“Keluhan petani itu cuma dua waktu periksa ke saya, kalau nggak mumet, ya mumet banget,” ucap Philip Avianto atau yang akrab disapa dokter Avi saat ditemui Mojok di Pabrik Beras KOMSAH miliknya di Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten pada Kamis (2/7/2026).
***
Avi adalah pendiri Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan), sebuah program yang mendampingi petani untuk mengembalikan kesuburan tanah sekaligus menyejahterakan kehidupan para petani.
Sebelumnya, dia adalah dokter umum di Puskesmas Bambanglipiro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Karena pengalamannya memeriksa pasien yang mayoritas adalah petani, Avi sadar ada akar permasalahan yang harus dia cari dari menurunnya kesehatan petani.
Setelah terjun langsung ke sawah-sawah, melakukan riset, dan berguru kepada para ahli pertanian, Avi akhirnya menemukan sumber utama masalahnya, yakni tanah yang rusak. Dari situlah dia akhirnya mendirikan Puskestan, alih-alih hanya memberikan resep obat stres atau keluhan fisik lainnya untuk membantu petani.
Mencari jawaban dari keluhan para petani

Dalam risetnya bersama sang ayah yang sudah lebih dulu meneliti soal tanah di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Avi berhasil mengembangkan pupuk organik berbasis kompos dedaunan atau seresah (KOMSAH).
“Sebetulnya, sudah banyak literatur soal pupuk ini, karena kualitas KOMSAH telah dipercaya untuk ekspor ke Jepang dari tahun 2007. Lalu, kami uji coba kembali untuk menanam padi dan hasilnya ditemukan lebih banyak protein dari beras kami,” jelas Avi.
Selain itu, berdasarkan uji laboraoritum yang sudah dilakukan, beras yang dihasilkan menggunakan pupuk KOMSAH juga terbebas dari zat pemicu kanker arsenik dengan nilai angka nol dibandingkan beras biasanya yang sering terpapar obat-obatan kimia. Avi menduga, kandungan kimia itulah yang berpotensi memunculkan kanker.
“Ini juga menjawab keresahan saya di awal tadi, kenapa banyak petani yang sakit, mulai dari stroke, hipertensi, dan gongnya di sini, saya pernah dapat pasien lebih dari 10 anak kecil yang mengalami kanker dan saya nggak menemukan faktor pemicu apapun, mulai dari genetik, makanan, pola hidup, debu, rokok, itu nggak ada,” kata Avi.
“Akhirnya saya menemukan, kesehatan manusia dan kesejahteraan petani bermula dari tanah yang sehat,” tegas Avi.
Beralih dari dokter jadi penasihat petani di Klaten
Berangkat dari temuan di atas, Avi pun mantap membangun program bimbingan ke petani yang dia namai sebagai Puskestan. Lewat pendekatan yang sopan dan tidak bermaksud menggurui, kini Puskestan telah mendampingi lebih dari 3 ribu kelompok tani di Kabupaten Klaten.

Selain karena Klaten adalah tempat kelahirannya, kabupaten ini juga dikenal sebagai salah satu lumbung pangan terbesar nasional di Jawa Tengah. Avi melihat ada potensi lahan sawah subur dan sumber air yang melimpah di sana.
Oleh karena itu, dia akhirnya memutuskan beralih profesi dari yang tadinya dokter di Bantul, kini menjadi ‘penasihat’ para petani di Kabupaten Klaten. Tak tanggung-tanggung, dia juga mendirikan perusahaan sendiri yang bernama KOMSAH Indonesia.
“Jadi kami ingin mengedukasi dan menerapkan praktik budidaya berkelanjutan, yang pusatnya pada pemulihan kesehatan tanah. Kami dengarkan langsung keluhan para petani, mereka butuhnya apa? Misalnya dia butuh pupuk, bakal kami kasih langsung,” kata Avi.
Di era teknologi yang semakin canggih, Avi juga menyediakan fasilitas pascapanen seperti Rice Mill Unit (RMU) atau mesin penggilingan modern. Fungsinya untuk menjaga kemurnian, kebersihan, dan kualitas gizi hasil panen secara presisi. Setiap harinya, RMU tersebut mampu memproduksi 25 ton beras.
“RMU kami tidak sekadar memproses gabah, tetapi juga mengunci nilai tambah dari lahan yang sehat untuk menghasilkan komoditas beras eksklusif yang siap memenuhi tuntutan kualitas pasar,” ujarnya.
Membangun ekosistem kelompok tani di Klaten

Seiring berjalannya waktu, Avi pun tak hanya memproduksi pupuk berkualitas tapi juga membuat beras KOMSAH, sekaligus membangun ekosistem mandiri bersama kelompok tani. Dalam hal ini, dia menerapkan sistem closed loop ecosystem agar mereka tidak rugi.
Pada intinya, model itu berbasis kemitraan agribisnis yang mengintegrasikan seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir. Mulai dari benih, pupuk, pendampingan teknis, pembiayaan (KUR), kepastian pasar, hingga harga bagi petani.
Sebab selama ini, menurut Avi, petani hanya dianggap subjek yang tidak memiliki daya tawar. Kesejahteraannya tidak terjamin, keuntungannya pun hanya sedikit bahkan sering rugi. Oleh karena itu, Avi ingin mengubah persepsi tersebut dengan cara membangun ekosistemnya.
“Melalui pendekatan dari hulu hingga hilir, kami memastikan regenerasi pelaku tani berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas lahan jangka panjang,” ucap Avi.
Terbukti, beberapa petani di Klaten yang dulunya menjadi pasien Avi dan bergabung di KOMSAH, kini stresnya berkurang dan jarang sakit-sakitan. Avi juga sering mendengar ada petani yang makin sejahtera hingga mampu membayar utang-utang mereka. Bahkan, ada yang akhirnya bisa umrah berkat keuntungan dari memanen.
“Saya punya prinsip, jangan sampai kami (KOMSAH) ‘cerai’ dengan petani yang pernah kami bina. Kalau bisa long last. Dengan begitu, ekosistem mandiri bersama kelompok tani jadi terbangun,” harap Avi.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














