Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mau Jadi Ibu Rumah Tangga atau Ibu yang Bekerja itu Pilihan yang Sama Baik

Nia Perdhani oleh Nia Perdhani
15 Februari 2018
A A
ibu yang bekerja
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – “Wahai working mom dan mom yang di rumah, jangan sampai tertekan karena salah memilih role model.”

Dua hari berturut-turut saya ketemu dua pendapat senada dari dua tokoh parenting ternama di medsos yang intinya ngomong, ibu di rumah lebih baik daripada ibu bekerja.

Iklan

Bhaique. Mari kita ikut ramaikan.

Sebel saya sih. Kok kenapa ya dibandinginnya begitu? Dikira apa kalo sudah jadi mbegogok di rumah, mom kayak saya sudah nggak ada potensi untuk mengabaikan anak?

Ya ada aja sih, Buuu. Misalnya kalo mboknya nyetatus 22 kali, nge-like status orang 50 kali, nge-like komen orang 100 kali, dan mbales komen 130 kali, niscaya dia akan kecolongan pas anaknya numpahin tepung dan gula pasir di lantai, atau sedang ngunyah upilnya sendiri, atau ngemut eek cicak hasil nemu di kolong meja.

Mengabaikan tugas itu bisa terjadi pada ibu yang selalu di rumah maupun yang bekerja di luar rumah. Sebagaimana efisien serta berkomitmen tinggi terhadap urusan rumah, meskipun memang lebih mudah dilakukan ibu yang selalu di rumah, tapi bukan hal yang tidak mungkin juga bagi ibu bekerja.

Saya punya teman, working mom dengan tiga anak. Dia tak pernah absen memandikan anak-anaknya di pagi dan sore hari serta membuat menu MPASI dengan tangannya sendiri. Dibuatnya menu untuk seminggu ketika weekend, kemudian dibekukan. Pas waktu makan, bagian pengasuh adalah menghangatkan dan menyuapkan.

Teman yang lain, working mom juga, punya stok ASI se-kulkas dan se-freezer, selalu sempat membacakan buku di malam hari meskipun kakinya njarem habis ngejar kereta. Para working mom ini bangun jauh lebih pagi dari saya untuk menyiapkan segala kebutuhan mereka dan anak-anak. Pulang kerja mereka masih menyempatkan diri mengurus dan mengasuh anak-anak.

Mereka efisien karena hanya punya sedikit waktu. Nggak kayak saya yang kerja di rumah. Ke pasar aja sejam. Mikirin mau masak apa sejam. Masaknya dua jam. Cuci piring, wajan, ompreng, sejam. Dan ketika anak ditanya, Ibu masak ini, mau makan nggak? Si anak menjawab, ada yang lain nggak? Lalu si Ibu merasa ingin menangis dan raup pake minyak jelantah.

Orang suka bicara tentang yang ideal-ideal. Gambaran wanita ideal ahli surga, misalnya, adalah seorang istri yang selalu menjaga dan merawat diri, seorang ibu yang lemah lembut dan siap sedia kapan pun anak dan suami membutuhkan, mengurus segala urusan anak dan suami dengan tangan sendiri, tidak pernah marah, tidak pernah ngomel. Apalagi jika sukses menjadi praktisi homeschooling untuk anak-anaknya. Sempurna.

Sempurna untuk orang lain tapi ketika kau mau jadi seperti itu, eh ternyata kau malah jadi… gila. Kan yha gimana.

“Hlaaa, tapi kata ustadz, kewajiban istri adalah di rumah, Mbak. Kewajiban suami adalah mencari nafkah. Kalau kita mengkhawatirkan rejeki suami tidak cukup, justru itu yang Allah akan kabulkan. Kita sudah dikodratkan untuk menjadi madrasah bagi anak-anak.”

Baiklah, beta tidak ingin mendebat ustadz njenengan, Bu, karena sungguh menyadari beta hanya remah-remah karak sisa pakan ayam. Tapi, Bu, jika engkau mau membuka hati, akan kau temukan pula ustadz dan ustadzah yang memiliki pandangan berbeda. Pasti. Coba aja kalo nggak percaya. Tinggal njenengan mau apa nggak percaya sama yang lainnya. Gitu aja.

