Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
16 Maret 2026
A A
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

ilustrasi - hal yang dirindukan dari warmindo Jogja saat merantau ke Jakarta. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai anak rantau atau mahasiswa yang tinggal di Jogja, istilah bubur kacang ijo (hijau) atau burjo tak lagi asing. Selain karena mudah dijumpai dan buka 24 jam, burjo atau warung makan indomie (warmindo) adalah penyelamat saat kantong kering. Lambat laun, warung makan murah tersebut merambah ke kota-kota lain seperti Jakarta tapi vibes-nya berbeda.

***

Pada awalnya, burjo hanya menyediakan menu bubur kacang hijau–sesuai dengan kepanjangannya. Dalam sejarahnya, kuliner tersebut dibawa oleh perantau dari Kuningan, Jawa Barat. Tak heran, penjual burjo biasanya dipanggil “akang atau a” untuk laki-laki dan “teteh atau teh” untuk perempuan.

Seiring berjalannya waktu, burjo mulai menyediakan mi instan sehingga ada yang mengubah namanya menjadi warmindo. Tak hanya itu, beberapa di antaranya juga menjual menu masakan rumahan. 

Baik mahasiswa maupun perantau di Jogja mengandalkan burjo sebagai penyelamat saat kantong kering. Selain karena murah dan jarang tutup atau libur, pedagangnya dikenal ramah dan baik hati.

Warung makan andalan mahasiswa

Salah satu pembeli burjo langganan adalah Qoory (28). Perempuan asal Purwokerto ini mengaku sudah 6 tahun kuliah di Jogja dan menjadikan burjo sebagai warung makan andalannya. 

“Burjo tuh penyelamat banget kalau bingung mau makan apa. Seringnya sesimpel nasi orak-arik telur karena murah dan bikinnya cepat,” ujar Qoory saat dihubungi Mojok, Sabtu (14/3/2026).

Seperti yang dikatakan Qoory, menunya tak hanya mi atau bubur kacang hijau. Malah kadang, sebagian burjo sudah tidak menjual bubur kacang hijau lagi. Namun, hal itu justru tak mengurangi minat pembeli.

Setelah lulus kuliah dan mendapat kerja di Jakarta, Qoory pun sadar bahwa menu burjo di Jogja jauh lebih lengkap ketimbang burjo yang ia temui di Jakarta. Dulu dengan uang Rp5 ribu, ia sudah bisa mendapatkan nasi plus sayur. 

“Aku biasa pesan kacang panjang atau menu lain seperti mi telor, orek tempe, nasi telor, nasi ayam opor, nasi ayam kecap, bahkan nasi ayam sambal matah pun mereka ada,” jelas Qoory.

Namun, saat mencoba memesan menu Magelangan yang ada di Jakarta, ia justru mendapat reaksi aneh dari pedagang.

Dikira aneh oleh pedagang burjo di Jakarta

Suatu hari sepulang bekerja, Qoory menemukan burjo di sekitar kosannya yang masih buka. Tak perlu waktu lama baginya untuk datang ke sana, mengingat perutnya yang sudah keroncongan.

Ia pun kerap kebingungan memilih menu makanan. Pertama, karena lidahnya sudah terbiasa dengan masakan Jogja yang manis atau menu Magelangan. Mau masak sendiri pun tak ada waktu karena ia sering pulang malam. 

Baca Halaman Selanjutnya

Iklan

Senang temukan burjo di Jakarta tapi berujung kecewa

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 16 Maret 2026 oleh

Tags: anak rantauburjojakartaJogjamerantauwarmindowarung makan murah
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO
Pojokan

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Romantisasi bunuh diri di Jembatan Cangar Mojokerto harus dihentikan MOJOK.CO

Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi

24 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Pelari kalcer, fenomena olahraga lari

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.