Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

Endang Susanti oleh Endang Susanti
5 Juni 2026
A A
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Ilustrasi Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Penulis akhirnya menyadari, menjadi ibu rumah tangga yang bekerja tanpa slip gaji, bisa bikin negara goyah!

Kalau hidup ini film, saya rasa genre-nya campur-campur: sedikit drama, banyak komedi, kadang juga thriller—terutama pas anak tiba-tiba diam. Itu mencurigakan.

Iklan

Dulu, saya termasuk orang yang percaya penuh kalau sekolah tinggi itu semacam tiket VIP menuju hidup mapan. Bayangannya sederhana: lulus, kerja kantoran, pakai baju rapi, punya gaji tetap, lalu—ini yang paling penting—dianggap “jadi orang”.
Hidup, seperti biasa, punya selera humor yang agak unik, bahkan cenderung hobi nge-prank dan sering berjalan di luar rencana.

Kuliah yang tak selesai dan sisa jarum di ujung jari

Saya pernah kuliah, tapi tidak selesai. Bukan karena malas (ini penting digarisbawahi, demi menjaga nama baik di hadapan para pejuang rebahan), tapi karena realita tidak seindah brosur kampus.

Saya masuk kuliah di STT Tekstil jurusan Manufaktur Pakaian Jadi. Masalahnya, teman-teman saya sudah jago menjahit sejak SMK, sementara saya? Dari SMA umum dan baru pertama kali memegang mesin jahit. 

Mereka bikin baju seperti lagi main. Saya? Masang benang ke jarum saja kadang perlu waktu hening sejenak untuk merenungi hidup.

Pernah suatu kali, bukannya berhasil membuat sebuah baju, jarum mesin itu malah menembus jari saya… dan patah. Bukan cuma luka biasa, ujung jarumnya sempat tertinggal setengah di dalam jari.

Iya, di dalam.

Lucunya, sebelum ke IGD, saya sempat makan bakso dulu di sebelah kampus. Ya gimana ya… panik, tapi lapar juga.

Setelah itu baru saya ke IGD, berharap ada solusi cepat seperti di film-film. Tapi pas daftar, saya ditanya, “Mau apa?”

Saya jawab polos, “Mau cabut jarum.” Sambil mengangkat jari seperti sedang menunjukkan barang bukti.

Petugasnya bilang, “Maaf, sudah tutup. Dokternya tidak ada.”

Ya sudah… saya pulang saja. Naik angkot dengan kondisi jarum masih nangkring di jari. Perjalanan cukup lama dari rumah sakit ke rumah. Waktu itu saya masih polos banget.

Saya juga tinggal di rumah saudara, dan kebetulan lagi tidak ada orang di rumah.

Jadi saya mampir ke tetangga. Minta tolong, cabutin sisa jarum di jari saya.

Kalau diingat sekarang, rasanya antara ngilu dan ingin ketawa. Belajar menjahit versi saya waktu itu bukan lagi “pemula”, tapi sudah masuk kategori “bertahan hidup”. Untuk teori, saya masih bisa mengikuti. Tapi begitu praktik, rasanya seperti ikut lomba lari, dengan kaki orang lain.

Akhirnya saya mundur. Bukan kalah, ya. Cuma… ya sudah, mungkin bukan di situ tempat saya. Saya lanjut bekerja. Pelan-pelan berdamai dengan kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana awal.

Plot twist, saya akhirnya lulus kuliah!

Dan seperti biasa, hidup menyiapkan plot twist berikutnya. Sampai suatu hari, laki-laki yang sekarang jadi suami saya—yang dulu masih pacar—punya ide sederhana yang ternyata mengubah banyak hal: “Coba kuliah lagi, yuk.”

Iklan

Saya sempat curiga ini ajakan atau jebakan. Tapi karena waktu itu belum punya alasan kuat untuk menolak, ya sudah, saya coba lagi.

