Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus “Menyangkal”, Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 Juni 2026
A A
Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus "Menyangkal", Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan.MOJOK.CO

Ilustrasi La Llorona, Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus "Menyangkal", Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di luar pagar rumah mewah itu, ratusan warga asli suku Maya berdiri membisu, menyalakan lilin, dan mengangkat foto hitam-putih kerabat mereka yang diculik militer. Di dalam kamar yang senyap, Jenderal Enrique Monteverde terbangun dengan keringat dingin. Padahal, dia baru beberapa hari dibebaskan oleh hakim dari tuduhan kejahatan kemanusiaan.

Namun, malam itu tubuhnya gemetar. Ketakutannya bukan bersumber dari kepungan massa di luar jendela. Gemetar di tubuhnya lahir akibat sayup-sayup suara ratapan perempuan yang menembus dinding kamarnya. 

Sang jenderal kemudian meraih pistol, berjalan tertatih menyusuri koridor rumahnya yang gelap gulita. Dia memburu suara misterius yang perlahan mulai merusak kewarasannya.

Adegan pembuka dalam film La Llorona (2019) karya sutradara Jayro Bustamante ini langsung mengunci perhatian kita tanpa perlu jumpscare murahan. Film asal Honduras ini meminjam mitos cerita rakyat Amerika Latin tentang hantu wanita menangis, lalu mengubahnya menjadi sebuah horor-politik yang sangat mencekam.

Bustamante tidak sedang menceritakan setan penunggu rumah sang jenderal. Melalui film ini, ia ingin menyampaikan bagaimana utang masa lalu sebuah bangsa sedang datang menagih keadilan. 

Jenderal jagal yang terus denial sama kejahatannya di masa lalu

Cerita film ini bergerak cepat setelah Jenderal Enrique dinyatakan bebas karena alasan “teknis” persidangan. Jenderal yang sempat didakwa atas kejahatan kemanusiaan dan genosida ini pun akhirnya bisa pulang ke rumah mewahnya dengan kepala tegak. 

Rumah besar berpagar tinggi ini otomatis menjadi benteng pelindung baginya. Di luar pagar, publik boleh saja marah besar. Namun, di di dalam rumah, sang jenderal dan keluarganya ingin tetap merasa aman dan nyaman seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Bagi saya, di sinilah letak ironisnya. Bustamante ingin menunjukkan bahwa sebesar apapun kejahatan yang dilakukan seorang penguasa, mereka bisa tetap “merasa benar”, merasa suci. Caranya, ya, cukup denial saja dengan kenyataan bahwa sang jenderal adalah seorang pembantai. 

Pola pikir denial ini, kalau kata pakar sosiologi Stanley Cohen dalam bukunya yang berjudul States of Denial: Knowing about Atrocities and Suffering (2001), disebut sebagai “sociology of denial”. Sederhananya, teori ini menjelaskan bahwa orang-orang yang menikmati privilese sengaja menyaring informasi buruk agar dunia kecil mereka tidak terganggu.

Misalnya, dalam adegan ketika sang anak, Natalia, mulai mempertanyakan kebenaran masa lalu ayahnya setelah mendengar kesaksian mengerikan dari para korban di ruang sidang. Istri sang jenderal, Carmen, langsung merespons dengan defensif. 

Dia mencuci otak anaknya dengan narasi bahwa perempuan-perempuan adat yang menangis di pengadilan itu adalah kelompok sayap kiri yang lihai berbohong, sedangkan suaminya adalah penyelamat bangsa.

Penyangkalan ini juga diperlihatkan dalam adegan lingkaran doa yang dipimpin oleh Carmen di ruang tamu bersama teman-teman sosialitanya. Sementara suara gemuruh demonstran di luar pagar berteriak menuntut keadilan, perempuan-perempuan kelas atas ini justru khusyuk berdoa meminta perlindungan dari “hambatan dan ancaman orang-orang jahat” di luar sana. 

Mereka menggunakan tameng agama untuk menyucikan rasa bersalah, sekaligus memutarbalikkan fakta seolah-olah keluarga merekalah korban.

Iklan

Carmen dan kelompoknya bukannya tidak tahu ada kekejaman di masa lalu. Mereka hanya memilih abai demi menjaga status sosial dan kenyamanan hidup mereka tetap aman.

