Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag”

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
16 April 2026
A A
Nasib pekerja gen Z dicap lembek oleh milenial

Ilustrasi - Nasib pekerja gen Z dicap lembek oleh milenial (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Generasi Z (gen z) tidak pernah bisa sepenuhnya lepas dari huru-hara. Generasi ini seakan-akan menjadi kambing hitam oleh generasi sebelumnya seperti milenial, hingga di dunia kerja pun, mereka dicap lembek dan tidak bisa benar-benar bekerja. Padahal kesalahan sebenarnya, bisa jadi disebabkan dunia kerja yang tidak layak untuk pekerja gen Z.

***

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka kelompok usia muda (15 – 24 tahun) secara konsisten menjadi yang tertinggi dibanding kelompok usia lainnya. Gen Z termasuk ke dalam kategori usia muda tersebut. Mereka yang lahir pada rentang 1997 hingga 2012 ini menjadi pengangguran dengan tingkat tertinggi.

Dari sinilah, stigma mengenai gen Z yang tidak dipekerjakan karena berbagai alasan mencuat. Ada yang mengatakan, mereka pemalas dari kurangnya motivasi atau inisiatif kerja, tidak profesional, sampai disebut antikritik karena tidak menerima komentar dalam bekerja.

Survei alasan gen Z dipecat dari pekerjaan mereka
Survei alasan gen Z dipecat dari pekerjaan mereka (Sumber: GoodStats)

Menanggapi ini, salah seorang talent acquisition yang bekerja dalam merekrut calon-calon pekerja tidak menyetujuinya. Menurut dia, gen Z justru pekerja paling melek yang dapat menentukan green flag atau tidaknya sebuah lingkungan kerja.

Pekerja gen Z lebih sadar value, jadi penentu perusahaan green flag atau tidak

Berkaca dari tempatnya bekerja di Bali, Manik (24) mengatakan bahwa generasi Z mendominasi perusahaan tersebut. Hampir seluruh pekerjanya adalah gen Z, sedang pekerja senior hanya menempati posisi-posisi manajerial level atas sebagaimana harusnya.

Selain itu, perempuan ini mengira-ngira, pekerja seperti milenial tidak sampai 5 persen.

“Di kantorku sekarang ada 1300-an pekerja, yang milenial aku yakin nggak sampai 5 persen deh,” katanya kepada Mojok, Minggu (12/4/2026).

Manik menilai, konten media sosial yang meragukan pekerja gen Z tidak dapat dipercaya. Ia memberikan testimoni sendiri bahwa mereka mempunyai potensi dalam bekerja. 

Dibandingkan dengan generasi senior, kesadaran generasi usia 20-an ini secara berani digunakan untuk menentukan di mana boleh atau tidaknya mereka bekerja. Alih-alih membiarkan diri mereka direkrut oleh perusahaan toxic, ada kecenderungan mereka hanya ingin bekerja di perusahaan green flag. 

Bukan cuma soal ingin atau tidak ingin bekerja, keputusan ini mengarah pada kesadaran terhadap value diri. 

Sebagai seseorang yang bertugas mencari kandidat pekerja untuk perusahaannya, Manik menilai kesadaran dan keputusan ini sebagai sesuatu yang baik. Pasalnya, mereka jadi memberikan penanda akan sehat atau tidaknya budaya sebuah lingkungan kerja. Dalam istilah lain, perusahaan dapat disebut green flag ketika gen Z menyetujuinya.

“Gen Z tuh lebih melek dan sadar value mereka, apalagi sekarang kan banyak ya konten-konten di sosmed yang nge-set standar perusahaan green flag itu gimana,” kata dia.

Iklan

“Jadi, ketika ada sesuatu yang nggak sesuai peraturan pemerintah tuh mereka pasti speak up duluan,” tambahnya.

@ceritaceteGue ga akan pernah capek buat ngingetin kalian & ke diri sendiri….♬ suara asli – tylee.prst – tylee.𝑷𝒓𝒆𝒔𝒆𝒕

Bukan salah gen Z kalau tidak cocok bekerja

Keberanian generasi Z, kata Manik, membuat mereka tidak takut untuk berkata jujur. Bahkan, mereka cenderung terus terang dalam segala hal mengenai pekerjaan. 

Sikap ini berbeda apabila dibandingkan dengan generasi senior, seperti milenial, yang selalu mengiyakan kata atasan mereka. Gen Z menjadi pemecah warisan “nrimo ing pandum (menerima apa adanya)” dengan menyuarakan kegelisahan mereka saat itu juga, sekalipun lawan bicaranya adalah seseorang dengan jabatan lebih tinggi.

“Kalau pekerja di kantorku tuh mereka cenderung outspoken semua, jadi beberapa kali ada yang screenshot berita atau konten di sosmed, terus dibawa ke HR kayak, ‘Kak, tapi ini UU-nya kayak gini’,” kata dia.

Pekerja swasta asal Jakarta, Lala (24), juga mengatakan bahwa gen Z tidak bisa selalu disalahkan dalam hal pekerjaan. Kondisi industri kerja hari ini, kata dia, sudah menyudutkan generasi ini lebih dulu sebelum bisa berbuat banyak.

Lala mengatakan, terdapat ketidaksesuaian antara kompetensi pekerja dan kebutuhan industri. Dari permasalahan ini, Lala menyoroti bahwa keputusan gen Z yang berani untuk berpindah kerja setelah menyadari tempat kerja yang red flag berakar dari permasalahan struktural. Artinya, masalah ini sudah terbentuk sejak lama dan bukan sepenuhnya salah generasinya.

“Yang itu masalah struktural kan, menurutku istilah ‘bajing loncat’ yang sering dikaitin sama gen Z pun sebenarnya faktornya karena manajemen kantor yang jelek atau delegasi tugas dari atasan ke bawahan yang nggak masuk akal,” kata dia.

Baca halaman selanjutnya…

Gen Z berpegang pada prinsip jangan berjuang mati-matian dalam pekerjaan, kalau cuma sendirian

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 16 April 2026 oleh

Tags: etos kerja gen zGen Zgen z bekerjagenerasi milenialkepribadian gen zkepribadian pekerja gen zmasalah milenialpekerja gen zpekerja milenialpengangguran indonesia
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO
Urban

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co
Pojokan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat MOJOK.CO
Urban

5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat

7 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
Rozi, dosen penyandang disabilitas Unair yang lulus S3. MOJOK.CO

Perjalanan Dosen Unair yang Kehilangan 2 Kaki, Berhasil Selesaikan Kuliah S3 di FKH dengan IPK Sempurna

27 Mei 2026
makan mie ayam di Solo. MOJOK.CO

Curiga dengan Pedagang Mie Ayam di Dekat Rutan Solo, Beli Seporsi tapi Tak Diminta Bayar. Eh, Ternyata Intel Lagi Nyamar

28 Mei 2026
Pelatihan keterampilan kerja bagi orang miskin dan disabilitas di Jawa Tengah MOJOK.CO

Sebuah Lembaga Tempat Orang Miskin dan Disabilitas Jateng Dapat Pelatihan Kerja Gratis, Dilatih 10-20 Hari Langsung Jadi Kartap Perusahaan

26 Mei 2026
Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu? MOJOK.CO

Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu?

29 Mei 2026
Gambaran rapuhnya masyarakat kita di tengah teror pocong keliling MOJOK.CO

Teror Pocong Keliling Bukan Sekadar Iseng, Jadi Gambaran Masalah Sosial-Digital di Tengah Masyarakat Kita

26 Mei 2026

Video Terbaru

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

14 Mei 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.