Menjadi yatim piatu sejak muda, memaksa Jihana untuk membuang jauh mimpinya sebagai pekerja kantoran. Dengan ijazah S1 Manajemen, ia berhasil membuktikan bahwa bisnis laundry jauh lebih menenangkan dan bikin untung.
***
Sudut pandang Jihana mengenai arti kesuksesan seketika berubah sejak menghadapi realita pahit di usia 20-an. Dulu Jihana berpikir, bahwa gambaran sukses itu seperti kerja di gedung tinggi sebagai pegawai kantoran, mengenakan baju rapi, hingga punya jam kerja yang pasti.
Namun, hidup sudah menempanya lebih dulu. Setelah lulus SMA, Jihana gagal masuk salah satu kampus ternama di Jogja, sampai akhirnya dia diterima di S1 Manajemen Universitas PGRI Yogyakarta (UPY)—peringkat ke-199 di Indonesia versi UniRank pada 2026.
Meski begitu, Jihana berusaha menerimanya. Seiring berjalannya waktu, ia justru merasa cocok dengan jurusan tersebut. Bahkan setelah lulus, ia mampu memanfaatkan ilmunya dengan baik sebagai pengusaha laundry di dekat Universitas Islam Indonesia (UII), Sleman.
Alih-alih merasa getir dengan mimpinya yang tak pernah kesampaian, Jihan bersyukur bisa memiliki usaha sendiri tanpa bergantung ke orang lain. Rasa-rasanya, ia sudah kebal jadi sosok yang mandiri usai ibunya meninggal saat usianya baru 6 tahun, dan ayahnya yang menyusul pada 2021 lalu.
Banting setir ke usaha laundry usai lulus S1 Manajemen
Meski kedua orang tuanya telah tiada, sang ayah dulu sempat menaruh harapan besar agar Jihana bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Alasannya jelas, supaya hidup si anak lebih stabil dengan jaminan hari tua yang pasti. Begitu pula yang diimpikan Jihana setelah mendapat gelar S1 Manajemen di UPY.
Sayangnya, keinginan itu berubah setelah Jihana berusaha mengirim banyak lamaran ke berbagai perusahaan guna mengumpulkan modal CPNS, tapi tak perusahaan yang memanggilnya.
Sebelum mendapat gelar S1 Manajemen di UPY, Jihana mengaku sempat kerja sebagai admin di salah satu perusahaan layanan logistik sembari mengerjakan skripsi. Namun, pekerjaan itu tak berlangsung lama karena saran dari sang kakak.
“Awalnya aku cuma mau mengisi kekosongan, soalnya tinggal KKN sama skripsi tapi nggak bertahan lama soalnya kakak nggak setuju. Dia bilang ‘kalau mau, mending sekalian punya usaha sendiri aja’, ya sudah aku akhirnya resign,” tutur Jihana, Rabu (30/9/2026).
Setelah resign, Jihana justru merasa bosan. Alhasil, dia menawarkan diri untuk kerja di tempat kakaknya yang merupakan pengusaha laundry. Namun, kakaknya justru menawarkan Jihana untuk mengambil alih usaha tersebut.
“Kakakku nggak ngebolehin kerja bareng dia tapi dia membolehkan aku punya usaha sendiri. Jadi ya sudah, aku putusin buat ambil alih laundry miliknya aja. Siapa sangka, dari tawaran iseng itu malah jadi jalan rezekiku sekarang,” kata Jihana.
Lulusan S1 Manajemen tak harus jadi karyawan
Meski sudah punya ilmu S1 Manajemen dan jaminan pekerjaan usai lulus kuliah dari UPY, Jihana mengaku masih harus beradaptasi dalam menjalankan usaha laundry miliknya. Khususnya, saat mengurus karyawan yang memiliki berbagai macam karakter.
“Paling menantang itu ya waktu mengurus sumber daya manusianya. Butuh ekstra sabar, belum lagi kalau pas ada yang tiba-tiba izin atau keluar kerja, itu lumayan bikin pusing operasional,” ucap Jihana.
Selain itu, Jihana sadar bahwa berbisnis tak selalu menguntungkan. Di bidang laundry, ada masa ketika usahanya sepi terutama di musim liburan mahasiswa atau Lebaran, karena laundry miliknya ada di sekitar kampus.
“Begitu anak-anak kos pada mudik atau libur semester, wah, omzet langsung anjlok drastis. Awal-awalnya sempat kaget sama siklus ‘musim sepi’ kayak gitu,” ujarnya.
Namun, ketika bisnisnya ramai, bukan tak mungkin jika penghasilannya bisa meraup untung hingga 6 kali lipat UMK Jogja (sekitar Rp17,7 juta) dalam sebulan.
“Alhamdulillah usahanya lancar, bisa nutup operasional, dan cukup buat muterin modal serta gaji karyawan sama nabung tipis-tipis dari keuntungan bersih,” kata Jihana.
Ilmu kuliah tetap terpakai untuk bekerja
Jihana tak tahu bagaimana respons almarhum orang tuanya jika tahu anaknya yang lulusan S1 Manajemen kini membuka usaha laundry alih-alih menjadi PNS. Yang jelas, Jihana bersyukur masih bisa mandiri sampai sekarang.
“Punya bisnis pribadi ternyata ada kepuasan tersendiri, walaupun capeknya beda dari segi fisik karena mengurus operasional dan urusannya banyak,” kata Jihana.
Ia pun sadar kalau jalur kesuksesan tidak harus selalu jadi karyawan kantoran. Jika saat ini dia kerja sebagai PNS, barangkali Jihana tak akan punya kontrol penuh atas waktunya sendiri dan harus pusing menghadapi atasannya.
“Aku senang pas lihat usahaku bisa jalan stabil, ngasih lapangan kerja buat orang lain walau masih skala kecil, dan ternyata ilmu manajemen pas kuliah tuh beneran kepakai,” kata Jihana.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Curhat Mahasiswa Jurusan Manajemen Sulit Cari Kerja di Surabaya, Sekalinya Dapat Tawaran, Gaji di Bawah UMR atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan