Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Eksplor

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
4 Juni 2026
A A
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Ilustrasi - Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di tengah lalu-lalang peserta sepeda klasik di pelataran Candi Sewu, Klaten, seorang turis perempuan asal Eropa tampak asyik menepi di bawah tenda kecil. Tangan kirinya memegang sebuah plat gerabah, sementara jari kanannya menjepit kuas lukis mungil dengan sangat hati-hati.

Sesekali, perempuan itu mengerutkan dahi, mencoba menorehkan cat air ke permukaan gerabah. Ia bermaksud menggambar pola bunga sederhana, meski sapuan kuasnya terus meleset. Hasilnya pun sudah bisa ditebak: mencong-mencong, dan jauh dari kata rapi.

Iklan

Melihat pemandangan itu, Waris Sartono (47) tak bisa menahan tawanya. Pria asal Desa Melikan, Wedi, Klaten itu terkekeh sambil memberi isyarat tangan, mencoba membenarkan cara si turis memegang kuas agar lebih luwes. 

Sang bule, yang menyadari betul bahwa hasil lukisannya berantakan, ikut tertawa lepas. Siang itu, Kamis (21/5/2026), di tengah riuhnya Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026, tak ada bahasa lisan yang saling mereka mengerti. Tawalah yang menerjemahkan segalanya.

gerabah lukis khas klaten.MOJOK.CO
Potret Lek Waris yang sedang melukis siluet Candi Prambanan. Ia membuka booth khusus di acara KLIC 2026. (Mojok.co/Aisyah Amira Wakang)

Kehadiran booth gerabah milik pria yang akrab disapa Lek Waris di tengah acara sport tourism berskala dunia ini sekilas tampak seperti sebuah anomali. Kawasan candi sedang dipenuhi oleh delegasi puluhan negara dan deretan sepeda vintage yang harganya mungkin puluhan juta rupiah. Lalu, mengapa di pusat acara sepeda internasional ini justru terselip booth seni lukis gerabah?

Diplomasi budaya melalui kerajian tangan khas Klaten

Keberadaan Lek Waris nyatanya bukanlah sebuah booth yang salah tempat. Ia adalah garda depan dari sebuah taktik cerdas rancangan tuan rumah buat mengenalkan budaya khas Klaten kepada dunia.

Pemerintah Kabupaten Klaten sangat sadar bahwa sepeda klasik adalah “pancingan” yang paling efektif untuk mengumpulkan atensi dunia. Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menegaskan bahwa sepeda memiliki kekuatan universal.

 “Dengan sepeda kita dapat menjalin kebersamaan, menghilangkan pembatas di antara kita,” ujarnya.

Begitu batasan antarnegara itu runtuh dan para pengunjung merasa nyaman, diplomasi budaya pun terjadi. Klaten langsung “menyergap” para tamu–baik delegasi atlet maupun wisatawan umum–dengan pesona tradisi lokal. 

Kalau kata Lek Waris, festival sepedanya berfungsi sebagai “magnet” buat menyatukan banyak orang, sementara kekayaan budayanya lah yang disiapkan untuk mengunci hati para pengunjung.

Sempat diremehkan, kini berhasil unjuk gigi

Bagi Lek Waris, duduk berhadapan dengan turis mancanegara yang antusias melukis karyanya adalah buah dari perjalanan seninya yang cukup panjang dan berliku. Jauh sebelum karyanya menjadi primadona, satu-satunya seniman lukis gerabah di Klaten ini sempat mencicipi pahitnya diremehkan di kampung halamannya sendiri.

gerabah lukis khas Klaten.MOJOK.CO
Inovasi gerabah lukis sempat dicibir. Namun, kini, Nilai jualnya melesat hingga lima kali lipat dibandingkan gerabah polos biasa. (Mojok,.co/Aisyah Amira Wakang)

Dulu, Lek Waris mencoba keluar dari pakem. Ia memutuskan untuk menggabungkan seni lukis dengan pembuatan gerabah tradisional. Langkah ini awalnya dipandang sebelah mata. 

“Waktu awal-awal saya mencoba memoles gerabah jadi karya seni lukis, banyak yang meragukan. Dianggap aneh atau membuang waktu. Gerabah ya gerabah saja, mikirnya begitu,” kenang Lek Waris.

Namun, ia menolak menyerah. Ia sangat yakin bahwa Desa Melikan memiliki harta karun yang tidak dimiliki oleh pengrajin di belahan dunia mana pun: teknik perbot miring (meja putar miring).

Iklan

Berbeda dengan teknik pembuatan gerabah pada umumnya di mana meja putar berada pada posisi datar, pengrajin di Melikan memutar meja yang posisinya miring sambil duduk mengangkang. 