Saya akhirnya kuliah di kelas karyawan. Siang kerja, malam kuliah.

Capek? Jelas.

Mau menyerah? Sering.

Tapi kali ini saya bertahan.

Alhamdulillah, tiga tahun kemudian, saya lulus dengan IPK di atas 3—meski belum cumlaude, tapi cukup untuk membuktikan bahwa saya bisa menyelesaikan sesuatu tanpa drama jarum di jari.

Setelah itu hidup kembali terasa on track. Saya kembali bekerja, punya rutinitas, pakai baju rapi, ikut meeting, dan akhirnya resmi menjadi manusia yang dianggap produktif karena punya ID card. Sampai akhirnya menikah. Jadi ibu rumah tangga.

Dan seperti biasa, hidup tidak kehabisan cara untuk memberi kejutan.

Pendidikan tinggi kadang malah justru jadi hambatan cari kerja

Kami harus pindah. Bukan sekadar pindah biasa—lebih tepatnya bedol desa kecil-kecilan. Saya ikut suami ke rumah orang tuanya, karena bapak mertua saya sedang sakit dan tidak ada yang merawat.

Di situ, hidup rasanya berubah pelan-pelan. Sebagai ibu rumah tangga, rutinitas tidak lagi soal kerja dan target, tapi tentang merawat, menemani, dan belajar memahami kondisi yang tidak selalu mudah. Sampai akhirnya, bapak mertua saya meninggal. Dan tidak lama setelah itu, saya hamil.

Di titik itu, saya dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana. Mencari pekerjaan baru dalam kondisi hamil, jauh dari lingkungan lama, tanpa dukungan keluarga dekat, rasanya bukan keputusan yang realistis.

Saya sempat mencoba kembali bekerja. Ikut job fair, datang ke walk interview, berharap ada celah untuk masuk lagi ke dunia kerja.

Tapi di sana saya baru sadar, ijazah S1 saya agak kebingungan—karena lowongan yang tersedia kebanyakan minta SMA atau maksimal D3 saja.

Di situ saya paham, kadang bukan kita yang tidak cukup—memang tempatnya saja belum membutuhkan sejauh itu. Dan yang lebih menarik lagi, di beberapa titik, pendidikan tinggi bukan selalu jadi nilai tambah, kadang justru jadi bahan pertimbangan untuk menyesuaikan ekspektasi, termasuk soal angka di slip gaji.

Sekolah tinggi-tinggi, kok di rumah saja jadi ibu rumah tangga

Akhirnya saya memilih profesi dengan jam kerja 24 jam, tanpa cuti, tanpa THR pribadi, dan ironisnya masih sering dianggap “tidak bekerja”: menjadi ibu rumah tangga.

Sejak saat itu, saya mulai akrab dengan kalimat, “Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya cuma di rumah saja?”

Dulu, kalimat itu sempat bikin saya ragu. Seolah-olah ilmu cuma dianggap berguna kalau dipakai sambil mengenakan ID card dan presensi fingerprint. Padahal sekarang saya justru sadar: ilmunya tidak hilang, hanya bentuk pekerjaannya yang berubah.

Dulu saya memakainya untuk menghadapi dosen dan target kantor. Sekarang untuk mendampingi anak belajar, memahami emosi, menjaga kesehatan keluarga, dan mengambil keputusan-keputusan kecil yang diam-diam menentukan jalannya rumah setiap hari.

Saya mengatur makanan yang ternyata bukan sekadar soal kenyang, tapi juga soal gizi dan kesehatan.

Saya menghadapi drama anak yang alurnya kadang lebih kompleks dari sinetron panjang yang tidak tamat-tamat.

Ternyata, rumah juga penuh pekerjaan yang diam-diam butuh banyak ilmu.

Karena tidak ada jabatan dan slip gaji, pekerjaan ibu rumah tangga sering dianggap sekadar rutinitas biasa.

