Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
29 April 2026
A A
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Ilustrasi - Bekerja di Jakarta (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jakarta selalu identik dengan standard upah yang tinggi. Obrolan tentang UMR Jakarta yang menembus angka di atas Rp5 juta, selalu menjadi sorotan. 

Bagi pekerja pabrik, staf kantoran pemula, atau karyawan di pusat perbelanjaan, angka ini adalah kemewahan. Namun, kemewahan ini seolah menguap begitu kita melangkah masuk ke sektor pendidikan. 

Tepatnya, pada nasib guru honorer.

Di tengah kota metropolitan dengan biaya hidup yang terus merangkak naik, nyatanya masih ada tenaga pendidik yang gajinya tertinggal jauh di bawah standard kelayakan.

Gaji guru honorer di Jakarta tetap sama kecilnya

Fakta ini, salah satunya, diceritakan langsung oleh Aulia (28), seorang guru honorer di salah satu SMA swasta di Jakarta. Pekan lalu, ia membagikan kisah jungkir-baliknya yang harus memutar otak untuk bertahan hidup dengan gaji yang bahkan tidak sampai separuh dari upah minimum ibu kota.

Sebelumnya, Aulia datang ke Jakarta dengan penuh harapan. Lulusan fakultas keguruan dari salah satu universitas negeri di Jogja ini menceritakan awal mula perjalanannya, tiga tahun lalu.

Menjadi pendidik bukanlah pelarian bagi Aulia. Ini adalah pilihan sadar. Ia memiliki minat yang besar pada dunia mengajar dan senang berinteraksi dengan anak-anak muda.

“Sejak masih SMA, memang cita-citanya ingin jadi guru,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Setelah mengantongi ijazah sarjana, ia memutuskan merantau ke Jakarta, dengan alasan yang sebenarnya bisa dimaklumi: mencari peluang yang lebih besar.

“Dulu ada kesempatan ke Jakarta, saya ambil. Siapa coba yang nggak tergiur buat kerja di Jakarta? Yang saya kira sekolah-sekolah di ibu kota pasti memiliki standard kesejahteraan yang tinggi ketimbang di Jogja.” 

Sialnya, harapan itu langsung terkikis ketika ia dihadapkan pada lembar kontrak kerja pertamanya. 

Sisa gaji 700 ribu buat bertahan sebulan

Aulia agak tertutup dengan nominal pendapatannya. Kepada saya, hanya mengatakan bahwa dalam sebulan, gaji rata-rata yang diterima berada di angka angka Rp1,5 juta.

“Itu sudah termasuk beberapa tunjangan dan bonus. Kebayang kan gaji pokoknya berapa?”

Aulia menekankan bahwa kondisi ini sebenarnya adalah rahasia umum. Jika merujuk pada data Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), upah guru honorer di Indonesia memang masih sangat memprihatinkan; seringkali berkisar di bawah Rp2 juta.

Iklan

Bahkan, banyak yang hanya dibayar ratusan ribu rupiah.

“Di Jakarta, gaji satu setengah juta dapat apa?” keluhnya.

Keluhan Aulia beralasan. Dari total gajinya, Rp500 ribu langsung dialokasikan untuk membayar sewa kamar kos petakan di daerah pinggiran Jakarta. Setelah itu, ia menyisihkan Rp300 ribu untuk biayai transportasi setiap harinya.

Alhasil, sisa uang di rekeningnya tinggal Rp700 ribu. 

“Kalau nggak punya sampingan, bisa megap-megap dengan uang segitu buat sebulan.”

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa rata-rata pengeluaran per kapita sebulan warga DKI Jakarta sudah menembus angka di atas Rp2,5 juta hingga Rp3 juta juta untuk kebutuhan paling dasar. Dengan total gaji yang hanya Rp1,5 juta, posisi finansial Aulia sebenarnya sudah berada jauh di bawah garis kelayakan hidup kota ini.

Ketimpangan guru honorer dan ASN

Ketimpangan ini terasa makin nyata ketika Aulia masuk ke ruang guru. Di sana, ia duduk bersebelahan dengan rekan-rekan yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Aulia menceritakan bahwa secara pekerjaan, tidak ada perbedaan antara dirinya dan rekan-rekan berstatus tetap tersebut. Mereka mengajar di kelas yang sama, menyusun pedoman pembelajaran yang sama, dan menghadapi murid yang sama. 

Bahkan, Aulia mengaku seringkali jam mengajarnya lebih padat karena harus menggantikan guru tetap yang berhalangan hadir.

“Nasib honorer memang begitu. Kerja lebih keras tapi gaji lebih kecil,” kata dia.

Apa yang dialami Aulia sejalan dengan data kementerian pendidikan yang menunjukkan adanya defisit ratusan ribu guru ASN akibat pensiun setiap tahunnya. Guru honorer seperti Aulia inilah yang kemudian menjadi “penambal” agar operasional sekolah tetap berjalan, meski dengan bayaran yang timpang. 

Di awal bulan, rekan-rekannya menerima gaji pokok dan tunjangan profesi, sementara Aulia hanya menerima uang honor yang dihitung murni berdasarkan jam tatap muka di kelas.

Jakarta memanusiakan pekerja, tapi gagal menyejahterakan gurunya

Selain gaji yang kecil, Aulia juga harus menanggung apa yang ia sebut sebagai tuntutan profesional. Sebagai guru, ia harus tampil rapi dan bersih. Seragam harus licin, sepatu harus layak pakai, dan ia harus selalu memiliki kuota internet untuk menginput nilai murid atau mencari materi ajar di YouTube. 

“Semua fasilitas penunjang ini saya beli beli menggunakan uang pribadi. Yang nggak seberapa itu.”

Ia juga sempat membandingkan nasibnya dengan tetangga kosnya yang bekerja sebagai buruh pabrik. Tetangganya sering mengeluh capek karena lembur, tapi Aulia tahu bahwa di akhir bulan, tetangganya itu menerima gaji UMR penuh ditambah uang lembur yang jelas.

“Dia kerja fisik, saya kerja otak dan mental. Tapi secara penghasilan, dia lebih layak” tuturnya.

Bagi Aulia, mengandalkan dalih “pengabdian” untuk menjalankan roda pendidikan di kota dengan biaya hidup selangit adalah bentuk eksploitasi. Pengabdian dan keikhlasan tidak bisa digunakan untuk bertahan hidup di kerasnya ibu kota.

“Jakarta berhasil memanusiakan pekerjanya lewat aturan UMR, tapi masih gagal total dalam memanusiakan para gurunya.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 April 2026 oleh

Tags: gaji gurugaji guru honorerguruguru honorerjakartapekerja jakartaUMR Jakarta
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO
Urban

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO
Pendidikan

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Kabar

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
SMARAI rilis album "Semai" berisi tentang perjuangan hidup, salah satunya perjuangan guru honorer MOJOK.CO
Kilas

Potret Himpitan Hidup Guru Honorer dalam Lagu “Optimis” di Album “Semai”, SMARAI Ajak Belajar Menghadapi Kesulitan dan Kegagalan

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.