UIN Jogja mengungguli UGM di peringkat internasional, karena memang PTKIN ini dianggap memiliki ekosistem intelektual lebih baik dari PTKIN Islam sejenis.
Itu adalah respons beberapa teman alumni, mahasiswa S1, serta teman S2 di UIN Sunan Kalijaga (UIN SUKA) saat saya membawa obrolan perihal peringkat UIN Jogja yang berada di atas UGM kepada mereka.
Untuk diketahui, pada 30 September 2026, Times Higher Education World University Ranking (THE WUR) merilis pemeringkatan universitas terbaik di Indonesia edisi 2027. THE WUR menilai universitas-universitas yang berfokus pada riset di seluruh misi intinya: pengajaran, penelitian, transfer pengetahuan, dan pandangan internasional.
Lima besar universitas di Indonesia yang masuk pemeringkatan terbaik antara lain:
- Universitas Indonesia (UI) masuk di peringkat 651-700 B
- UIN Sunan Kalijaga (UIN SUKA) masuk di peringkat 801-1.000
- Universitas Gadjah Mada (UGM) masuk di peringkat 801-1.000
- Universitas Padjadjaran (Unpad) masuk di peringkat 1.001-1.200
- Universitas Sebelas Maret (UNS) masuk peringkat 1.001-1.200
THE WUR memberi bobot riset UIN SUKA sebesar 30% yang terbesar di antara lima pilar: dampak sitasi, kekuatan, keunggulan, dan pengaruh riset. UIN SUKA mendapat skor 82,8 dari 100, UI mengantongi skor 44,7, sedangkan UGM memperoleh skor 36,3.
Intermezzo: karena UIN SUKA Jogja punya Fahruddin Faiz
Reaksi mahasiswa UIN Jogja di media sosial beragam. Ada yang keheranan dengan tanda tanya: Kok bisa ya (UIN SUKA secara pemeringkatan urutannya di atas UGM)?
Tetapi kalau di lingkaran alumni dan mahasiswa UIN Jogja yang saya ajak berbincang (empat orang laki-laki), mereka justru menyebut posisi pemeringkatan tersebut memang sudah selayaknya. Memang dengan nada setengah bercanda, tapi mereka serius soal ini.
“Karena kami punya sosok seperti Pak Faiz (Fahruddin Faiz) hahaha,” kata mereka.
Memang sosok Fahruddin Faiz menjadi salah satu tokoh dari UIN Jogja yang beberapa tahun belakangan tengah banyak didengar. Melalui Ngaji Filsafat hingga sejumlah podcast, ceramah-ceramahnya banyak menjadi rujukan, entah untuk keperluan intelektual maupun spiritual.
Bagi mereka, Fahruddin Faiz adalah satu contoh representasi tradisi keilmuan yang mengakar di lingkungan akademik UIN Jogja perihal keterbukaan pemikiran yang dideskripsikan sebagai atmosfer akademik yang toleran, moderat, serta inklusif terhadap berbagai diskursus filosofis maupun keagamaan.
Dosen UIN SUKA Jogja tidak dogmatis, memantik mahasiswa berpikir kritis
Tetapi tentu ketokohan Fahruddin Faiz tersebut adalah bagian intermezzo saja dalam obrolan kami.
Lebih dari itu, teman-teman UIN Jogja tersebut mengamini betapa terbukanya UIN Jogja terhadap beragam diskursus keilmuan. Hal itu ditunjang oleh para dosen yang tidak memiliki kecenderungan dogmatis.
Memang, tidak dimungkiri bahwa ada saja dosen yang membuat ruang kelas menjadi tidak asyik, kaku, bahkan suka ilang-ilangan (terkesan tidak serius mengajar). Tapi tidak sedikit kok dosen yang membuat diskusi di kelas menjadi lebih hidup.
Dosen model seperti itu jelas sangat disukai. Dengan metode pengajaran yang interaktif dan tidak dogmatis, mahasiswa di kelas akhirnya tidak takut-takut untuk menumpahkan isi kepala mereka yang tengah berada di masa pubertas intelektual.
Sejauh persinggungan mereka dengan mahasiswa dari UIN, bagi mereka, relatif hanya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang punya iklim serupa.
Sementara UIN lain—terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah—cenderung didominasi dosen-dosen yang dogmatis, sedikit-sedikit membawa dalil agama sebagai batasan berpikir. Alhasil, ruang untuk mengeksplorasi pikiran pun terbatas, mandek.
Saya mengamini karena pernah mengalaminya. Dulu, tiga semester saya harus bertemu dengan dua orang dosen dengan tipikal sangat dogmatis. Di beberapa titik bahkan cenderung mengarahkan kami untuk meyakini apa yang ia yakini, sementara apa yang kami yakni dianggap salah kaprah hanya karena berangkat dari manhaj yang berbeda.
Yang terjadi kemudian, saya dan banyak teman saya pasti malas-malasan untuk mengikuti mata kuliah dosen dengan tipikal tersebut. Kalau toh masuk, terutama di kalangan laki-laki, pasti memilih tempat-tempat yang ideal untuk tidur.
Situasi di UIN lain: pernah diusir karena dianggap berani terhadap “Bu Nyai”
Salah satu kejadian yang masih saya ingat adalah ketika melayangkan kritik terhadap seorang dosen perempuan yang bergelar Bu Nyai.
Saat itu, saya mengkritik metode pengajaran dosen Bu Nyai itu yang kerap melontarkan kalimat-kalimat menyakiti. Terkesan mendominasi mahasiswa di kelas dengan statusnya sebagai Bu Nyai.
