Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
9 April 2026
A A
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Ilustrasi - Slow living di desa (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Membuat bisnis di desa awalnya tampak menggiurkan, sebagai salah satu opsi pekerjaan untuk meninggalkan kota demi slow living. Namun, setelah menghadapi realita kebiasaan warga desa, justru bayangan nikmatnya slow living tersebut buyar seketika. 

***

Lelah jadi budak korporat, Vikri (26) sempat berpikir serius untuk resign pekerjaan di kota. Toh hasilnya juga segitu-segitu aja. Tidak ada pergerakan kelayakan hidup yang signifikan. 

Pikiran pendek Vikri saat itu adalah mengalokasikan tabungan sebagai modal membuat bisnis toko di desa. Entah toko kelontong atau toko lain yang belum ada di desa. 

Sebab, dalam pengamatannya, toko di desanya di Jawa Tengah pasti memiliki pelanggan. Dengan kata lain, uang pasti akan terus berputar.

Pemilik toko kelontong pun tampak menjalani hidup secara fleksibel. Waktunya salat jemaah di masjid, ya berangkat ke masjid. Pagi-pagi tidak perlu buru-buru berangkat kerja. Kalau butuh jagongan ya tinggal jagongan kapan saja. Benar-benar gambaran slow living yang Vikri dambakan. 

Bisnis di desa tidak seindah bayangan, makan hati dengan kebiasaan warga desa

Saat mengutarakan bayang-bayang merintis bisnis di desa, ibu Vikri langsung menyergah kalau itu justru akan membuat Vikri lebih sengsara. Apalagi jika bisnis umum seperti membuka toko kelontong. 

Sebagai orang yang menghabiskan waktu lebih banyak di desa, ibu Vikri membeberkan beberapa situasi yang akan menyulitkan Vikri, alih-alih membuatnya slow living. 

“Ya memang bakal punya pelanggan, setiap hari ada saja yang belanja. Tapi daya beli kan terbatas. Maksudnya, belinya nggak seberapa. Intensitas warga belanja pun nggak tinggi sebagaimana di kota,” ungkap Vikri, Rabu (8/4/2026). 

Itulah kenapa, kata ibu Vikri, balik modal saja sudah syukur. Boro-boro mencari untung. Bahkan masih ada orang yang punya toko tetap terjerat utang karena merasa pendapatan tidak cukup untuk kebutuhan yang lebih besar. 

Lah bagaimana mau dapat untung, kebiasaan warga desa saja membuat makan hati: suka utang, tapi bayarnya entah kapan. 

“Kata ibu ini riil terjadi. Susahnya adalah kalau yang belanja udah ngerasa deket sama pemilik toko/warung. Itu pasti sering banget utang belanjaan. Utang duit non-belanjaan pun sering karena mengira si pemilik toko duitnya banyak hahaha,” kata Vikri. “Masalahnya bayarnya entah kapan.”

Gimana mau slow living, risiko dimusuhi padahal sudah benar

Loh kan bisa saja nggak membolehkan utang hingga menagih utang yang belum dibayar? 

Masalahnya tidak sesederhana ibu. Seturut penjelasan dari ibunya, kata Vikri, posisi pemilik toko benar-benar serba salah kalau warga sudah bilang “utang”. 

Iklan

“Risikonya dimusuhi. Karena kalau nggak ngutangi, langsung dicap pelit,” ujar Vikri.

“Halah, wong nanti juga dibayar kok nggak boleh utang,” misalnya ada oknum warga di desa Vikri yang berkata begitu terhadap pemilik toko yang enggan memberi utang.

Sementara kalau menagih utang yang tidak kunjung dibayar, pasti akan langsung dicap kejam dan jadi bahan rasan-rasan dengan fakta yang dibolak-balik.  “Eh yo yo, utang baru kemarin aja kok sudah ditagih-tagih, nauzubillah,” respons oknum warga yang tidak diterima biasanya seperti itu. 

Vikri pernah menyanggah sang ibu: Ya sudah tidak masalah. Sekalian saja dimusuhi. Biar si tukang utang tidak balik lagi ke toko, biar tidak utang-utang lagi. Daripada terus-terusan makan hati. 

Hanya saja, seperti yang disinggung sebelumnya, si tukang utang yang terlanjur kesal sudah lebih gercep membolak-balikkan fakta ke warga desa lain. Tujuannya adalah agar warga lain ikut kesal, membela si tukang utang, bahkan di titik fatal memutuskan tidak akan belanja lagi di toko itu. 

Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…

Harga naik langsung dicap culas, nyoba bisnis baru terbentur “musiman”

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 9 April 2026 oleh

Tags: bisnis di desaide bisnis di desaslow livingslow living di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO
Catatan

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO
Esai

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO
Urban

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

8 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM di Jawa Tengah dan DIY Berjalan Normal dan Lancar MOJOK.CO

Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM di Jawa Tengah dan DIY Berjalan Normal dan Lancar

8 Juli 2026
Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.