Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

Redaksi oleh Redaksi
24 Agustus 2026
A A
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Ilustrasi - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seolah menjadi bencana musiman yang terkesan dibiarkan terjadi. Pemerintah selalu tampak gagap meresponsnya. Pemerintah terkesan lebih suka memakai dalih musim kemarau dan El Nino, mengaburkan akar persoalan yang seharusnya menjadi perhatian serius. 

Merujuk data Kementerian Kehutanan, sepanjang Januari-Juni 2026, luas indikatif kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 107.465,47 hektare. 

Iklan

Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas kebakaran terbesar, yakni 28.680,47 hektare, disusul Riau 15.477,95 hektare, dan Nusa Tenggara Timur 10.538,30 hektare. Reuters bahkan mencatat, luas lahan yang terbakar hingga Juni 2026  meningkat 110 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023.

Bencana karhutla ini jelas bukan yang pertama terjadi. Indonesia pernah mengalami bencana serupa dengan tingkat lebih parah yang terjadi pada 2015 silam. Pada saat itu, kobaran api menghanguskan sekitar 2,6 juta hektare lahan di Indonesia. 

World Bank menghitung kerugian yang ditimbulkan dari bencana itu mencapai US$16,1 miliar, setara sekitar 2 persen produk domestik bruto Indonesia pada tahun itu. Kerugian tersebut mencakup dampak terhadap pertanian, kehutanan, perdagangan, transportasi, pariwisata, serta kesehatan dan lingkungan.

Masalahnya, ukuran keberhasilan penanganan karhutla selama ini lebih tampak hanya berpaku pada operasi pemadaman. Sementara akar persoalannya malah terkesan diabaikan: penjagaan kawasan hutan. 

Pemulihan gambut yang rusak harus menyeluruh

Fenomena berulangnya karhutla seharusnya tidak hanya dibaca sebagai konsekuensi musim kemarau dan El Niño. Faktor iklim memang memperbesar risiko kebakaran. Namun, menjadikan kondisi cuaca sebagai penjelasan utama justru berpotensi mengaburkan persoalan yang lebih mendasar: perubahan bentang alam, tata guna lahan, pengelolaan gambut, serta lemahnya pencegahan dan penegakan hukum.

Artikel Toward multifunctionality in a fire-prone peat landscape in Indonesia yang terbit di Ecology and Society (2026) menyebut, lanskap gambut Indonesia menunjukkan bahwa sekitar separuh gambut tropis Indonesia telah dikeringkan dan dibuka. 

Gambut secara alami merupakan ekosistem basah. Ketika dikeringkan melalui kanal-kanal untuk kepentingan penggunaan lahan, karakter ekosistemnya berubah. Dalam kondisi kering berkepanjangan, gambut menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

Maka dari itu, pencegahan kebakaran hutan tidak cukup dilakukan dengan memadamkan api, tetapi membutuhkan perlindungan terhadap gambut yang masih utuh dan restorasi terhadap gambut yang sudah terdegradasi.

Persoalan karhutla jangan direduksi hanya pada “Siapa yang menyulut api?”

Dalam kasus karhutla di wilayah Kalimantan baru-baru ini, Bareskrim memang telah menetapkan 72 orang sebagai tersangka perorangan yang diduga sengaja membakar hutan untuk alasan membuka lahan. 

Tentu saja, tindakan hukum terhadap individu yang senaga menyulut api menjadi tindakan penting dan sudah seharusnya diambil. Tapi jangan sampai pihak berwenang lantas serta-merta bisa membusungkan dada: seolah-olah sudah merampungkan akar masalah. 

Sebab, yang seharusnya menjadi perhatian serius adalah menelusuri: Bagaimana izin penggunaan lahan diberikan? Bagaimana gambut dikelola? Seberapa efektif kanal-kanal dikendalikan? Siapa yang bertanggung jawab ketika wilayah konsesi terbakar? Dan yang paling penting: Apakah pemulihan ekosistem benar-benar berjalan secara menyeluruh?

Jika instrumen pencegahan tersebut tidak dilakukan secara serius dan berkelanjutan, dan selama regulasi lebih sibuk menangani akibat daripada mengubah sebab, bisa dipastikan karhutla akan menjadi siklus yang terus berlangsung. 

Redaksi Mojok.co

BACA JUGA: Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan


Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2026 oleh

Tags: karhutlakarhutla kalimantankebakaran hutankebakaran hutan Kalimantanlahan gambut
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026
Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
El Nino.MOJOK.CO

Ancaman El Nino Kuat Intai Indonesia, Waspada Kekeringan Ekstrem dan Kebakaran Hutan

11 Agustus 2026

Aparat Diduga Tembakkan Gas Air Mata Kedaluwarsa, Peneliti: Gas Ini Sangat Berbahaya

25 September 2019
penjabat mundur mojok.co

Dari Moeldoko sampai Menteri Desa, Tips Redakan Isu Karhutla ala Pejabat Indonesia

18 September 2019
jokowi mojok.co

Jokowi, Pemerintah, dan DPR Semakin Sulit Dinalar

18 September 2019
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.