Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

Redaksi oleh Redaksi
1 Juni 2026
A A
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Ilustrasi siswa sekolah (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa waktu yang lalu, media sosial Threads diramaikan oleh postingan seseorang yang mencari perumahan one gate system di Kota Jogja. Kriterianya sangat spesifik: harus masuk zonasi SMPN 5 Yogyakarta dan SMAN 3 Yogyakarta. Dari isinya, hampir dipastikan pembuat utas adalah orang dari luar kota yang ingin anaknya menempuh pendidikan di sekolah favorit di Kota Pelajar.

Respons dari warga Jogja pun beragam. Mulai dari yang menginformasikan bahwa tidak ada perumahan kluster di kawasan elite tersebut, hingga berseloroh ada rumah dijual seharga Rp35 miliar di area sana. 

Ada pula yang berbaik hati membagikan tautan situs resmi untuk mengecek peta kelurahan secara presisi. Namun, informasi yang paling menohok bagi sang pendatang adalah kenyataan bahwa sistem zonasi di Jogja berbeda dari kota lain; aturan di sini tidak murni mendasarkan pada jarak terdekat rumah ke sekolah, melainkan tetap memperhitungkan nilai ujian lokal.

Pada utas yang lain, cerita dari para alumni sekolah Jogja justru mengonfirmasi bahwa urusan pendidikan di kota ini memiliki kompetisi yang luar biasa ketat. Ibarat drakor Sky Castle, perjalanan akademis seorang anak sejak SD hingga SMA tidak pernah lepas dari kepungan jadwal les. 

Rutinitas harian anak sekolah di Jogja kerap diisi dengan bimbingan belajar setelah bel pulang berbunyi, kelas tambahan dari sekolah, hingga les privat di malam hari. Bahkan di akhir pekan pun, waktu bermain diganti dengan kelas intensif persiapan ujian.

Saking ketatnya persaingan memperebutkan kursi sekolah impian, urusan informasi tempat les yang dinilai bagus pun kerap menjadi rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh sesama orang tua demi mengurangi saingan. Semua pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya ini dilakukan atas satu nama yang dikeramatkan: masa depan.

Jogja punya ASPD dan fenomena inden kursi sekolah sejak balita

Mencari sekolah di Jogja memang bukan sekadar perkara administratif biasa. Sejak pemerintah pusat resmi menghapus Ujian Nasional (UN), Daerah Istimewa Yogyakarta melahirkan ASPD (Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah). 

Instrumen ujian lokal mandiri inilah yang menjadi penentu akhir nasib para siswa. Nilai ASPD memegang porsi sangat besar dalam proses seleksi PPDB ke jenjang SMP dan SMA/SMK Negeri favorit. 

Bahkan pada jalur zonasi sekalipun, jika kuota daya tampung sekolah favorit penuh, sistem akan menyaring kembali para pendaftar menggunakan kombinasi nilai ASPD ini. Kebijakan inilah yang pada akhirnya memaksa ekosistem pendidikan di Jogja bertransformasi menjadi arena kompetisi nilai yang super ketat sejak usia dini.

Akibatnya, tak sedikit orang tua yang sudah merancang cetak biru pendidikan anak-anak mereka dengan sangat matang. Perburuan ini pun tidak lagi memonopoli sekolah negeri. Sekolah dasar swasta favorit ikut menjadi buruan utama untuk menyiapkan masa depan. 

Di salah satu SD swasta di Jogja, antrean pendaftaran calon peserta didik bahkan telah mencapai kuota inden hingga tahun ajaran 2032! Sebuah kenyataan absurd di mana seorang anak sudah dipastikan tempat sekolah dasarnya bahkan ketika ia baru belajar tengkurap.

Ambisi orang tua, pilihan anak, atau jebakan lingkungan untuk dapat sekolah favorit?

Orang tua yang ambis (ambisius) ini tentu tidak sepenuhnya salah. Mereka hanya menginginkan masa depan terbaik bagi anak-anaknya. 

Berada di lingkungan sekolah favorit (berkualitas) dipercaya memberikan jaminan masa depan yang lebih cerah. Banyak yang beralasan bahwa ambisi ini sejalan dengan keinginan anak itu sendiri. 

Sistem kompetitif di Jogja secara organik menyeret anak-anak untuk ikut berlari dalam ritme yang sama. Bagi anak-anak yang punya jiwa kompetitif, belajar keras hingga mengorbankan akhir pekan dianggap sebagai risiko logis demi meraih cita-cita menembus sekolah idaman. Sebelum nantinya melanjutkan estafet ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit atau universitas luar negeri.

Namun, tentu tidak semua orang tua dan pelajar di Jogja memilih masuk ke dalam pusaran arus yang melelahkan ini. Ada banyak juga orang tua yang justru karena pernah mengalami tekanan hebat saat bersekolah di sekolah favorit dulu, memilih jalan sebaliknya untuk anak-anak mereka. 

Mereka memilih membebaskan anak menentukan sekolah, sembari memberi ruang untuk mengembangkan aktivitas non-akademik. Begitu pula dengan beberapa pelajar yang memilih sekolah bukan demi gengsi nilai, melainkan karena ingin mengeksplorasi minat dan kemampuan lain yang lebih bisa mereka gali.

Pelajar jadi kelompok rentan kesehatan mental di Jogja 

Di balik ambisi prestasi yang menggebu-gebu itu, Jogja sebenarnya sedang menghadapi lampu kuning. Data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat ribuan kasus gangguan jiwa, di mana kelompok remaja menjadi sektor yang paling rentan, sejalan dengan tingginya prevalensi depresi nasional pada usia 15–24 tahun berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia. 

Tingginya tekanan akademik untuk menembus sekolah unggulan, minimnya dukungan emosional keluarga, serta intensnya fenomena self-comparison di media sosial menjadi pemicu utama yang pelan-pelan merontokkan resiliensi psikologis para pelajar.

Iklan

Kondisi stres kronis hingga depresi ini merefleksikan perlunya perubahan paradigma radikal dalam dunia pendidikan agar keberhasilan tidak lagi diukur melulu dari angka capaian akademis. Mengejar prestasi tentu bernilai positif, namun jika ruang belajar berubah menjadi inkubator tekanan yang menghancurkan masa depan psikologis anak, maka keseimbangan mental wajib dijadikan prioritas utama.

Menyadari tingginya tekanan tersebut, Kota Yogyakarta sebenarnya telah mulai melakukan langkah antisipasi melalui Pilot Project Sekolah Sehat Jiwa (SSJ) yang digagas Dinas Kesehatan untuk pencegahan dini gangguan jiwa di lingkungan sekolah. Namun, lingkungan keluarga juga peran penting dalam hal psikologis anak.

Bulan Mei-Juni adalah waktu sibuk orang tua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya di Jogja. Apapun pilihan sekolahnya, orang tua harus melihat dan mengenali batas kemampuan buah hatinya. Jangan sampai masa depan yang diidam-idamkan, justru runtuh menjadi bumerang yang menghancurkan jiwa anak itu sendiri. (*)

 

Terakhir diperbarui pada 1 Juni 2026 oleh

Tags: Kota PelajarPendidikansekolah favorittajuk
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras MOJOK.CO

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras

10 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer MOJOK.CO

Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer

3 Agustus 2026
Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang MOJOK.CO

Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang

27 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri? MOJOK.CO

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

29 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.