Rasisme dan korban desaparecidos

Sikap denial itu semakin terlihat ironis ketika kita mengintip area dapur dan ruang pelayan. Keluarga jenderal sendiri adalah representasi dari kelompok elite Ladino, yaitu warga kelas atas keturunan campuran Eropa. Hidup mereka sangat mewah. 

Namun, seluruh kenyamanan hidup itu bergantung penuh pada tenaga para pelayan yang berasal dari suku asli Maya Ixil–yang dulu pernah dibantai oleh sang jenderal.

Sutradara, dengan sangat rapi, memotret rasisme sehari-hari yang terjadi di dalam rumah. Keluarga jenderal membutuhkan tenaga orang-orang Maya ini untuk mencuci baju, memasak, dan membersihkan lantai, tetapi di saat bersamaan mereka selalu menaruh kecurigaan yang tidak berdasar.

jenderal jagal di la llorona.MOJOK.CO
Tak cuma denial dengan kejahatan perangnya, dalam film ini sutradara juga memotret bagaimana rasisnya kaum elite kepada masyarakat adat–bahkan di ruang domestik sekalipun. (dok. IMDB)

Misalnya, dalam adegan ketika Carmen berjalan ke dapur dan mendengar para pelayan sedang mengobrol menggunakan bahasa asli Maya. Carmen langsung menegur mereka dengan nada tinggi. Dia melarang para pelayan menggunakan bahasa daerah tersebut di rumahnya dan memaksa mereka berbicara dalam bahasa Spanyol. 

Bagi Carmen, bahasa asli masyarakat adat terdengar seperti bisikan konspirasi yang mengancam keselamatan keluarganya.

Sikap rasis ini semakin memuncak saat para pelayan lama akhirnya memilih mengundurkan diri karena situasi luar rumah yang makin genting. Alih-alih berkaca pada kesalahan sang jenderal yang memicu demo, keluarga ini justru panik dan menuduh bahwa para pelayan asli Maya tersebut tidak tahu terima kasih. Mereka merasa sengaja ditelantarkan agar kelaparan di dalam rumah sendiri.

Kewarasan penghuni rumah semakin hancur karena pagar megah mereka dikepung oleh lautan manusia selama 24 jam penuh. Massa yang berdiri di luar bukanlah perusuh yang membawa senjata, batu, atau obor. Mereka adalah ratusan keluarga korban desaparecidos, istilah untuk menyebut orang-orang yang diculik dan dihilangkan secara paksa oleh rezim militer pada masa lalu.

Poin ini sangat penting karena memperlihatkan bahwa utang sejarah tidak bisa dianggap selesai hanya karena hakim mengetuk palu bebas di pengadilan yang korup. Setiap hari, jendela rumah sang jenderal bergetar oleh yel-yel, nyanyian duka, dan sorotan lampu dari luar. 

Massa tidak berniat merusak gedung. Mereka hanya membawa selembar foto hitam-putih anggota keluarga mereka yang hilang puluhan tahun lalu.

Bagi saya, sutradara menggunakan visual pagar rumah ini dengan sangat cerdas untuk menunjukkan batas tegas antara dua dunia. Di dalam pagar, ada penjahat perang yang dilindungi hukum negara. Sementara di luar pagar, ada rakyat miskin yang memegang teguh ingatan mereka.

jenderal jagal di la llorona.MOJOK.CO
Lebih dari 200.000 warga Guatemala tewas atau hilang secara paksa dalam perang saudara yang berkecamuk dari tahun 1960-1996. Dari para korban yang diidentifikasi Historical Clarification Commission yang disponsori PBB, 83% adalah penduduk asli Maya. 93% dari pelanggaran hak asasi manusia ini dilakukan oleh pasukan pemerintah. (dok. CJA.org)

Adegan awal di persidangan, kemunculan sang jenderal yang arogan, hingga keberadaan demonstran di luar pagar rumah mewah itu, mengingatkan saya pada satu kepingan sejarah di Guatemala dan Honduras pada dekade 1980-an lalu.

Karakter Jenderal Enrique, mirip dengan Efraín Ríos Montt, diktator militer Guatemala yang pada tahun 2013 sempat divonis bersalah atas pembantaian massal terhadap suku asli Maya Ixil. Melalui drama hukum yang korup, Mahkamah Konstitusi negara tersebut membatalkan vonisnya hanya beberapa hari kemudian.

