Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

Hamdi Abdullah Hasibuan oleh Hamdi Abdullah Hasibuan
6 Mei 2026
A A
Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO

Ilustrasi: Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dari gaji dosen yang tak kunjung manusiawi sampai wacana penutupan prodi, sepertinya ada yang salah dengan cara negara memandang pendidikan.

Saya seorang dosen. Dan kalau boleh jujur, menjadi dosen di negeri ini kadang terasa seperti memilih jalan hidup yang mulia, tetapi membingungkan. Mulia karena Anda mendidik generasi bangsa; membingungkan karena negara sepertinya tidak terlalu yakin apakah pekerjaan Anda itu penting atau tidak.

Gaji yang belum sejahtera? Sudah biasa. Tunjangan yang datangnya lebih ribet daripada birokrasi itu sendiri? Makanan sehari-hari. Namun, ketika muncul wacana bahwa program studi (prodi) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Sosial Humaniora (Soshum) perlu ditutup karena dianggap tidak relevan, di situlah saya terdiam cukup lama dan bertanya dalam hati: negara ini sebetulnya mau apa?

Kenapa negara hanya butuh 20.000 guru per tahun

Pada 23 April 2026, Plt. Sekjen Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menyampaikan dalam sebuah simposium di Bali bahwa prodi perlu dipilih, dipilah, dan kalau perlu ditutup. Salah satu alasannya, setiap tahun dicetak 490.000 sarjana keguruan, sementara kebutuhan calon guru hanya 20.000 orang.

Angka itu memang terdengar mengejutkan. Namun, jika kita mau sedikit saja berpikir lebih dalam, pertanyaannya bukan kenapa produksi sarjana keguruan kebanyakan. Pertanyaannya adalah: kenapa negara hanya butuh 20.000 guru per tahun?

Apakah karena Indonesia sudah kelebihan guru yang berkualitas? Ataukah karena ribuan sekolah di pedalaman Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara masih kekurangan guru, tetapi negara tidak memiliki sistem distribusi dan insentif yang cukup untuk mengisi kekosongan itu?

Kalau masalahnya ada di sana, menutup prodi bukanlah solusi. Itu seperti menutup pabrik beras karena gudang penuh padahal rakyat yang kelaparan masih banyak, hanya saja logistiknya tidak jalan.

Ilmu sosial itu bukan aksesori

Di balik wacana penutupan prodi ini, ada asumsi yang lebih mengganggu: bahwa ilmu sosial dan humaniora adalah bidang pelengkap yang bisa dipangkas ketika sedang tidak musim.

Padahal, coba pikir sebentar. Kita sedang gencar-gencarnya bicara soal kecerdasan buatan, transformasi digital, dan hilirisasi teknologi. Semua terdengar canggih dan menjanjikan. Namun, siapa yang akan memastikan bahwa teknologi yang kita bangun itu tidak menciptakan ketidakadilan baru? Siapa yang akan bertanya: teknologi ini untuk siapa, dan mengorbankan siapa?

Bukan hanya insinyur yang bisa menjawab pertanyaan itu. Justru orang-orang yang dididik dalam tradisi ilmu sosial, humaniora, dan pendidikan kewarganegaraanlah yang selama ini menjaga agar kemajuan tidak kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Ironisnya, data riset nasional 2026 justru menunjukkan bahwa bidang sosial humaniora mendominasi penerima pendanaan dengan 38,36 persen dari total kegiatan, melampaui kesehatan, pangan, bahkan rekayasa keteknikan. 

Jadi, di satu sisi negara membiayai riset Soshum dalam jumlah besar, tetapi di sisi lain, negara mempertimbangkan untuk menutup prodi yang melahirkan para penelitinya. Jika ini bukan kontradiksi, saya tidak tahu harus menyebutnya apa.

Nasib ribuan dosen ditentukan oleh pejabat yang asal omong

Wacana sebesar ini, yang menyangkut nasib ribuan dosen, ratusan ribu mahasiswa, dan seluruh ekosistem keilmuan sosial-humaniora Indonesia, dilontarkan begitu saja di sebuah simposium tanpa kajian akademik yang memadai dan tanpa konsultasi dengan para pemangku kepentingan yang terdampak langsung.

Baru setelah ramai dikritik, pemerintah melunak dan menegaskan bahwa penutupan prodi hanyalah opsi terakhir. Mereka bilang bidang keilmuan sosial, humaniora, serta pendidikan tetap memiliki posisi penting dalam arsitektur talenta nasional.

Bagus. Namun, kenapa klarifikasi itu baru datang setelah protes?

Di negara yang serius membangun tata kelola yang baik, kajian mendalam seharusnya mendahului pernyataan publik, bukan sebaliknya. Kata-kata pejabat bukan sekadar pernyataan; ia adalah sinyal yang dibaca jutaan orang yang menggantungkan masa depannya pada arah kebijakan. 

Jika seorang dokter baru meralat diagnosisnya setelah pasien panik, kita akan mempertanyakan kompetensinya. Mengapa kita tidak menerapkan standar yang sama pada kebijakan publik?

Pada akhirnya, menjadi dosen dan mendidik untuk apa?

Saya tidak anti-teknologi. Saya tidak menolak bahwa perguruan tinggi perlu relevan. Namun, relevansi bukan hanya soal seberapa cepat lulusan diserap industri.

Iklan

Relevansi pendidikan tinggi juga diukur dari seberapa jauh ia berhasil membentuk manusia yang utuh. Manusia yang tidak hanya tahu cara kerja algoritma, tetapi juga tahu mengapa algoritma itu perlu dipertanyakan. Manusia yang tidak hanya cakap bekerja, tetapi juga tahu bagaimana menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Bangsa yang berhenti mendidik pemikirnya bukan bangsa yang sedang berhemat. Ia adalah bangsa yang sedang menggadaikan masa depannya pelan-pelan dengan alasan yang terdengar sangat rasional.

Sebagai dosen yang setiap hari masuk kelas untuk mencegah hal itu terjadi, saya harap negara ini segera menemukan jawaban atas pertanyaan yang paling mendasar: sebetulnya, kita mendidik untuk apa?

Penulis: Hamdi Abdullah Hasibuan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas dan Esai menarik lainnya di Mojok.co

 

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2026 oleh

Tags: Dosengaji dosenguruKampuspilihan redaksi
Hamdi Abdullah Hasibuan

Hamdi Abdullah Hasibuan

Pengajar di Universitas Riau.

Artikel Terkait

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial MOJOK.CO

Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu

8 Agustus 2026
Mahasiswa KKN UGM dan LPS berkolaborasi hadirkan edukasi literasi keuangan di desa terluar Mentawai MOJOK.CO

Literasi Keuangan untuk Desa Terluar di Mentawai: Jadi Bekal Masyarakat Desa Hadapi Ragam Persoalan Finansial

10 Agustus 2026
ilustrasi - PSEL DIY di dekat TPA Piyungan. MOJOK.CO

Pemda DIY Bakal Serap 1.000 Tenaga Kerja Khususnya Warlok untuk Olah Sampah Jadi Energi Listrik di Dekat TPA Piyungan

11 Agustus 2026
Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras MOJOK.CO

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras

10 Agustus 2026
Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu MOJOK.CO

Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu

11 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.