Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Dapat Beasiswa KIP Kuliah Jalur FOMO, Bohongi Ortu biar Dobel Uang Saku karena Gaya Hidup Tak Cukup Rp750 Ribu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 Mei 2026
A A
Mahasiswa dapat beasiswa KIP Kuliah bohongi orang tua demi uang saku dobel MOJOK.CO

Ilustrasi - Mahasiswa dapat beasiswa KIP Kuliah bohongi orang tua demi uang saku dobel. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jika ditanya dosa apa yang pernah dilakukan dan kemudian selalu terngiang, dengan lesu dan lirih Deni (23) menjawab: Momen saat menyalahgunakan beasiswa KIP Kuliah yang ia terima ketika masa menjadi mahasiswa. 

Sejak masa kuliah hingga sekarang, penyalahgunaan beasiswa KIP Kuliah selalu menjadi isu yang tidak henti-henti diresahkan. 

Iklan

Setidaknya ada dua sisi penyalahgunaan yang dimaksud. Satu, beasiswa KIP Kuliah yang tidak tepat sasaran: Justru diterima oleh orang yang sebenarnya mampu secara ekonomi. Alhasil, beasiswa tersebut tidak digunakan secara semestinya—untuk menunjang kebutuhan perkuliahan—tapi digunakan untuk perilaku hedon. 

Sisi nomor dua, sebenarnya beasiswa KIP Kuliah sudah diterima oleh orang yang secara ekonomi memang layak menerima. Akan tetapi, si mahasiswa penerima justru menggunakannya untuk memenuhi gaya hidup elite dengan beragam alasan. Umumnya, sebagai bentuk balas dendam karena selama ini tidak bisa mengakses banyak hal karena masalah keuangan. 

Nah, Deni mengaku melakukan sesuatu yang lebih parah dari sekadar menggunakan uang beasiswa KIP Kuliah untuk gaya hidup elite. Ia mengaku, selama kuliah, ia telah menipu orang tuanya. 

Daftar beasiswa KIP Kuliah karena FOMO

Sepintas terdengar aneh. Tapi memang Deni mengaku mendaftar sebagai calon mahasiswa baru penerima beasiswa KIP Kuliah tahun 2021.  Saat itu, beberapa teman SMA-nya di Jawa Timur direkomendasikan untuk mendaftar beasiswa tersebut karena memang berangkat dari keluarga tidak mampu. 

“Kalau aku berkecukupan lah. Orang tuaku pedagang. Aku nggak tahu pasti penghasilan pasti mereka berapa, cuma memang kalau di sekolah dulu, kalau nulis “penghasilan orang tua” di form, selalu kutulis Rp1 jutaan,” beber Deni, Minggu (17/5/2026)

Beasiswa KIP Kuliah tersebut jelas menarik bagi Deni karena membuka kesempatan kuliah secara gratis. Akhirnya ia menyiapkan sejumlah berkas yang diperlukan, meskipun ada beberapa berkas yang tidak sesuai realitas. 

“Misalnya, rumahku kan nggak ada tempelan “Keluarga Kurang Mampu”. Aku akhirnya minta ibuku buat ngurusin di kelurahan. Ibuku awalnya gimana gitu kan, tapi ya kuminta aja bilang ke petugas kelurahan kalau niatnya buat kuliah. Ternyata dapat beneran,” jelas Deni. 

Sejumlah data juga tidak dimasukkan Deni. Misalnya, di rumah ada dua motor, tapi ia hanya tulis satu. Dan seterusnya. 

Tahu bulanan KIP Kuliah Rp750 ribu bakal tak cukup buat gaya hidup

“Kabar baik” bagi Deni, upaya FOMO tersebut ternyata membuatnya benar-benar punya kesempatan kuliah gratis di sebuah kampus negeri pilihannya di Jawa Timur. Ia diterima sebagai mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah. 

Tapi saat itu, ada “bisikan-bisikan” dalam diri Deni yang menahannya untuk tidak memberi tahu orang tuanya terlebih dulu. Ia ingin memastikan beberapa hal kepada gurunya. 

Di antara hal yang pertama-tama ia tanyakan pada gurunya dan kakak kelas yang sudah lebih dulu kuliah waktu itu adalah: Model pencairan dan besaran uang bulanan yang bakal diterima mahasiswa KIP Kuliah. 

“Kemungkinan paling rendah kan menerima uang saku Rp750 ribu perbulan, di samping UKT yang sudah otomatis terbayar. Aku tanya lah ke kakak kelas, hidup Rp750 ribu di sebuah kota metropolitan di Jawa Timur cukup nggak?,” kata Deni. 

Iklan

Jawaban kakak kelasnya: Bisa cukup, bisa tidak. Bisa cukup kalau memang hidup berhemat—orientasi hanya pada kebutuhan primer. Bisa tidak cukup kalau memang ada pengeluaran untuk hal-hal sekunder bahkan tersier. 

Akhirnya Deni memilih mengaku kepada orang tuanya: Diterima kuliah di sebuah kampus negeri di Jawa Timur, tapi tidak untuk KIP Kuliah-nya. 

“Ya sudah nggak apa-apa. Selama bapak-ibu masih punya rezeki, insyaallah bisa (membiayai UKT dan uang bulanan),” begitu kata sang ibu waktu itu. 

