Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
14 Juli 2026
A A
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Ilustrasi Mie Gacoan. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi banyak anak muda desa, bisa makan Mie Gacoan adalah kemewahan. Mereka bahkan rela motoran dua jam, berpanas-panasan, bertarung melawan kemacetan, demi mencicipi sensasi mie pedas tersebut.

***

Iklan

Malam itu, saya dan teman-teman kos sedang asyik menonton pertandingan Piala Dunia 2026. Di tengah serunya tontonan, perut mulai keroncongan. Seperti biasa, kami pun membuka aplikasi pesan antar makanan di handphone dan mulai berdebat mau makan apa.

“Pesan Mie Gacoan aja, gimana?” usul saya santai.

Dengan kompak, teman-teman saya menjawab: “Bosan!”

Saya cuma bisa tersenyum tipis mendengar jawaban mereka. Wajar saja, buat anak kos yang hidup di kota besar, kedai mi pedas itu memang ada di mana-mana. Tinggal pencet layar HP, tunggu dua puluh menit, abang ojol sudah sampai di depan kos membawa pesanan.

Namun, bagi saya, kata itu langsung mengingatkan pada kampung halaman, sebuah desa terpencil di kawasan paling tenggara Kabupaten Wonogiri.

Di sana, boro-boro bosan. Untuk sekadar makan seporsi Mie Gacoan saja, orang harus rela naik motor berjam-jam menyeberang ke Kota Jogja.

Anak desa kebelet nyicip kuliner viral

Penolakan dari teman-teman kos tadi melempar ingatan saya ke momen mudik Lebaran beberapa bulan yang lalu. Waktu itu, suasana siang hari di sekitar rumah saya terasa agak aneh.

Lingkungan sangat sepi. Tumben-tumbenan tidak ada gerombolan anak muda belasan tahun yang biasanya nongkrong di pinggir jalan, atau sekadar wara-wiri pakai motor saat hari libur.

“Pada ke mana sih ini bocah-bocah?” tanya saya ke adik.

Adik saya menjawab enteng, “Lagi pada motoran ke Jogja, Mas. Mau beli Mie Gacoan.”

Saya agak kaget. Desa kami memang cukup jauh dari hiruk-pikuk “kuliner viral” yang tiap hari lewat di layar TikTok. Selama ini, anak-anak SMP dan SMA di kampung cuma bisa menelan ludah. Mereka hanya bisa melihat bentuk dan membayangkan rasa makanan kekinian itu dari video pendek di HP.

Nah, barangkali mumpung libur Lebaran, dan kebetulan kantong lagi lumayan tebal karena dapat uang sangu atau THR, kesempatan ini akhirnya dipakai untuk memuaskan rasa penasaran mereka.

Rombongan 12 orang boncengan demi Mie Gacoan

Malam harinya, gerombolan anak muda itu akhirnya pulang. Karena penasaran, saya langsung mengajak mereka ngobrol di teras rumah. Cerita yang keluar dari mulut salah satu anak benar-benar bikin geleng-geleng kepala. Lucu, dan sangat polos.

Mereka cerita, rombongan tadi berangkat beramai-ramai. Total ada 12 orang yang boncengan pakai enam sepeda motor. Perjalanan menembus aspal dari ujung Wonogiri ke Jogja itu memakan waktu lebih dari dua jam.

Waktunya bahkan bisa makin lama karena mereka sempat terjebak macet parah di jalanan menanjak kawasan wisata Bukit Bintang.

Alasan mereka jauh-jauh ke sana sebenarnya cuma satu: FOMO sama rasa Mie Gacoan! Mereka mengaku sudah capek cuma jadi penonton di TikTok.

Iklan

Dari 12 anak yang ikut rombongan motoran itu, ternyata baru dua orang yang pernah makan mi pedas tersebut. Itu pun bukan makan langsung di warungnya, melainkan lewat jastip atau jasa titipan dari teman sekolah yang kebetulan sedang main ke kota.

Bisa dibayangkan betapa semangatnya mereka saat akhirnya sampai di kedai dan ikut antre panjang seperti orang-orang di video TikTok.

Mulut tersiksa, tapi ada rasa puas dan bangga

Namun, di sinilah letak lucunya. Karena merasa sudah berjuang jauh-jauh naik motor, menahan pegal punggung, dan menembus debu jalanan, mereka tidak mau rugi. Pantang buat mereka memesan menu yang rasanya “tanggung”.

Si anak ini cerita, alih-alih memesan level pedas yang wajar, mereka malah menantang diri. Rata-rata dari mereka memesan mi di level enam sampai level delapan. Tingkat kepedasan yang jelas menyiksa perut dan mulut yang tidak terbiasa makan super pedas.

Hasilnya sudah bisa ditebak. Makanan viral yang diidam-idamkan sejak dari desa itu malah bikin mereka merana. Mereka tidak bisa menikmati rasanya sama sekali. Mulut kepanasan, barangkali bibir jontor, sampai telinga rasanya sakit dan berdengung.

Ujung-ujungnya, mereka lebih banyak minum es teh daripada mengunyah Mie Gacoan. Perut mereka kenyang gara-gara kebanyakan air, bukan karena makanan yang sudah mereka kejar selama dua jam penuh itu.

Anehnya, saat menceritakan rentetan penderitaan itu ke saya, tidak ada wajah menyesal sama sekali. Mereka pulang membawa sensasi mulut yang tersiksa, tapi dada mereka membusung bangga.

Bagi mereka, rasa penasaran itu sudah lunas. Mereka sekarang punya bahan cerita seru untuk dipamerkan waktu kumpul di sekolah nanti. Ini adalah bukti sah bahwa mereka sudah pernah mencoba tren makanan orang kota, walaupun bayarannya lidah mati rasa dan perut kembung.

Mendengar tawa si anak malam itu, dan mengingat lagi ucapan “bosan” dari teman-teman kos saya, saya sadar satu hal. Di tengah zaman internet yang serba cepat ini, kebahagiaan anak muda di desa ternyata masih sangat sederhana.

Ya, kebahagiaan itu sesederhana rela menahan pegal duduk di jok motor selama dua jam, demi sepiring mi pedas yang menyiksa mulut. Apa yang di kota besar sudah dianggap sangat membosankan, ternyata masih menjadi perjalanan yang mewah, menantang, dan tak terlupakan buat anak-anak di sudut desa.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Orang Desa Pertama Kali Makan di Mie Gacoan: Demi Viral Malah Berujung Malu Perkara QRIS dan Sumpit atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 14 Juli 2026 oleh

Tags: anak muda desaMie Gacoanmie gacoan di jogjamie pedasmie setanorang desapilihan redaksirasa mie gacoanreview mie gacoanwonogiri
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.