnya di rubrlik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Mei 2026 oleh

Tags: olahragaolahraga kalcerolahraga warga kotapadelpelari kalcertenistren olahraga kalcer
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Pelari kalcer, fenomena olahraga lari

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026
Lapangan Padel di Jakarta Selatan bikin Stres Satu Keluarga. MOJOK.CO

Nestapa Tinggal di Perumahan Elite Jakarta Selatan Dekat Lapangan Padel, Satu Keluarga Stres Sepanjang Malam

19 Februari 2026
Mohammad Turi, doktor termuda Unesa. MOJOK.CO

Olahraga Jadi Alasan Hidup Pemuda Asal Madura Ini usai Ayah dan Ibu Tiada, hingga Raih Gelar Doktor Termuda di Unesa dengan IPK Sempurna

20 November 2025
Fitbar Mojok.co

Lari Sambil Nikmati Kopi dan Pastry, Fitbar Hadirkan Shake Out Run Pertama di Indonesia

15 November 2025
Orang yang Kasar pas Main Mini Soccer Baiknya Memang Dipegangin Kepalanya Bareng-bareng, Lalu Dijedotin ke Gapura 182 Kali

Orang yang Kasar pas Main Mini Soccer Baiknya Memang Dipegangin Kepalanya Bareng-bareng, lalu Dijedotin ke Gapura 182 Kali

27 Juni 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.