Siham Hamda Zaula Mumtaza, mahasiswa autis Universitas Gadjah Mada (UGM) ini akhirnya berhasil menyelesaikan kuliahnya selama 6 tahun 7 bulan. Setelah lulus dari Fakultas Peternakan, ia tak perlu pusing mencari kerja, sebab ia sudah merintis ternak domba di kampung halamannya, Jepara.
***
Siham didiagnosis menderita autis Asperger sejak Sekolah Dasar (SD). Kondisi itu menyebabkan dirinya kesulitan dalam berinteraksi sosial. Jangankan berkomunikasi, melakukan kontak mata saja susah.
Pengidap asperger juga jarang menampilkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh yang berhubungan dengan ungkapan. Misal, ia susah tersenyum meski bahagia atau sulit tertawa ketika mendengar candaan lucu.
Mendengar suara keras atau bentakan menjadi momok bagi Siham. Ia sama sekali tidak suka mendengar suara-suara keras tersebut. Maka tidak heran, sehari-hari Siham lebih banyak beraktivitas mandiri atau tidak melibatkan banyak teman.
Sejatinya juga, kecerdasan seorang asperger masih normal dan tidak mengalami keterlambatan bahasa. Siham pun berhasil meneruskan pendidikannya sampai bangku kuliah dan diterima di Fakultas Peternakan UGM tahun 2019.
Saban hari, ia rela bersepeda dari daerah Condongcatur ke kampus. Untuk mengurangi kekurangannya dalam belajar ia selalu duduk di bangku depan saat kuliah berlangsung.
ULD UGM mendukung adaptasi mahasiswa autis
Siham atau yang akrab dipanggil Yola bersyukur masuk UGM karena dia memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang menunjangnya dari segi fasilitas. Menurut Siham, fasilitas dan pendampingan yang diberikan kampus membuat mahasiswa difabel memiliki ruang belajar yang lebih inklusif dan nyaman.

“Untuk mahasiswa difabel baru, jangan khawatir untuk masuk UGM. ULD UGM selalu ada untuk kalian,” ujar Siham yang juga memperoleh beasiswa Bidikmisi, dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (20/5/2026).
Siham mengaku sempat kesulitan untuk mengobrol dengan orang lain di awal kuliahnya, sehingga lebih sering menyendiri. Meski begitu, Siham tak merasa sendirian. Dukungan dosen, teman, tenaga kependidikan, hingga lingkungan kampus menjadi kekuatan besar yang membantunya bertahan hingga lulus. Saat praktikum, ia beberapa kali harus dibantu untuk proses pengarahan.
“Saya merasa terbantu dengan mereka semua yang sudah mendukung saya selama masa kuliah ini, baik yang langsung maupun tidak langsung,” kata dia.
Di balik merintis usaha ternak domba
Di tengah tantangan akademik dan adaptasi sosial yang harus dijalani, Siham justru membangun mimpi besarnya di dunia peternakan. Bahkan skripsinya berjudul “Tingkah Laku Harian Domba Ekor Tipis di Pusat Penelitian Ternak Fakultas Peternakan UGM”.
Baca Halaman Selanjutnya
Merintis usaha ternak domba sejak akhir kuliah