Sementara di negara tetangganya, Honduras, horor serupa dijalankan oleh unit intelijen militer rahasia bernama Batalyon 3-16. Peristiwa ini terdokumentasi secara rinci dalam dokumen resmi Komisioner Nasional Hak Asasi Manusia Honduras berjudul The Facts Speak for Themselves (1993). 

Batalyon 3-16 bekerja dengan metode yang sangat kejam. Mereka menculik aktivis mahasiswa dan pemimpin serikat tani menggunakan mobil tanpa plat nomor, membawa mereka ke pangkalan rahasia untuk disiksa, lalu mengeksekusi mereka tanpa peradilan. Tubuh para korban kemudian dihancurkan atau dibuang ke sungai agar hilang selamanya tanpa kuburan.

Jenderal jagal mati karena hantu yang ia “ciptakan” sendiri

Ketika semua pelayan lama pergi karena ketakutan, pintu rumah sang jenderal diketuk oleh seorang gadis bernama Alma. Dia adalah pelayan baru dari suku Maya yang memiliki rambut panjang dan selalu tampak basah. 

Kehadiran Alma yang diam, dingin, dan misterius perlahan mengubah arah angin di dalam rumah. Alma adalah perwujudan dari mitos La Llorona, meskipun di tangan Bustamante, sosok ini diubah fungsinya menjadi penjaga memori para korban genosida.

Avery Gordon, dalam bukunya yang berjudul Ghostly Matters: Haunting and the Sociological Imagination (1997), menjelaskan bahwa ketika hukum di dunia nyata gagal memberikan keadilan bagi korban kekerasan struktural, maka trauma tersebut tidak akan hilang. Ia akan menjelma menjadi “hantu” yang kembali ke tengah masyarakat untuk mengusik kenyamanan hidup para pelaku kejahatan.

Dan, inilah yang berlaku dalam film La Llorona.

alma la llorona.MOJOK.CO
Potret tokoh Alma, perempuan “berambut basah” yang dianggap sebagai manifestasi La Llorona. (dok. IMDB)

Alma tidak perlu menusuk sang jenderal dengan pisau. Kehadirannya yang selalu basah sudah cukup menjadi simbol dari puluhan ribu korban genosida yang mayatnya dibuang ke sumur dan sungai oleh militer. 

Kewarasan keluarga jenderal pun runtuh dari dalam. Melalui Alma, penonton diajak melihat bagaimana memori kolektif yang coba dihancurkan oleh negara justru bangkit kembali untuk menggelar pengadilannya sendiri.

Pada akhirnya, film La Llorona memberikan kita sebuah sudut pandang yang jujur mengenai batas akhir dari kekuasaan manusia. Sebagaimana pernah diungkap Jacques Derrida, bahwa usaha sebuah rezim untuk mengubur kejahatan masa lalu selalu berakhir sia-sia. Masa lalu yang berdarah akan selalu meninggalkan jejak, bergentayangan, dan menyusup ke masa kini untuk menuntut pelunasan utang sejarah.

Ketika institusi hukum resmi sebuah negara sudah terlalu mandul dan korup untuk mengadili para penjahat perang, maka seni seperti film ini hadir sebagai pengingat.

Kematian sang jenderal di akhir cerita bukan disebabkan oleh ketukan palu hakim di ruang sidang. Ia mati oleh cekikan rasa takutnya sendiri yang dipicu oleh bayang-bayang para korban.

Film ini menyampaikan pesan kepada kita semua: para penguasa tirani mungkin bisa membeli hukum, menghapus buku sejarah, dan berlindung di balik tembok rumah yang mewah. Namun, mereka harus ingat bahwa seketat apapun mereka mengunci pintu, memori para korban akan selalu menemukan celah untuk menyusup masuk, merebut kenyamanan tidur mereka, dan menagih keadilan yang sengaja dimandulkan di dunia nyata.

Sialnya, di dunia nyata, jenderal jagal seperti di La Llorona banyak yang masih tertawa.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Juni 2026 oleh

Tags: Filmfilm hondurasfilm underratedgenosidahondurasjenderaljenderal jagalpenjahat hampenjahat perangpilihan redaksireview filmsang jenderalulasan film
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

10 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana
Esai

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus "Menyangkal", Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan.MOJOK.CO

Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus “Menyangkal”, Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan

10 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.