Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
27 Juli 2026
A A
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Ilustrasi Crab Mentality di Desa (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada aturan tak tertulis, yang diam-diam disepakati warga desa: kalau kondisi ekonomi kamu pas-pasan, pilihan hidup juga harus nrimo. Termasuk dalam urusan memilih sekolah bagi anak. 

Kalau bapaknya cuma buruh serabutan dengan penghasilan tak menentu, apalagi keluarga kecil kamu masih menumpang di mertua, sekolah anak tak perlu muluk-muluk. Yang penting dekat dari rumah, gratis, dan anak bisa belajar baca tulis.

Iklan

Standard inilah yang nekat ditabrak oleh Eva (32), tetangga saya dari sebuah desa di ujung tenggara Wonogiri. Sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak, kondisi ekonomi Eva jelas sering kembang kempis. 

Penghasilan suaminya sebagai buruh serabutan, hanya cukup untuk untuk menghidupinya dan dua anaknya–yang satu baru masuk SD dan satu lagi balita dua tahun.

“Kalau dibilang miskin banget, Alhamdulillah masih cukup. Nggak semiskin itu, tapi yo nggak kaya juga,” ujarnya, Minggu (26/7/2026).

Memilih sekolah mahal, tempatnya anak-anak orang kaya di desa

Namun, saat tiba waktunya mendaftarkan anak sulungnya sekolah, ia membuat keputusan yang bikin geger tetangga. Eva memilih menyekolahkan anaknya ke SD Muhammadiyah Program Khusus (PK).

Sebagai gambaran, di desa saya, SD Muhammadiyah PK bukan sekadar tempat belajar. Ia sudah dianggap sebagai simbol status sosial. Sekolah ini dianggap sebagai tempatnya anak-anak dari keluarga mapan. 

Murid-muridnya didominasi anak pegawai negeri, atau orang-orang desa yang terpandang. Uang pangkal dan SPP bulanannya jelas bukan level kantong buruh serabutan yang buat makan besok saja masih mikir. 

Belum lagi urusan logistik. Letaknya tak bisa dijangkau hanya dengan modal nekat. Eva harus rela membelah jalanan desa sejauh 15 sampai 20 menit setiap pagi menaiki motor. Bagi keluarga kelas bawah seperti dirinya, jelas mengejar sekolah ini ibarat mencari penyakit

Dicap “sok kaya” oleh tetangga

Keputusan Eva langsung jadi bahan kasak-kusuk panas tetangganya. Mereka nyinyir dan dengan gampang menempelkan cap “sok kaya” padanya. 

Alasan warga sebenarnya masuk akal–meski tak bisa dibenarkan. Buat makan sehari-hari saja keluarga Eva masih harus putar otak, kenapa gaya-gayaan menyekolahkan anak di tempat yang SPP-nya menguras kantong?

Apalagi, di kelurahan saya itu sebenarnya ada tiga SD Negeri yang sepenuhnya gratis. Warga menganggap Eva terlalu memaksakan gengsi, egois, dan tidak kasihan melihat suaminya yang harus banting tulang.

“Dibilang sok kaya lah. Ada yang bilang egois lah. Masalahnya itu, mereka sukanya ngomong di belakang, nggak pernah yang berani negur langsung,” kata Eva.

Di desa saya, hal demikian memang terlihat dinormalisasi. Jika ada keluarga kelas bawah yang mencoba mengambil pilihan di luar batas kemampuan finansialnya–meski tujuannya baik–masyarakat akan otomatis menariknya turun dengan sentilan “tidak tahu diri” atau “sok kaya”. 

Iklan

Ada kesan kemiskinan adalah takdir yang harus diterima. Orang miskin seolah dilarang keras punya standard tinggi.

Menyelamatkan pergaulan anak di desa  

Gunjingan tetangga itu tentu sampai ke telinga Eva. Ditambah ia masih tinggal satu atap dengan mertua, tekanan mentalnya jadi berlipat ganda. 

Namun, ia memilih menebalkan telinga. Apa yang tidak dilihat oleh para tetangga nyinyir itu adalah ketakutan terbesar seorang ibu terhadap ancaman dari lingkungan sekitarnya.

Bagaimana tidak, dari tiga SD Negeri di desa, kondisinya memang memprihatinkan. Dua SD kekurangan murid dengan fasilitas seadanya. Satu SD sisanya lumayan ramai, tapi justru menyimpan masalah yang bikin Eva merinding: pergaulannya hancur.

“Kamu lihat sendiri kan, gimana mulut-mulut bocah itu kalau lagi pada ngumpul?” 

Eva melihat langsung bagaimana rusaknya tongkrongan bocah-bocah SD di sekitar rumahnya. Memanggil teman dengan sebutan nama hewan, kosakata kotor, dan umpatan kasar sudah jadi bahasa pergaulan sehari-hari. 

Etika berbicara dengan orang yang lebih tua perlahan luntur. Parahnya, kenakalan-kenakalan itu dibiarkan saja oleh lingkungan. Semua atas nama, “namanya juga anak-anak”. 

Membiarkan anak sulungnya masuk ke ekosistem semacam itu sama saja dengan sengaja melempar anaknya ke tempat yang salah.

Uang bisa dicari

Pada akhirnya, keputusan Eva mendaftarkan anaknya ke SD Muhammadiyah PK bukan buat pamer gengsi. Ia aslinya cukup realistis: sekolah mahal tidak otomatis membuat anaknya kelak menjadi orang sukses. 

Ia mengaku, paling tidak anaknya mendapatkan pendidikan dan lingkungan yang lebih baik. Ia rela suaminya harus cari kerja serabutan tambahan, dan dirinya harus repot menembus jalanan setiap pagi untuk antar-jemput dari desa ke pinggir kota, asalkan anaknya berada di lingkungan yang beradab.

Bagi Eva, perhitungannya sangat sederhana. Uang SPP bulanan masih bisa dicarikan jalan keluarnya dengan keringat ekstra, dan jarak tempuh 20 menit tiap pagi bisa dilewati perlahan. 

Namun, kalau moral dan pergaulan anaknya telanjur rusak sejak SD karena salah masuk lingkungan, uang sebanyak apa pun tak akan pernah bisa mengembalikannya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 Juli 2026 oleh

Tags: Biaya sekolah anakDesakehidupan di desaPendidikanPendidikan anak desaPergaulan anak SDSDSD MPKSD Muhammadiyah PKsekolahsekolah mahalStigma masyarakat desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO
Sekolahan

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO
Esai

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

8 Juli 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Catatan

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

WiFi di Kos MOJOK.CO

Ngekos Murah Ber-WiFi Malah Tekor: Berisik, Teras Berubah Jadi Warnet Gratisan, Berujung Terusir dan Ngungsi demi Ketenangan

24 Juli 2026
Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan MOJOK.CO

Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan

22 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Buku "Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri" jadi ikhtiar mencatat risalah panjang kompleks Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta melintasi 5 zaman MOJOK.CO

Ikhtiar Mencatat Risalah Panjang Ambarrukmo Melintasi 5 Zaman, Situs yang Terus Hidup tanpa Mencerabut Akar

23 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.