Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Penyesalan Tak Pernah Magang: Lulus Jadi Fresh Graduate “Kosongan”, Kelabakan Puluhan Kali Ditolak Kerja hingga 2 Tahun Jadi Pengangguran

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
19 September 2025
A A
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kerja di kota (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Betapapun melelahkan, ternyata magang bisa menjadi bekal saat perburuan lowongan kerja: punya potensi diterima kerja lebih besar ketimbang fresh graduate. Sialnya, pentingnya magang baru narasumber Mojok sadar usai lulus kuliah (selama mahasiswa tak sekali pun ikut magang). Dengan modal portofolio seadanya, dia kelabakan karena sudah puluhan kali ditolak perusahaan.

2 tahun jadi pengangguran dengan status “fresh graduate”

Sudah dua tahun ini Fardi (24) menjadi pengangguran. Sebenarnya, kalau menelan mentah-mentah apa kata orangtuanya, usianya masih terbilang muda. Jadi tak perlu kelabakan karena belum juga mendapat lowongan kerja yang meneri kualifikasinya.

Iklan

Masalahnya, banyak teman-teman Fardi yang sejak fresh graduate (baru lulus) sudah langsung mendapat pekerjaan. Ada juga yang menjadi PNS.

Fardi bisa saja tutup mata dari capaian-capaian teman-teman seangkatannya di kampus. Namun, dia tak bisa sepenuhnya tutup telinga dari bisik-bisik tetangga. Pertanyaan, “Kok masih belum kerja?” teramat sering menyasar Fardi.

Puluhan lamaran kerja sudah Fardi masukkan ke setiap perusahaan yang membuka lowongan kerja. Rata-rata menyertakan keterangan bahwa fresh graduate bisa mendaftar. Tapi nyatanya tak satu pun yang memberinya kabar baik.

“Kayaknya dari sekian itu hanya tiga atau empat kali aku sampai tahap interview. Tapi ya sudah, habis itu nggak ada kabar lagi. Pemberitahuan ditolak pun nggak ada,” keluhnya, Kamis (18/9/2025).

Perusahaan begitu melirik fresh graduate “kosongan”

Setelah merenung, Fardi menyadari kalau fresh graduate yang hanya fresh graduate rasa-rasanya memang sangat kecil kemungkinan dilirik oleh perusahaan. Harus ada daya tawar lebih.

Ada banyak daya tawar yang harus dimiliki seorang fresh graduate. Salah satunya adalah portofilio apakah pernah magang atau tidak. Sebab, magang menjadi tanda bahwa seseorang pernah paling tidak mencicipi ritme dunia kerja.

Sehingga, ketika benar-benar terjun di dunia kerja, dia tak butuh waktu lama untuk adaptasi. Lebih taktis dan tak “bingungan” seperti fresh graduate.

“Karena teman-temanku yang akhirnya lulus kuliah bisa langsung kerja, itu karena dulu sempat magang. Bahkan ada yang kerja di tempat magangnya dulu,” tutur Fardi.

Kata Fardi, ada memang teman-temannya yang fresh graduate “kosongan” tapi langsung tembus sebuah lowongan kerja. Kalau tidak guru honorer, ya pekerja di perusahaan swasta. Tapi itupun dengan gaji yang kecil atau dengan risiko kontraknya tak dilanjut karena mengacu pada hasil probation.

“Aku ngobrol dengan teman-temanku, kalau dulu udah pernah magang, bisa gampang lolos dari probation, karena sudah terbiasa,” sambung Fardi.

Saat mahasiswa lain sibuk magang, malah masih kuliah-pulang

Kesialan dan penyesalan Fardi berlapis. Pertama, jurusan kuliahnya memang tidak memiliki program yang mengharuskan mahasiswa untuk magang. Kedua, Fardi mengakui kalau dia dulu kurang inisiatif untuk mengambil magang secara mandiri.

“Ada kan kantor yang membuka magang. Nah, beberapa temanku ada yang ambil magang mandiri, walaupun nggak masuk konversi mata kuliah dan bahkan nggak digaji,” kata pemuda asal Jawa Timur itu. “Itung-itung buat cari pengalaman.”

Iklan

Sayangnya, waktu itu Fardi berpikir dangkal. Kalau tidak masuk konversi mata kuliah dan tak digaji, malah cenderung buang-buang waktu dan energi. Alhasil, Fardi lebih memilih kuliah-pulang-nongkrong-keigiatan organisasi.

Fardi juga sudah kadung percaya bahwa dengan modal ijazah S1-nya, dia tetap akan punya kesempatan luas untuk gampang tembus dalam rebutan lowongan kerja. Nyatanya tidak demikian.

“Hasil baca-baca di internet juga, daya tawar fresh graduate di mata HRD itu kan yang paling penting portofolio terkait skill dan pengalaman kerja. Bagi fresh graduate ya magang,” ucap Fardi.

