Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Redaksi oleh Redaksi
2 April 2026
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di lereng Gunung Muria, parijoto bukan sekadar buah liar. Ia tumbuh bersama cerita. Dalam tutur masyarakat, buah ini lekat dengan dakwah Sunan Muria—dipercaya baik untuk ibu hamil, untuk kesehatan janin, bahkan jadi bagian dari ikhtiar pasangan yang belum punya keturunan. Mitos itu bertahan, dan anehnya, sebagian mulai dibenarkan oleh penelitian tentang kandungan antioksidanya.

Tapi di balik cerita, ada realita yang lebih keras. Parijoto cepat rusak dan sangat tergantung musim. Saat panen raya, harganya jatuh drastis. Bahkan dulu, buah yang melimpah sering dibiarkan busuk atau diberikan ke ternak karena tak terserap pasar. Petani pun sempat kehilangan semangat.

Titik balik datang ketika parijoto mulai diolah. Sekitar 2015, muncul ide sederhana: kalau buahnya tak tahan lama, kenapa tidak diubah bentuknya? Dari situ lahir berbagai produk—sirup, permen, teh, sampai kombucha. Awalnya dianggap aneh, tapi pelan-pelan diterima. Sejak 2017, pengolahan ini makin serius dan mulai melibatkan lebih banyak petani.

Dampaknya terasa. Parijoto tak lagi bergantung sepenuhnya pada musim. Buah yang dulu terbuang kini punya nilai. Bahkan muncul petani baru, serta peluang lain seperti reseller dan wisata kebun. Orang tak harus punya lahan untuk ikut merasakan manfaatnya.

Yang menarik, semua ini tetap berjalan tanpa meninggalkan alam. Parijoto memang cocok hidup di lingkungan lembap pegunungan dan tidak membutuhkan pupuk kimia. Ia ditanam berdampingan dengan kopi dan pohon besar lain sebagai bagian dari konservasi. Alam tetap terjaga, ekonomi tetap jalan.

Di balik semua itu, ada filosofi yang masih dipegang. Ajaran Sunan Kalijaga dan Sunan Muria seperti pager mangkok—berbagi kepada sesama—dan topo ngeli—mengikuti arus tanpa kehilangan arah—terasa relevan sampai sekarang. Bahkan dalam bisnis: memanfaatkan digital, tapi tidak larut di dalamnya.

Parijoto akhirnya bukan cuma buah kecil dari lereng gunung. Ia adalah cara bertahan: menjaga tradisi, merawat alam, sekaligus mencari jalan hidup di tengah perubahan.

Tags: ajaran sunan muria tentang alambuah parijotogunung muriakalcersok

Terpopuler Sepekan

Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

10 April 2026
Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living MOJOK.CO

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.