Negara goyah tanpa ibu rumah tangga

Padahal coba saja ibu-ibu rumah tangga berhenti kerja tiga hari. Negara ini bisa goyah.

Coba bayangkan jika seluruh ibu rumah tangga di Indonesia berhenti bekerja selama tiga hari saja. Tidak ada yang menyiapkan sarapan, mengantar anak sekolah, mengurus balita, merawat orang tua yang sakit, mengatur kebutuhan rumah, atau memastikan anggota keluarga bisa berangkat bekerja dengan tenang. 

Jutaan pekerja akan terlambat masuk kantor karena harus menggantikan pekerjaan yang selama ini dianggap “biasa”. Anak-anak kehilangan pendampingan, lansia kehilangan perawatan, dan ritme kehidupan keluarga menjadi kacau. 

Dalam waktu singkat, produktivitas ikut menurun, layanan publik terganggu, dan roda ekonomi melambat. Kita sering mengira negara ditopang oleh gedung-gedung pemerintahan dan rapat para pejabat, padahal fondasinya berdiri di atas jutaan keluarga yang berfungsi dengan baik. 

Dan di dalam banyak keluarga itu, ada ibu rumah tangga yang setiap hari bekerja dalam sunyi agar negara tetap berjalan tanpa terasa sedang ditopang.

Sebagai ibu rumah tangga, setiap hari saya mengerjakan proyek jangka panjang bernama “membentuk manusia”—bukan sekadar membesarkan anak, tapi juga membentuk cara mereka berpikir, merasakan, dan memahami dunia.

Dan ini bukan pekerjaan yang bisa diulang kalau salah. Tidak ada revisi. Tidak ada kesempatan “coba lagi tahun depan”.

Dulu saya sempat berpikir bahwa keputusan saya adalah langkah mundur. Sekarang saya tahu, itu tidak sepenuhnya benar. Ini hanya jalan yang berbeda. Menjadi ibu bukan berarti berhenti menjadi seseorang yang berilmu. Justru di rumah, ilmu itu bekerja dengan cara yang lebih sunyi—tapi juga lebih dalam.

Tidak ada rapat.

Tidak ada presentasi.

Tidak ada tepuk tangan.

Tapi setiap hari, ada proses yang berjalan:

Mengajarkan nilai.

Mengenalkan dunia.

Membentuk masa depan.

Jadi kalau sekarang ada yang bilang, “Percuma sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya di rumah,” saya mungkin cuma akan tersenyum.

Di saat banyak orang sibuk membangun personal branding, ibu rumah tangga justru sibuk membangun manusia sungguhan. Dari rumah yang kelihatannya biasa saja itu, ada pekerjaan sunyi yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian.

Lucu ya. Banyak orang percaya masa depan bangsa ditentukan pendidikan, tapi masih bingung menghargai orang yang tiap hari membesarkan anak-anak yang kelak justru menentukan arah bangsa yang mereka ributkan hari ini.

Penulis: Endang Susanti
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Mau Jadi Ibu Rumah Tangga atau Ibu yang Bekerja itu Pilihan yang Sama Baik dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Terakhir diperbarui pada 5 Juni 2026 oleh

Tags: esaiibuibu rumah tanggakeluarganegara
Endang Susanti

Endang Susanti

Endang Susanti (Mamak Bersuara) adalah ibu rumah tangga yang aktif menulis tentang isu sosial, pendidikan, lingkungan, dan kebijakan publik dari sudut pandang keluarga dan pengalaman keseharian.

Artikel Terkait

ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru MOJOK.CO

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru

29 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Final Essay Contest Beswan Djarum: Dorong Mahasiswa Berpikir Kritis dan Tawarkan Solusi Isu Sosial MOJOK.CO

Final Essay Contest Beswan Djarum: Dorong Mahasiswa Berpikir Kritis dan Tawarkan Solusi Isu Sosial

25 Juni 2026
Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet.MOJOK.CO

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet

25 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.