Harusnya, fokusnya adalah pada bagaimana para ibu bisa berdansa penuh harmoni dengan kondisi masing-masing. Makanya, kalo working mom butuh role model, ya jangan mom rumahan yang dijadikan contoh. Nanti malah jadi merasa hyna dan zetres melanda. Coba cari role model dengan keadaan yang tidak terlalu berbeda. Adaaa, pasti ada. Kalau di medsos nggak ada, di dunia nyata pasti banyak. Kadang permata itu bukan mereka yang pandai menulis dan sibuk mengisi seminar ke sana kemari loh, Bu. Bisa saja mereka justru ibu-ibu sederhana dan tak suka pamer kata di media sosial. Buka mata, buka hati.

Kadang kita tertipu dengan tampilan orang di media sosial. Ngeliat orang lain bisa selalu tampil bijaksana (dari tulisan-tulisannya) membuat kita merasa kecil hati dan merasa tiada hal yang patut dipuji dari diri ini. Padahal ya padahal, sungguh benar adanya bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Mereka yang bisa menuliskan kata-kata indah tentang hidupnya yang selalu terasa optimis, bahagia, enjoy, tenang… dalam kenyataannya yaaa nggak gityu-gityu amat kok, Buuu. Kurang lebihnya sama saja dengan kita merekatu.

Lebihnya banyakan mereka, kurangnya banyakan kita.

Oh ya. Abaikan kemungkinan ini.

Jadi, Bu, jangan berkecil hati ketika kau merasa seluruh dunia menghujatmu sebagai working mom. Itu pasti karena kamu salah gaul di media sosial. Saranku, buangin saja teman maya yang suka merongrong jiwa, dan sedia kerupuk cumi banyak-banyak. Tiap kali emosi bacain lini masa, gigit keras-keras si kerupuk cumi, kunyah kuat-kuat sampai terdengar bunyi krrriuuukkk krrriiiuuukkk. Nah, mungkin itu bisa meredakan amarahmu. Ketika setoples telah kosong, berarti tiba waktunya kau meletakkan hengpong dan kembali terjun ke medan joeang. Merdekhaaa!

Iklan

Dan wahai para stay-at-home-mom, kadang kita merasa sangat kecil hati karena meskipun seharian kita di rumah, tapi kok rasanya segala sesuatu tidak berjalan seperti kehidupan ibu anak dalam iklan bubur bayi di tivi. Jangan, Bu, jangan. Percayalah, yang ngapusi itu iklannya. Ya kali semua bayi berpantat dan pipi menul-menul itu nggak pernah rewel, ngamuk, atau sakit. Kan mbel sangad yha.

Satu hal yang sedang awak biasakan saat ini, ketika diri mulai merasa insekyur karena membandingkan pencapaian awak dengan rangorang lain, kemudian kecil hati dan minder, merasa hina dan tiada berguna melanda, awak ucapkan satu mantra sakti ini.

HAEEE JIWA YANG SEDANG GALAU, SETIAP MANUSIA PUNYA MEDAN TEMPURNYA MASING-MASING. TETAP FOKUS DENGAN MEDAN TEMPURMU SENDIRI.

Karena kita punya medan tempur masing-masing, maka jangan pernah jadikan apa yang tampak sukses dari orang lain sebagai standar kesuksesan kita. Syukuri saja apa yang kau miliki dan rawat sebaik-baik kau bisa. (Kalimat terakhir dicolong dari kuwot Pak IAD, juragan jati dan kelengkeng sukses).

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2019 oleh

Tags: anakibu kantoranibu rumah tanggaidealparentingworking mom
Nia Perdhani

Nia Perdhani

Owner Sambel Botol Rumahan "HoT" yang hobi curhat dan sambat di sosmed.

Artikel Terkait

Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

11 Mei 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kebiasaan sederhana penjaga warung madura yang bikin respek pembeli MOJOK.CO

Kebiasaan Sederhana Penjaga Warung Madura tapi Bikin Saya Respek Besar

27 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.