Teknik langka ini menghasilkan putaran yang unik dan diakui secara global. Lek Waris bersikukuh bahwa jika gerabah hasil teknik langka ini diberi sentuhan akhir berupa seni lukis, nilai jualnya akan meroket.

gerabah lukis khas Klaten.MOJOK.CO
Gerabah lukis khas Klaten unjuk gigi di acara KLIC. Pesonanya berhasil memukau para turis mancanegara yang hadir. (Mojok.co/Aisyah Amira Wakang)

Instingnya terbukti benar. Inovasi yang dulu dicibir itu perlahan diminati pasar. Nilai jual gerabah lukisnya kini melesat hingga lima kali lipat dibandingkan gerabah polos biasa.

Puncaknya adalah apa yang terjadi di bawah tenda KLIC Fest hari itu, ketika karyanya berhasil membuat seorang turis Eropa rela duduk lesehan dan mengotori tangannya.

Keberhasilan KLIC dalam mengenalkan budaya Klaten ke mata dunia

Ketertarikan wisatawan mancanegara pada kerajinan tangan seperti karya Lek Waris sebenarnya sangat mudah dipahami. Turis Eropa pada umumnya tidak terlalu terkesan dengan suvenir cetakan pabrik yang diproduksi massal. 

Bagi mereka, benda buatan mesin tidak memiliki nyawa. Sebaliknya, karya buatan tangan seperti gerabah Lek Waris kaya akan warisan sejarah. Proses manual yang panjang pun menuntut ketekunan pembuatnya.

Hal ini diamini oleh Sarah, salah satu turis perempuan yang siang itu sempat mampir ke booth Lek Waris. Ia mengaku tidak tergabung dalam delegasi balap sepeda mana pun. Ia hanyalah backpacker yang sedang berwisata mengunjungi Candi Sewu, tapi langkahnya tersedot oleh keramaian festival.

“Saya sebenarnya datang ke sini murni untuk melihat candi. Tapi pengalaman melukis tanah liat ini justru menjadi kejutan yang sangat menyenangkan,” ungkap Sarah.

“Di Eropa kami terbiasa dengan barang-barang industri yang serba instan. Bisa menyentuh langsung karya yang dibuat murni dengan tangan manusia, apalagi melihat langsung pembuatnya, rasanya sangat otentik.”

Fakta bahwa wisatawan umum seperti Sarah bisa ikut “terjebak” dalam keasyikan ini membuktikan bahwa ekosistem sport tourism yang dibangun Klaten berjalan sangat efektif. Dan, Lek Waris tidak bekerja sendirian dalam misi kebudayaan ini. Tak kurang dari 2.090 pelaku UMKM lokal dilibatkan untuk menjamu ribuan tamu selama sepekan perhelatan.

Jika kita mengedarkan pandangan ke sudut lain di kawasan venue, strategi serupa juga sedang dimainkan. Panitia menempatkan pengrajin tenun lurik yang sibuk memintal benang dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Suara kayu alat tenun yang saling beradu menjadi daya tarik tersendiri bagi turis yang melintas.

tenun, lurik.MOJOK.CO
Tak cuma menghadirkan gerabah lukis khas Klaten. Panitia juga menempatkan pengrajin tenun lurik. Ini adalah potret salah satu pengrajin yang sibuk memintal benang dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). (Mojok.co/Aisyah Amira Wakang)

Tidak berhenti di dalam arena pameran, gempuran pesona lokal ini juga dibawa ke jalanan. Lewat agenda Social Culture Ride, para peserta diajak bersepeda menyusuri pelosok pedesaan, melintasi hamparan sawah, hingga menyambangi sanggar wayang kulit. Mereka tidak diberi kesempatan untuk bosan hanya dengan melihat aspal jalanan kota.

Inisiatif tuan rumah ini menuai pujian tinggi dari petinggi komunitas sepeda dunia. Vice President IVCA, Filip Pauwels, secara khusus mengapresiasi bagaimana budaya disisipkan dengan sangat rapi di sela-sela agenda olahraga. 

“Keanekaragaman budaya dan tradisi ini menjadi pengalaman baru yang sangat luar biasa bagi para delegasi yang ambil bagian dalam gelaran ini,” ungkapnya.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Penny Farthing (@pennyfarthingindonesia)

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bangkitnya Sepeda Roda Raksasa yang Menyatukan Ribuan “Onthelis” dari Penjuru Dunia di Klaten atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2026 oleh

Tags: Bayat KlatenGerabah BayatGerabah khas Bayatgerabah khas klatengerabah lukisgerabah lukis khas klatenklatenKlaten International Cycling (KLIC) Fest 2026klic
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO
Eksplor

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten dan dirikan KOMSAH. MOJOK.CO
Sosok

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31 jadi sumber sukacita dan perkuat posisi Yogya sebagai Kota Budaya di mata dunia MOJOK.CO

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31: Sumber Sukacita dan Perkuat Posisi Yogya sebagai Kota Budaya di Mata Dunia

22 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.