Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
16 Maret 2026
A A
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

ilustrasi - hal yang dirindukan dari warmindo Jogja saat merantau ke Jakarta. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Maka, saat melihat ada burjo di Jakarta, Qoory langsung senang. Namun, kebahagiaan itu perlahan sirna setelah ia merasakan vibes yang berbeda.

“Waktu itu aku langsung pesan ke Aa-nya. ‘A Magelangan satu ya, tapi Aa-nya malah memandang aneh ke arahku, terus dia jawab nggak ada,’” tutur Qoory.

Awalnya, Qoory merasa wajar. Siapa tahu menu Magelangannya memang habis. Lalu, ia memesan nasi telur orak-arik dan penjualnya pun menjawab sama: ‘tidak ada’. Qoory yang kebingungan akhirnya bertanya lagi.

“Terus adanya apa, A?” ujarnya.

“Di sini nggak jualan nasi. Kalau nasi mah ke warteg depan,” jawab pedagang sedikit ketus, karena mungkin jengkel dengan Qoory yang malah memesan nasi daripada menu utama burjo yang menjual mi.

Vibes nongkrong di burjo Jogja vs warkop Jakarta

Sejak saat itu, Qoory menyerah mencari burjo di Jakarta dengan vibes dan menu masakan Jogja. Padahal, kalau ada burjo di Jakarta yang vibes-nya seperti Jogja, Qoory bisa menabung dengan gaji UMR-nya (Rp5 juta). Sebagai informasi, karyawan dengan gaji imut seperti Qoory biasa dikenal dengan istilah “karjimut”.

Hal serupa juga dirasakan Yayak, pemuda asal Jogja yang merantau untuk kuliah di Jakarta. Zaman SMA dulu, sebelum ia merantau ke Jakarta, tongkrongannya adalah burjo atau warmindo. Bersama teman-temannya, Yayak bisa menghabiskan waktu berjam-jam sampai larut malam tanpa harus mengeluarkan uang lebih dari Rp20 ribu seperti saat nongkrong di kafe.

“Nggak bisa dipungkiri, burjo tuh murah dan enak buat nongkrong,” kata Yayak yang merindukan masa SMA.

“Tapi waktu pindah ke Jakarta, aku jarang menemukan burjo atau warmindo yang vibes-nya seperti di Jogja. Kirain waktu aku kuliah suasananya bakal mirip-mirip, tapi ternyata beda banget,” lanjut Yayak.

Menurut Yayak, ketimbang burjo, warung kopi (warkop) lebih banyak menjamur di Jakarta tapi sulit mencari warkop yang menjual nasi atau burjoan. Ada pun mi instan dengan harga yang mahal. 

“Akhirnya, aku jarang ke warkop pas kuliah di Jakarta,” ucapnya.

Yayak pun sadar, sebagai mahasiswa yang menunggu kiriman dari orang tuanya di Jogja, hidup di Jakarta memang harus berhemat. Begitu pula Qoory yang mendapat penghasilan tetap di Jakarta. Meski gajinya terbilang lebih besar dari UMP Jawa Tengah maupun DIY, kebutuhan hidup di Jakarta nyatanya tidak murah. 

Pada akhirnya, mereka mungkin menemukan kesuksesan di Jakarta, tapi dari burjo Jogja-lah, keduanya menemukan cara untuk bertahan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Iklan

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Burjo di Sekitar UNY Menyelamatkan Hidup Mahasiswa Semester Tua yang Terancam DO dan Tak Sanggup Bayar UKT atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 16 Maret 2026 oleh

Tags: anak rantauburjojakartaJogjamerantauwarmindowarung makan murah
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO
Urban

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Kuliah, Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO
Sekolahan

Ortu Rela Melepas Anaknya Kuliah Mengejar Mimpi, tapi Dihantui Rasa Takut Salah Pergaulan di Perantauan

31 Juli 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO
Sekolahan

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Konsultasi Publik di Bandung Hasilkan Masukan Strategis Konservasi Elang Jawa 2026-2036

3 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko” MOJOK.CO

Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko”

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.