Maka, saat melihat ada burjo di Jakarta, Qoory langsung senang. Namun, kebahagiaan itu perlahan sirna setelah ia merasakan vibes yang berbeda.
“Waktu itu aku langsung pesan ke Aa-nya. ‘A Magelangan satu ya, tapi Aa-nya malah memandang aneh ke arahku, terus dia jawab nggak ada,’” tutur Qoory.
Awalnya, Qoory merasa wajar. Siapa tahu menu Magelangannya memang habis. Lalu, ia memesan nasi telur orak-arik dan penjualnya pun menjawab sama: ‘tidak ada’. Qoory yang kebingungan akhirnya bertanya lagi.
“Terus adanya apa, A?” ujarnya.
“Di sini nggak jualan nasi. Kalau nasi mah ke warteg depan,” jawab pedagang sedikit ketus, karena mungkin jengkel dengan Qoory yang malah memesan nasi daripada menu utama burjo yang menjual mi.
Vibes nongkrong di burjo Jogja vs warkop Jakarta
Sejak saat itu, Qoory menyerah mencari burjo di Jakarta dengan vibes dan menu masakan Jogja. Padahal, kalau ada burjo di Jakarta yang vibes-nya seperti Jogja, Qoory bisa menabung dengan gaji UMR-nya (Rp5 juta). Sebagai informasi, karyawan dengan gaji imut seperti Qoory biasa dikenal dengan istilah “karjimut”.
Hal serupa juga dirasakan Yayak, pemuda asal Jogja yang merantau untuk kuliah di Jakarta. Zaman SMA dulu, sebelum ia merantau ke Jakarta, tongkrongannya adalah burjo atau warmindo. Bersama teman-temannya, Yayak bisa menghabiskan waktu berjam-jam sampai larut malam tanpa harus mengeluarkan uang lebih dari Rp20 ribu seperti saat nongkrong di kafe.
“Nggak bisa dipungkiri, burjo tuh murah dan enak buat nongkrong,” kata Yayak yang merindukan masa SMA.
“Tapi waktu pindah ke Jakarta, aku jarang menemukan burjo atau warmindo yang vibes-nya seperti di Jogja. Kirain waktu aku kuliah suasananya bakal mirip-mirip, tapi ternyata beda banget,” lanjut Yayak.
Menurut Yayak, ketimbang burjo, warung kopi (warkop) lebih banyak menjamur di Jakarta tapi sulit mencari warkop yang menjual nasi atau burjoan. Ada pun mi instan dengan harga yang mahal.
“Akhirnya, aku jarang ke warkop pas kuliah di Jakarta,” ucapnya.
Yayak pun sadar, sebagai mahasiswa yang menunggu kiriman dari orang tuanya di Jogja, hidup di Jakarta memang harus berhemat. Begitu pula Qoory yang mendapat penghasilan tetap di Jakarta. Meski gajinya terbilang lebih besar dari UMP Jawa Tengah maupun DIY, kebutuhan hidup di Jakarta nyatanya tidak murah.
Pada akhirnya, mereka mungkin menemukan kesuksesan di Jakarta, tapi dari burjo Jogja-lah, keduanya menemukan cara untuk bertahan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Burjo di Sekitar UNY Menyelamatkan Hidup Mahasiswa Semester Tua yang Terancam DO dan Tak Sanggup Bayar UKT atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














