Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
8 April 2026
A A
Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living MOJOK.CO

Ilustrasi Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tahun 2023 lalu, Dimas dan istrinya, mengambil keputusan yang mungkin diidam-idamkan banyak pekerja Jakarta: kembali ke desa. Setelah resmi menikah, mereka bersepakat untuk meninggalkan ibu kota dan pulang ke kampung halaman orang tua Dimas. Niat mereka cuma satu, mencari ketenangan jiwa dengan menjalani gaya hidup slow living.

Ekspektasi awal mereka tergambar sangat indah. Hidup jauh dari kemacetan, bernapas dengan udara pagi yang masih bersih, dan tentu saja, menikmati biaya hidup yang tidak mencekik leher. 

“Soalnya di desa harga kebutuhan pokok jauh lebih masuk akal dibandingkan kota. Jauh-jauh lebih murah,” kata Dimas, Selasa (7/4/2026).

Pada tahun pertama, ekspektasi itu benar-benar menjadi kenyataan. Mereka hidup sangat enak dan tergolong makmur. Istri Dimas membuka usaha online shop yang khusus menjual pakaian bekas layak pakai (thrift) dan barang-barang estetik. Ia menyulap salah satu kamar kosong di rumah menjadi gudang. 

Sementara itu, Dimas bekerja freelance sebagai seorang digital ads specialist. Kerjanya mengelola dan memasang iklan media sosial untuk klien-klien perusahaan di kota besar.

Alhasil, gaji level ibu kota yang dipadukan dengan pengeluaran standard desa adalah kemewahan. Saldo tabungan mereka cepat naik. Apalagi, mereka belum punya anak, sehingga pengeluaran sangat irit.

Dianggap “aneh” warga desa, nggak ngapa-ngapain tapi banyak uang

Sayangnya, fase “bulan madu” di desa ini ternyata tidak berumur panjang. Memasuki tahun kedua, ekspektasi ketenangan jiwa itu pelan-pelan hancur lebur. 

Kata Dimas, slow living yang mereka impikan bertabrakan keras dengan budaya srawung khas warga desa yang nyaris tidak mengenal konsep ruang pribadi atau privasi.

Misalnya saja, gesekan pertama muncul dari urusan jam kerja. Karena punya usaha online shop, istri Dimas sering harus melakukan live streaming jualan atau mengemas puluhan pesanan pelanggan sampai larut malam. Dimas pun sering begadang memantau lalu lintas grafik iklan kliennya, atau membantu istrinya bekerja. 

“Jadinya, ya kami sering baru bangun tidur agak siang. Jam delapan, kadang jam sembilan gitu baru nongol,” ungkapnya.

Sialnya, bagi budaya warga desa, memulai aktivitas pada siang hari ibarat sebuah aib. Pasangan muda ini mulai dicap sebagai pemalas. 

Ditambah lagi, hampir setiap sore ada kurir ekspedisi yang datang menjemput karung-karung paket pesanan baju istri Dimas, atau mengantarkan paket belanjaan mereka. 

“Ya tiap ada kesempatan aku udah jelasin kerja kami gini-gini, memang fleksibel. Tapi kadang warga desa nggak mau tahu,” jelasnya. “Jadi ya mulai kedengeran tuh kata-kata nggak enak, ‘kerja nggak jelas, bangun siang, tapi duit gacor, tiap sore ada kurir datang’.”

Dikira pemain judol yang andal

Kecurigaan warga desa itu akhirnya mencapai puncaknya pada suatu sore, yang kata Dimas, “sangat konyol”. Saat itu, Dimas sedang duduk di teras sambil menyesap kopi. Matanya fokus menatap layar laptop yang menampilkan grafik naik-turun dari data performa iklan kliennya. Tiba-tiba, seorang bapak-bapak tetangga mampir.

Iklan

Awalnya, bapak itu hanya berbasa-basi. Namun, tiba-tiba ia mengucapkan kalimat yang sontak bikin Dimas kaget.

“Dia minta diajarin main slot yang gacor itu gimana,” ucap Dimas.

Dimas hanya bisa melongo. Ia bingung setengah mati memikirkan cara menjelaskan bedanya grafik data iklan digital yang ia pantau dengan putaran mesin judi online kepada bapak tersebut. 

“Kalau dijelaskan panjang lebar, takunya tidak paham. Tapi kalau ditolak, takut dibilang pelit ilmu.”

Baca halaman selanjutnya…

Kena mental karena diburu-buru buat punya anak. Sampai stres! 

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 10 April 2026 oleh

Tags: Desahidup di desaperumahanpilihan redaksislow livingslow living di desatinggal di desatinggal di perumahan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO
Catatan

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Tahlilan ibu-ibu di desa: acaranya positif tapi ternodai kebiasaan gibah dan maido MOJOK.CO
Sehari-hari

Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido

28 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Cerminan pemberdayaan dan kontribusi nyata perempuan di Kota Semarang MOJOK.CO

Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University

22 April 2026
Minyak wangi cap lang lebih bagus dari FreshCare. MOJOK.CO

Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

27 April 2026
Solo date lebih asik daripada nongkrong bareng teman. MOJOK.CO

“Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.