Harga naik jadi persoalan serius, dicap culas
Jangankan persoalan utang-piutang, masalah harga naik saja, kata ibu Vikri, bisa menjadi persoalan serius.
“Warga itu carinya toko yang harganya murah. Nah, masalahnya juga, kata ibuku, nggak sedikit warga di desaku yang nggak update soal situasi pasar. Jadi kalau harga naik, mereka keberatan,” jelas Vikri, menjelaskan ulang paparan sang ibu.
“Kemarin saja harganya nggak semahal ini, kok tiba-tiba naik aja.” Kalimat semacam itu siap-siap saja terlontar kepada si pemilik toko/warung.
Sialnya, tidak akan berhenti di situ. Lagi-lagi narasi miring pun bakal digiring ke warga desa lain. Mencoba menggiring opini kalau si pemilik toko adalah orang culas dan nyari untungnya tidak kira-kira.
“Respons yang umum buat ini: ‘Harga naik terus biar naik haji itu!’. ‘Harga dinaikin terus biar kaya sendiri. Memang kedonyan (terlalu duniawi!’,” ucap Vikri.
Nyoba bisnis baru di desa, tidak bertahan lama karena terbentur “musiman”
Vikri mencoba berpikir keras, kira-kira bisnis apa yang benar-benar baru yang bisa memikat di desa. Namun, melihat kasus beberapa temannya yang pernah mencoba, opsi ini pun tidak bagus-bagus amat.
Misalnya, ada teman Vikri yang mencoba membuka bisnis kuliner atau jajanan ala kota yang belum ada di desa. Bayangan si teman, karena banyak anak muda di desa yang sudah mengakses TikTok, harapannya bisnis kuliner baru tersebut bisa sustain.
“Awalnya emang menjanjikan, Cok. Itu salah satu yang membuatku tergiur buat meninggalkan kota. Karena laris banget. Bayangan slow living benar-benar udah di depan mata lah,” beber Vikri.
Akan tetapi, laris manis itu hanya bertahan di satu bulan pertama. Selebihnya kering pemasukan. “Ya karena awal-awal ramai itu karena penasaran, setelahnya mengalami kebosanan,” sambung Vikri.
Ini mirip dengan situasi brand-brand viral yang mencoba masuk ke kabupaten kecil—seperti Mixue, Mie Gacoan, dan sejenisnya. Awal-awal masuk, langsung diserbu pelanggan. Tapi tak lama kemudian langsung sepi sama sekali. Pertama, karena rasa penasaran sudah terjawab. Kedua, daya beli jelas terbatas. Apalagi bagi orang kabupaten–dan desa—dengan uang sekadarnya. Tidak mungkin sering-sering mengalokasikan uang untuk jajanan sebagaimana orang-orang di kota.
Saat mencoba bisnis baru lagi, polanya pun berulang. Alhasil, ujung-ujungnya si teman memutuskan untuk kembali mencari peruntungan di kota.
Itu kemudian membuat Vikri berpikir ulang: kayaknya butuh skill lebih kalau mau merintis bisnis di desa. Sehingga, untuk saat ini, keinginannya untuk resign demi slow living masih tertunda karena ketakutan bakal gagal dan sengsara ujungnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














