Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 April 2026
A A
buka usaha di desa, pengusaha.MOJOK.CO

Ilustrasi - buka usaha bikin stres (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Usaha di desa bisa carut-marut karena racun bernama “kekeluargaan”

Di toko Bagus, racun berkedok kekeluargaan ini merajalela. Apalagi, sebagian karyawan di toko itu masih memiliki hubungan kerabat atau anak dari tetangga dekat yang dulu sengaja dititipkan bekerja kepada bapaknya Bagus. Batasan profesionalisme benar-benar lenyap.

Mobil pikap operasional toko seringkali dipinjam tiba-tiba tanpa meminta izin kepada Bagus. Alasannya hanya untuk mengangkut gabah dari sawah. Belum lagi kebiasaan karyawan yang dengan santai mengambil segenggam paku, kawat sisa, atau semen dari toko untuk mendandani rumah mereka sendiri. 

Kalau Bagus menegur, jawabannya selalu berlindung di balik tameng persaudaraan. “Halah Mas Bagus, sama kerabat sendiri masa perhitungan.” Kira-kira demikian kalimat yang sering didengar Bagus.

Merasa tokonya dikelola dengan cara yang semrawut, kesabaran Bagus akhirnya habis. Ia mencoba memberontak dengan menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) ala perusahaan di kota. 

Bagus mulai memberlakukan aturan potong gaji bagi karyawan yang sering bolos tanpa kejelasan, melarang keras kasbon melebihi batas tertentu, dan mengunci kunci mobil pikap di laci kasir agar tidak sembarangan dipakai.

Bukannya membaik, langkah tegas ini malah memicu masalah baru. Karyawan-karyawannya yang tidak terima langsung mengadu kepada bapak Bagus. Sang bapak, yang sudah bertahun-tahun merawat hubungan baik dengan warga desa, langsung turun tangan mengintervensi aturan tersebut.

“Ya Bapak cuma bilang, kayak, ‘sudah le, nggak enak sama tetangga. Apalagi itu masih keponakan Mbahmu sendiri. Biarkan saja.’ Gitu-gitu lah, kan aku muak juga lama-lama.”

Bagus tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tersandera oleh budaya sungkan dan campur tangan orang tuanya sendiri. Ia sama sekali tidak punya kuasa penuh di tokonya. Aturan yang ia buat batal demi hukum adat kekeluargaan yang telanjur mengakar.

Akhirnya, niat awal Bagus untuk menikmati slow living di desa hancur berantakan. Niat hati menjelani hari-hari penuh kedamaian dengan meneruskan usaha milik keluarga di desa, ia malah dibikin stres tak karuan.

“Kalau kamu nggak siap, memang kalau masih muda baiknya kerja aja kantoran di kota. Atau apa aja deh, yang penting jangan sok-sokan mikir bisa slow living di usia muda,” kata Bagus, yang sejak akhir 2025 lalu memutuskan kembali kerja kantoran di Semarang.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 10 April 2026 oleh

Tags: bisnis anak mudabisnis di desabuka usaha di desaDesaetos kerjaetos kerja orang desaetos kerja pemuda desaide bisnis di desaide usaha di desapilihan redaksislow livingslow living di desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO
Sehari-hari

Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan

10 April 2026
Buka bisnis di desa sengsara, tidak bikin slow living MOJOK.CO
Sehari-hari

Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

9 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
#NgobroldiMeta jadi upaya AMSI dan Meta dukung pelaku media memproduksi jurnalisme berkualitas di era AI MOJOK.CO

#NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

10 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.