Tidak pelak saya langsung diusir—dan di kemudian hari tidak lulus mata kuliahnya. Saya masih ingat betul kalimat persisnya saat Bu Nyai itu berdiri dengan wajah penuh amarah menunggui saya berkemas untuk meninggalkan kelas.
“Kualat kamu. Saya di pondok pesantren nggak ada yang berani mengkritik saya. Ini kamu mau sok pintar,” begitu ujarnya.
Diskusi mahasiswa yang hidup tanpa pandangan sinis
Teman-teman di UIN SUKA Jogja pun mengaku, ekosistem diskusi bisa dibilang sangat hidup. Tidak hanya di kelas, tapi juga di ruang-ruang lain seperti warung kopi.
Diskusi, yang mungkin terdengar muluk-muluk itu, menjadi makanan sehari-hari yang biasa saja. Kalau di lingkungan mahasiswa UIN Jogja sendiri, cenderung tidak ada reaksi sinis. Kalau pandangan sinisnya datang dari mahasiswa kampus lain di Jogja, ya itu persoalan lain.
Nah, berbeda dengan di UIN tempat saya kuliah dulu. Saya dulu punya sebuah komunitas kecil penikmat diskusi dan buku. Kami kerap mengadakan diskusi kecil-kecilan, baik di belakang kampus maupun di warung kopi.
Di kelas pun, kami kerap memantik diskusi agar presentasi di kelas tidak berlangsung menjemukan. Tapi kami kemudian mendapat cap sebagai orang-orang “sok yes” dan sok intelektual.
Tidak menormalisasi copy paste tugas kuliah
Setidaknya di jurusan saya sendiri, praktik copy paste saat mengerjakan tugas kuliah menjadi metode yang dinormalisasi. Paling hanya dibolak-balik agar tidak ketahuan saat diperiksa dosen.
Sering kok, saat saya selesai mengerjakan tugas tertentu, draft tugas saya lalu di-copas begitu saja oleh sejumlah teman. Diubah sedikit-sedikit sudah aman.
Makanya, seorang tetangga sekaligus teman dekat saya di kampung yang kemudian kuliah di UIN Jogja agak terheran-heran. Sebab, ia mengaku, untuk mengerjakan satu tugas makalah saja susahnya minta ampun karena ketat: revisa-revisi.
“Copas walaupun udah diubah-ubah, pasti dosennya tahu. Apalagi sekarang ada AI kan, ada yang teksnya ketahuan pakai AI, langsung kena. Dosennya nggak main-main buat ngecek otentisitas tugas mahasiswa walaupun cuma sekadar makalah,” begitu akunya.
Peringkat UIN SUKA Jogja vs UIN lain
Masih merujuk THE WUR 2027, jika dibandingkan UIN lain, UIN SUKA Jogja memang berada di posisi teratas:
- UIN Sunan Kalijaga masuk dalam peringkat 801-1.000
- UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki), Malang, dalam peringkat 1.201-1.400
- UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dalam peringkat 1.601-1.800.
Dalam versi Webometrics yang rilis pada Juli 2026 pun menempatkan UIN SUKA Jogja di urutan teratas. Pemeringkatan Webometrics didasarkan pada empat indikator utama, yakni Visibility, Openness, Excellence, dan Impact. Adapaun lima besar UIN terbaik di RI versi Webometrics edisi Juli 2026 yani:
- UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di urutan 22 ranking nasional dan 1.115 ranking dunia.
- UIN Sunan Gunung Djati Bandung di urutan 24 ranking nasional dan 1.166 ranking dunia.
- UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di urutan 41 ranking nasional dan 1.399 ranking dunia.
- UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di urutan 48 ranking nasional dan 1.471 ranking dunia.
- UIN Raden Intan Lampung di urutan 49 ranking nasional dan 1.487 ranking dunia.
Merespons pemeringkatan tersebut, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Noorhaidi Hasan menyebut, bahwa kini UIN Sunan Kalijaga telah mampu berdiri sejajar dengan universitas-universitas besar Indonesia dalam pemeringkatan internasional. Meski begitu, bagi Rektor UIN Jogja, ranking (reputasi internasional) adalah sarana, bukan tujuan akhir.
Di luar ranking, Prof Hasan menegaskan bahwa UIN Sunan Kalijaga terus berusaha membangun budaya akademik yang tidak hanya mengejar reputasi, tetapi juga menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. “Ranking memberi kita cermin untuk melihat posisi dan kualitas kita di tingkat global, tetapi tujuan yang lebih besar adalah menghadirkan pendidikan yang bermutu, penelitian yang berdampak, dan lulusan yang mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan kemanusiaan,” tutur Prof Hasan, mengutip Detik.
“Kami ingin menjadikan momentum THE WUR 2027 sebagai energi baru untuk terus meningkatkan mutu akademik, memperkuat riset dan inovasi, memperluas kolaborasi internasional, serta meningkatkan dampak sosial dari ilmu pengetahuan yang dihasilkan UIN Sunan Kalijaga,” tegasnya.
Jika kemudian ada obrolan soal “lulusan UIN tidak punya daya tawar skill di dunia kerja” sebagaimana yang pernah viral di Threads beberapa bulan lalu, nah ini jadi diskusi yang lain lagi.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kuliah di UIN Jadi Tahan Penderitaan Hidup: Kumpul Mahasiswa “Modal Iman” Terbiasa Mbambung dan Lapar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan