Ada ironi yang kian kentara dalam lanskap sosial-ekonomi Indonesia hari ini: kelompok masyarakat kelas menengah bawah justru terdorong untuk tampil konsumtif.
Gambaran ironi ini bisa ditemukan dalam banyak liputan Mojok. Demi tuntutan gaya hidup, standar sosial di tengah masyarakat, dan dorongan untuk terus mengikuti tren media sosial, banyak orang—yang sebenarnya pemasukannya pas-pasan—tapi tetap mengupayakan mengonsumsi hal-hal non-esensial atas nama gengsi.
Misalnya, tidak mau ketinggalan kalau ada gadget baru meski harganya mahal. Demi terlihat sukses harus sering-sering update motor baru. Dan hal-hal konsumtif non esensial lain. Bahkan, demi memenuhi standar sosial tersebut, ada juga yang sampai rela utang bank.
Konsumsi pada akhirnya bukan lagi soal kebutuhan, melainkan soal citra. Dalam istilah Sosiologi disebut dengan conspicuous consumption dan symbolic consumption (konsumsi demi aspirasi simbolik).
Mawas diri: fondasi ekonomi kelas menengah ke bawah tidak kuat untuk menopang gaya hidup sesuai standar atau tren media sosial
Merujuk data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah mencakup sekitar 66,35% populasi Indonesia. Pada 2024, mereka tercatat memiliki kontribusi konsumsi mencapai 81,49% dari total konsumsi nasional.
Artinya, denyut ekonomi Indonesia sangat bergantung pada perilaku belanja kelompok ini. Namun, di saat yang sama, struktur kelas ini justru sedang mengalami tekanan. Sebab, masalahnya, fondasi ekonomi kelompok kelas menengah bawah tidak cukup kuat untuk menopang gaya hidup yang berpatokan pada standar atau tren media sosial ala mereka.
Tidak hanya itu, merujuk Laporan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam Jumlah Kelas Menengah RI Turun, Minimnya Ketersediaan Lapangan Pekerjaan, menunjukkan bahwa sebagian besar kelas menengah Indonesia berada di lapisan bawah yang sangat rentan terhadap guncangan—seperti PHK, kenaikan biaya hidup, atau jeratan cicilan.
Dengan kata lain, kelompok ini benar-benar rawan jatuh ke kelompok rentan atau bahkan miskin.
Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…
Orang miskin sok niru gaya hidup orang kaya, padahal orang kaya justru menghindarinya, aneh!