“Pengalaman organisasiku ternyata nggak laku-laku amat. Relasi organisasi mahasiswa yang kuikuti dulu juga nggak membantu,” lanjutnya.

Fardi kini masih berburu lowongan kerja. Karena belum memiliki pemasukan sendiri, maka terpaksa harus tetap minta uang saku—untuk sekadar beli bensi dan paket internet—ke orangtua. Tentu ada perasaan malu. Tapi tak banyak yang bisa Fardi perbuat.

Magang: capek-capek tak digaji, tapi…

Cerita berbeda dituturkan oleh Zuqna (25), pekerja swasta di Jogja.

Jurusan kuliahnya sebenarnya tidak memiliki program magang. Namun, menjelang semester akhir, saat itu Zuqna memilih magang. Niat awalnya untuk sekadar mengisi waktu daripada gabut.

“Tinggal skripsi. Waktu itu juga nggak kuliah sambil kerja. Organisasi juga nggak aktif. Jadi buat ngisi waktu ya sudah garap skripsi sambil magang,” kata Zuqna.

Zuqna mengaku pernah mengeluh di masa magangnya tersebut. Karena dia diperlakukan seperti karyawan penuh waktu. Jelas capek. Sebab, dia juga masih harus membagi waktu dengan mengerjakan skripsi.

Lebih-lebih tak digaji pula. Namun, setelah selesai magang dan lulus kuliah, dia mengaku mensyukuri telah melalui proses tersebut.

Sebelum lulus sudah diminta kerja

Zuqna masih saling menyimpan kontak supervisor di divisinya saat magang dulu.

Suatu ketika, saat mengunggah foto momen menjelang sidang skripsi, tiba-tiba supervisornya itu mengontaknya. “Sudah beres belum kuliahnya? Kalau belum, ini kayaknya aka nada lowongan kerja. Kamu daftar aja.” Begitu bunyi pesan tersebut.

“Makdeg” lah Zuqna. Zuqna sempat maju mundur untuk mendaftar kendati telah lulus sidang. Akan tetapi, dengan pertimbangan betapa sulitnya fresh graduate mencari kerja, akhirnya Zuqna memutuskan memasukkan lamaran kerja saat perusahaan tempat magangnya itu membuka lowongan. Hasilnya, Zuqna diterima.

“Sekarang kerja di sana. Aku kan udah kenal budaya kerjanya, jadi gampang mengikuti. Karena dulu kan aku sudah seperti karyawan tetap. Udah kenal juga dengan beberapa karyawan, jadi gampang ngblend,” sambung Zuqna.

Fardi dan Zuqna sama-sama sepakat, rasa-rasanya, mahasiswa harus melengkapi kompetensi dirinya dengan mengikuti magang. Jika tidak masuk program kampus, maka maganglah secara mandiri. Sehingga tidak lulus sebagai fresh graduate “kosongan”.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ironi Sarjana Hukum saat Magang Advokat: Perjuangkan Hak Orang Lain tapi Tak Berdaya Atas Hak Sendiri, Dipekerjakan Penuh Waktu Gratisan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 September 2025 oleh

Tags: fresh graduateloker fresh graduatelowongan kerjamagangmagang mahasiswamahasiswa magangpilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO
Sekolahan

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita memelihara dan menyayangi kucing sepenuh hati di desa. Anabul dianggap hewan goblok MOJOK.CO

Sulitnya Memelihara dan Menyayangi Kucing di Desa: Dianggap Aneh dan Nggak Guna, Anabul Hadapi Hinaan dan Racun Tetangga

24 Juni 2026
Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran

22 Juni 2026
Gotong Royong ala Serigala Putih: Napas Kultural Uzbekistan di Pentas Piala Dunia.MOJOK.CO

Sepak Bola Gotong Royong Bernama Mahalla, Senjata Taktis Uzbekistan di Piala Dunia

17 Juni 2026
Tips Memulai Usaha Coffee Shop yang Tahan Disiksa Negara MOJOK.CO

Tips Memulai Usaha dari Mantan Lulusan CPNS yang Memilih Menyiksa Diri Menjadi Pengusaha Coffee Shop

21 Juni 2026
Gubernur Jawa Tengah imbau warga Jateng terbuka saat Sensus Ekonomi 2026 MOJOK.CO

Imbauan buat Warga Jateng saat Sensus Ekonomi 2026: Harus Terbuka karena Penting, Data Pribadi bakal Dijaga Kerahasiaannya

18 Juni 2026
Rembang semakin tidak layak dicintai MOJOK.CO

Semakin Tak Punya Alasan untuk Tinggal dan Mencintai Kabupaten Rembang: Tak Beranjak ke Mana-mana, Kolotnya Dipelihara

17 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.