Ketika orang tua terlalu ambisius mengikutkan anak ke beragam bimbel dan les privat tanpa memberi ruang jeda, ternyata membuat sang anak merasa kehilangan dunia kanak-kanak yang ingin ia cecap sebagaimana adanya. Kesan tersebut Asyifa (21) dapat dari seorang anak didiknya di Surabaya.
Asyifa mengajar les privat mengaji Al-Qur’an untuk anak dari keluarga pebisnis di Surabaya utara di sela waktu kuliahnya. “Aku mengajar sejak dia kelas 3 SD sampai sekarang mau SMP. Jadwal ngajiku di jam-jam sore,” ujar Asyifa, Jumat (18/9/2026).
Mencuri-curi waktu untuk bermain
Sistem mengajar Asyifa dilakukan secara luring di kediaman si anak didik. Berlangsung tiga kali dalam seminggu di jam-jam setengah 5 sore sampai menjelang Magrib.
Pada mulanya, setiap berjalan menuju kediaman si anak atau saat tengah mengajar secara daring, muncul perasaan overthinking dari Asyifa.
Ia berpikir, betapa beruntung anak didiknya punya orang tua yang memberi fasilitas pendidikan secara penuh bagi si anak. Tidak hanya disekolahkan di sekolah terbaik, di luar jam sekolah pun masih diberi fasilitas bimbel dan les privat untuk macam-macam bidang.
“Overthinking juga, bisa nggak ya suatu saat kalau sudah jadi ibu, aku bisa kayak gitu. Pengin lah memberi fasilitas pendidikan yang komprehensif ke anak,” ujar Asyifa.
Namun, ada pemandangan dan celetukan dari si anak didik yang membuat Asyifa malah merasa agak kasihan. Kerap kali ketika motor Asyifa memasuki halaman rumah si anak didik, si anak didik tengah asyik-asyiknya bermain sepeda. Kalau tidak ya bermain gim di hp.
Kedatangan Asyifa lantas disambut dengan wajah tidak semringah oleh si anak. Si anak akan masuk ke rumah dengan langkah tidak antusias. Mengikuti les privat mengajinya pun terasa setengah hati.
“Kadang dia juga nyeletuk, ‘Bu sedikit saja ya, aku capek’,” kata Asyifa. Asyifa meresponsnya hanya dengan senyum. Pasalnya, ia tidak mungkin berani melonggarkan waktu les privat ngajinya karena ia harus mempertanggungjawabkan ke orang tua si anak didik.
“Kenapa dia begitu, ya karena dia baru pulang sekolah, terus harus les privat lagi. Akhirnya kesempatan dia main ya dari mencuri-curi waktu yang cuma sebentar itu. Karena setelah Magrib, ia masih harus mengikuti les privat lagi,” sambung Asyifa.
Banyak bimbel dan les privat demi masa depan terbaik
Sejak awal mengajar les privat mengaji, Asyifa sempat mendapat gambaran besar dari orang tua si anak didik perihal rutinitas prioritas si anak didik.
Si anak sekolah di sebuah sekolah swasta mahal-terbaik dengan sistem fullday. Masuk pagi, pulang jam 4 sore. Di luar jam sekolah, si anak didik Asyifa mengikuti beberapa jenis bimbel dan lies privat yang jadwalnya sudah diatur secara pakem oleh orang tuanya.
“Tapi kira-kira begini, habis Magrib nanti ada bimbel mata pelajaran umum. Jam 8 malam ada lagi les privat Bahasa Inggris. Baru istirahat jam 10 malam lah kira-kira,” beber Asyifa. “Ngaji Al-Qur’an dimasukkan les privat, selain urusan tanggung jawab orang tua di aspek agama, juga karens sekolah swastanya itu ada program hafalan.”
“Nah, sekolahnya kan Sabtu-Minggu libur. Tapi di Sabtu-Minggu itu masing-masing ada les privat lain. Ada les bola, les musik, les bela diri,” sambungnya. “Jadi nyaris nggak ada waktu libur.”
Bahkan sehabis salat Subuh pun, sembari bersiap-siap berangkat sekolah, di meja sarapan, sang ibu biasanya me-recall pelajaran-pelajaran yang harus diingat oleh si anak. Memastikan kalau si anak berangkat sekolah dalam kondisi “siap”—kepalanya sudah terisi dengan materi-materi pelajaran.
“Aku salut sama si ibu karena beliau memang pekerja keras. Beliau kan baru pulang menjelang Isya. Jadi di rumah diserahkan ke ART. Pasti update perkembangan les si anak langsung ke guru/mentor yang bertugas. Termasuk ke aku,” jelas Asyifa.
“Waktu awal kami kenalan, beliau memang bilang: Ini semua demi masa depan terbaik buat si anak. Beliau juga menekankan nggak ingin anaknya sekolah sekadar sekolah, tapi juga harus punya prestasi. Sebab kalau berprestasi, kelak bakal gampang kalau kuliah-kuliah di luar negeri,” lanjutnya.
Rentetan bimbel dan les privat yang ternyata membuat kelelahan
Namun, beberapa momen membuat Asyifa kemudian malah kasihan, karena si anak seolah kehilangan waktu untuk menikmati masa-masa kanaknya.
Salah satu momen tersebut adalah: Suatu hari saat Asyifa datang sesuai jadwal ke kediaman si anak, anak didiknya tersebut ternyata dalam kondisi tertidur di kamar.
Asyifa sempat menunggu sampai bangun. Tapi karena sampai menjelang azan Magrib si anak belum juga bangun, akhirnya ia pun memutuskan pulang—meliburkan les privat hari itu.
“Besoknya aku ditelepon sama Ibunya. Ternyata beliau update dari si anak, sekadar tanya ‘Hari ini ngajinya gimana?’. Si anak nggak bisa bohong kan, dia bilang ketiduran. Ditanya lagi, kok bisa ketiduran kan sudah ada jadwalnya? Aku lalu dibilangin, besok-besok lagi kalau ketiduran, aku diminta bangunin nggak apa-apa,” ujar Asyifa.
Momen tersebut memang beberapa kali terulang. Jika tidak mendapati si anak mencuri-curi waktu bermain, Asyifa pun sesekali mendapati si anak didiknya ketiduran. Dan sebagaimana pinta si Ibu, Asyifa tega atau tidak harus membangunkan.
“Wajahnya memang kelihatan capek sekali. Kayak nggak happy. Dia dengan polos juga nyeletuk, ‘Ibu ngasih lesnya kebanyakan, capek, bosen, nggak dkasih waktu main’,” tutur Asyifa yang seketika membuatnya berpikir ulang: Kelak—jika sudah menjadi seorang ibu—mau menerapkan model pendidikan seperti apa ke anak-anaknya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Saya Dibilang Ambisius karena Anak Ikut Bimbel, Padahal Dia Sendiri yang Meminta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan