MOJOK.CO – Saya dulu terlalu meremehkan motor Yamaha Xabre. Tapi kini, saya malah keracunan dan rasa ingin memilikinya semakin besar.
Satu tempat yang bisa menjadi barometer kondisi dompet orang kantor, menurut saya jawabannya bukan kantin, melainkan parkiran. Dari sana kita bisa menebak siapa yang baru gajian, baru menikah, sampai siapa yang diam-diam sedang keranjingan berburu kendaraan bekas.
Teman kantor saya termasuk golongan terakhir.
Sudah beberapa kali dia datang membawa kendaraan yang tidak pernah saya duga. Hari ini naik motor matik, beberapa bulan kemudian berganti motor sport lawas, lalu entah dari mana muncul lagi kendaraan lain yang kondisinya justru lebih bagus.
Tipe orang seperti ini berbahaya. Sekali Anda bertanya soal harga, biasanya malam harinya Anda akan terpengaruh dan sudah sibuk membuka marketplace.
Itulah yang terjadi ketika saya melihat sebuah Yamaha Xabre terparkir di dekat pintu masuk kantor.
Motor itu masih terlihat proporsional meski usianya sudah sekitar 10 tahun. Dari kejauhan, suspensi depannya langsung mencolok. Lengan ayunnya juga masih terlihat keren. Kalau tidak tahu tahun produksinya, orang mungkin mengira motor itu jauh lebih muda daripada usia sebenarnya.
“Baru beli?” tanya saya.
“Iya.”
“Berapa?”
“Rp10 juta.”
Percakapan selesai dalam hitungan detik. Masalahnya, kepala saya justru mulai bekerja lebih lama.
Sepuluh juta?
Dulu, banyak orang menganggap Yamaha Xabre itu motor mahal. Tapi sekarang, harganya bahkan tidak sampai sepertiga harga skutik premium baru. Rasanya aneh, tetapi sekaligus masuk akal.
Yamaha terlalu percaya diri membawa Yamaha Xabre ke Indonesia
Ketika Yamaha memperkenalkan Yamaha Xabre pada 2016, suasananya benar-benar meriah. Bahkan Valentino Rossi ikut hadir sebagai wajah peluncurannya.
Sulit membayangkan Yamaha mengeluarkan tenaga sebesar itu kalau mereka tidak percaya diri dengan produknya. Melihat motornya, rasa percaya diri itu memang punya alasan.
Di kelas 150 cc, Yamaha Xabre tampil berbeda. Suspensi depan upside down membuat tampilannya lebih gagah. Rangka deltabox memberi kesan kokoh, sementara banana arm membuat bagian belakangnya terlihat lebih berisi ketimbang banyak rivalnya pada masa itu.
Yah, kalau sekadar untuk nampang di tempat parkir, Yamaha Xabre menang banyak. Tapi, kamu beli motor nggak cuma buat nampang di tempat parkir, kan?
Begitu mencobanya, barulah saya sadar kalau Yamaha Xabre bukan motor yang berusaha menyenangkan semua orang. Posisi duduknya agak tinggi, setangnya lebar, sementara pijakan kakinya sedikit lebih ke belakang kalau saya membandingkannya dengan Vixion.
Buat yang memang suka motor naked bergaya streetfighter, karakter seperti ini justru menyenangkan. Namun, bagi kebanyakan orang Indonesia yang memakai motor untuk kerja, mengantar anak sekolah, belanja ke pasar, sampai sesekali membawa pasangan jalan-jalan, Yamaha Xabre terasa meminta sedikit kompromi.
Saya paling sering mendengar komentar soal jok belakang Yamaha Xabre. Rasanya hampir tidak ada pembahasan soal Xabre yang lolos tanpa menyinggung bagian ini.
Bentuknya kecil, tipis, dan posisinya cukup tinggi. Penumpang mungkin masih bisa tersenyum kalau perjalanan cuma beberapa kilometer. Begitu jaraknya mulai belasan kilometer, senyum itu biasanya berubah menjadi permintaan, “Lain kali bawa motor yang satunya saja.”
Motor Yamaha kok semahal ini
Belum selesai sampai di situ, Yamaha juga pasang harga yang bikin orang malas. Saat meluncur pada 2016, harga motor Yamaha Xabre berada di kisaran Rp29 jutaan OTR Jakarta.
Nominal itu memang sebanding sama isian motor Yamaha ini. Misalnya yang saya sebut di atas kayak suspensi upside down, rangka deltabox, dan banana arm. Kamu harus tahu kalau mereka ini bukan komponen murahan.
Masalahnya, konsumen Indonesia sejak dulu punya kebiasaan menghitung dengan kalkulator yang sangat sederhana.
“Kalau mau yang nyaman, ada Vixion.”
“Kalau sekalian mau tampil sporty, tambah sedikit dapat R15.”
Yang berubah bukan motornya, melainkan cara orang menilainya
Lucunya, semua keberatan itu perlahan memudar ketika harga bekasnya terus turun. Kalau sekarang ada motor Yamaha Xabre dengan kondisi sehat di kisaran Rp10 jutaan, cara menghitungnya otomatis berubah.
Misal, dulu, banyak orang memandang upside down sekadar pemanis. Kini, menjadi bonus menarik.
Banana arm, dulu tidak cukup kuat menarik pembeli. Kini, ia justru membuat motor ini masih tampak modern ketika kamu parkir di samping motor keluaran baru.
Lalu, hal yang paling saya sukai justru ada di balik bodinya. Jadi, mesin Yamaha Xabre memakai basis yang sama dengan keluarga Vixion.
Artinya, banyak mekanik sudah mengenal karakter mesinnya. Mencari suku cadang juga tidak sesulit membeli motor-motor yang populasinya sedikit. Buat pemburu motor bekas, ini nilai yang sering kali lebih penting daripada tambahan fitur.
Teman kantor saya bahkan mengaku alasan utama membeli Xabre bukan karena tampilannya.
“Perawatan mesinnya itu gampang,” katanya singkat.
Jawaban itu terdengar membosankan, tetapi justru masuk akal. Motor harian yang perawatannya mudah itu lebih menyenangkan daripada motor keren yang membuat pemiliknya sibuk mencari onderdil setiap kali ada komponen aus.
Ketika harga motor baru terus naik, motor yang dulu saya remehkan kayak Yamaha Xabre malah terlihat menarik
Beberapa hari setelah obrolan itu, saya iseng melihat harga motor baru. Begitulah saya jadi “teracuni” setelah tahu harga bekas Yamaha Xabre.
NMAX, PCX, dan Aerox sekarang sudah bermain di kisaran Rp30 juta sampai lebih dari Rp40 jutaan, tergantung tipe dan variannya. Angka itu memang sepadan dengan teknologi dan fitur, tetapi tetap saja membuat banyak orang harus berpikir dua kali sebelum membeli.
Di sisi lain, ada Yamaha Xabre bekas yang bisa kamu pulang dengan sekitar Rp10 juta. Iya, kita nggak bisa membandingkannya secara langsung. Yang satu skutik modern dengan kenyamanan tinggi, yang satu motor sport bergaya naked. Pembelinya pun belum tentu sama.
Namun, sebagai orang yang sesekali suka melirik pasar motor bekas, saya mulai paham mengapa Yamaha Xabre perlahan mendapat penggemar baru.
Sulit rasanya mengeluhkan jok belakang atau ergonomi ketika motor ini sekarang bisa kamu dengan harga sekitar Rp10 juta. Di angka itu, orang mulai melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Mungkin memang ada motor yang baru menemukan waktu terbaiknya setelah berhenti diproduksi. Ketika masih berada di showroom, Yamaha Xabre kalah telak oleh banyak pertimbangan. Mulai dari harga, kenyamanan, sampai pilihan lain yang terasa lebih masuk akal.
Namun, begitu usianya lewat satu dekade dan harga bekasnya menyentuh angka yang jauh lebih bersahabat, semua hitung-hitungan itu berubah. Saya sendiri baru menyadari hal tersebut setelah teman kantor menjawab pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana.
“Sepuluh juta.”
Entah kenapa, sejak mendengar jawaban itu, saya jadi beberapa kali membuka marketplace hanya untuk melihat-lihat Yamaha Xabre bekas. Niatnya memang cuma iseng.
Tapi kita semua tahu, hampir semua keputusan membeli motor bekas selalu diawali dari kalimat, “Cuma lihat-lihat dulu.”
Penulis: Alan Kurniawan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Vixion R, Tamat Riwayatmu Kini: Ketika Motor Terbaik Yamaha Mati karena Perubahan Zaman dan pengalaman menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.