Bohongi orang tua demi uang saku dobel karena gaya mahasiswa kota

Apa yang dipikirkan Deni? 

Jika ia memilih berbohong soal beasiswa KIP Kuliah, maka ia berpotensi tetap mendapat uang saku dari orang tuanya. Dengan begitu, ia punya uang saku dobel: dari orang tua sekaligus dari beasiswa KIP Kuliah. 

“Sejak semester 1 sampai lulus, begitu itu hidupku. Jadi kiriman bulanan orang tua kan kadang Rp1 juta, kadang Rp800 ribu, kadang juga Rp1,2 juta. Itu dengan catatan sebenarnya, kalau habis sebelum sebulan, bilang aja ke orang tua. Tapi ya aku batasi nggak minta lagi karena masih ada KIP. Uang dari orang tua buat urusan kayak kos dan makan sehari-hari,” ujar Deni. “Jatah UKT juga masih minta, walaupun masuknya ke kantong pribadi karena kan UKT-nya sudah terbayar dari KIP.”

“Buat jaga-jaga juga kalau pencairan beasiswa KIP Kuliah telat. Karena akhirnya aku tahu ternyata pencairannya ada telat-telatnya juga. Kalau di kampusku begitu. Telat seminggu atau lebih sedikit biasa,” kata Deni. 

Saat teman-temannya sesama mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah bingung menunggu pencairan yang telat, Deni merasa tidak relate karena kantongnya aman dari kiriman orang tua. 

Adapun uang dari beasiswa KIP Kuliah ia gunakan untuk memenuhi gaya hidup. Ia mengaku bisa gonta-ganti HP selama kuliah tidak lain ya karena dari beasiswa KIP Kuliah. Sepatu punya lebih dari dua jenis, tas dari brand outdoor seharga mahal, kebiasaan ngopa-ngopi di coffee shop yang tidak terkontrol, dan segala bentuk hedonisme lainnya. 

“Jelas ada yang curiga lah. Sering, dengan bercanda, ada teman berseloroh: ‘Kamu aslinya orang kaya ya. Masa mahasiswa KIP Kuliah uangnya nggak habis-habis’,” beber Deni. 

Jawaban Deni: Ya jelas tidak habis-habis, wong sumber dananya dua. 

Jawaban Deni itu sebenarnya membuat sejumlah teman bereaksi geram. Mengingatkan bahwa apa yang Deni lakukan itu keliru karena membohongi orang tua. 

“Tapi waktu itu aku nggak merasa berdosa karena, ya kan memang tanggung jawab orang tua buat ngasih uang saku. Aku belum mikir sejauh: kondisi mereka sebenarnya seperti apa. Setahuku, tiap aku pulang, mereka ya biasa saja. Kalau aku pulang, misalnya aku minta uang jajan atau bensin, ya tetap dikasih,” kata Deni. 

Disadarkan kenyataan cari uang tidak gampang

Deni lulus kuliah pada pertengahan 2025. Tidak lama setelah lulus, pesan ibu Deni waktu itu adalah: Kalau bisa langsung cari kerja karena kasihan sama bapak kalau menanggung ekonomi keluarga sendiri. 

“Ternyata cari kerja susah sekali. Aku baru bener-bener dapat kerja kan awal tahun ini,” kata Deni. “Terus kelihat bapak-ibu di pasar juga kerja keras, dari pagi. Sementara mereka semakin tua.”

Deni akhirnya bisa merasakan, betapa mencari uang sebenarnya tidak gampang. Itu membuatnya (baru) merasa berdosa. Doa yang terus terngiang-ngiang. 

Apalagi setelah dihadapkan dengan kenyataan kalau adik laki-lakinya memutuskan untuk tidak lanjut kuliah: lulus SMA langsung ikut pelatihan kerja dan akhirnya langsung kerja. 

Dalam benak Deni: jika seandainya ia dulu tidak bohong alias kuliah benar-benar mengandalkan beasiswa yang ia terima, mestinya ia tidak menjadi tambahan beban bagi orang tua. Jangan-jangan juga, orang tua Deni punya tabungan banyak, entah untuk diri sendiri atau mengalokasikan uang untuk kuliah sang adik. 

“Karena kalau kutanya adikku, ‘Kenapa nggak kuliah?’. Jawaban dia: Nggak usah lah, kakak sudah kuliah, kalau aku kuliah juga, nggak tega aku lihat bapak-ibu,” beber Deni. Jawaban yang membuat Deni semakin merasa berdosa. 

Sayangnya, ucapan “maaf” hanya terucap di batin Deni. Ia belum sampai hati untuk minta maaf sekaligus bicara yang sebenarnya. Sementara semakin dipendam, justru semakin menumpuk rasa berdosanya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Mei 2026 oleh

Tags: beasiswabesaran uang kip kuliahkip kuliahmahasiswa kip kuliahPencairan KIP Kuliahpenyalahgunaan kip kuliah
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO
Urban

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026
Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO
Sekolahan

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO
Eksplor

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO
Sekolahan

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Sri Sultan HB X dan Dubes Qatar siapkan kejutan program event di Yogyakarta dari kerja sama di bidang kesenian dan kebudayaan MOJOK.CO

Usai Temui Sri Sultan HB X, Dubes Qatar Siapkan Kejutan Program Event Kebudayaan di Yogyakarta

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.