Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
20 Mei 2026
A A
Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO

Jakarta untuk orang gila kerja dan Jogja untuk masa pensiunan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jakarta bukan lagi primadona. Dulu, ia dikenal sebagai pusat tujuan utama migrasi penduduk Indonesia. Berbagai lapangan pekerjaan pun terbuka, menarik minat para perantau untuk mengadu nasib di sana. Namun kini, pola urbanisasi sudah berubah seiring dengan gaya hidup masyarakat urban yang semakin dinamis. Buktinya, terjadi pergeseran tujuan tempat tinggal masyarakat dari kota besar seperti Jakarta ke Jogja.

Hal itu dapat dilihat dari Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang secara implisit menyebut, jumlah penduduk yang keluar dari Jakarta lebih besar dibandingkan yang masuk, alias migrasi neto negatifnya minus sebesar 5,40 persen.

Iklan

Mendengar temuan tersebut, Sitaresmi (52) tak terlalu kaget. Perempuan yang pernah merantau ke Jakarta selama 25 tahun itu, kini malah lebih betah tinggal di Jogja. Tak bisa dipungkiri, sebelum krisis 1998, Sita mengaku Jakarta menjadi kota impiannya.

“Jakarta tampak keren, dinamis, dan sepertinya untuk mengembangkan karier di sana bakal lebih mudah. Pilihan lowongan kerja pun banyak seperti perbankan, manufaktur, bahkan proses rekrutmen di Kementerian dilakukan secara regular,” jelas Sita kepada Mojok, Senin (18/5/2026).

Masalahnya, jika sekarang Sita disuruh kembali atau menetap tinggal di Jakarta, ia memilih ogah, “never! Biarpun gajinya lebih besar,” tegasnya.

Masalah Jakarta yang semakin runyam

Sejak mengadu nasib di Jakarta tahun 1997, Sita mengaku kota itu tak lagi sama. Bukannya berbenah ke arah yang lebih positif, masalah Jakarta justru semakin runyam. Seperti jalanan yang terkenal macet, belum lagi aturan ganjil-genap yang menyulitkan.

“Artinya, harus punya 2 mobil kalau nggak mau pakai transportasi umum yang terkenal penuh sesak,” ujar Sita.

Belum lagi, kondisi lingkungannya yang tak sehat. Sebut saja kualitas udara di sana, dia menempati posisi terburuk keenam di dunia. Sampai sekarang, Selasa (19/5/2026), indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 137 dengan angka partikel halus alias masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. 

Sementara di Jogja, Sita masih bisa mengakses tempat-tempat bernuansa alam dengan mudah. Mau ke gunung ayo; mau ke laut gas! Bahkan pemandangan hijau seperti sawah juga tak sulit didapat.

Jakarta tak menarik jadi tempat tinggal

Begitu pula yang dirasakan Angga saat pindah dari Jakarta ke Jogja di tahun 2021. Dulu, saat kerja di Jakarta, Angga mengaku mudah stres dan gampang capek karena harus bangun pagi-pagi sekali untuk mengejar jam masuk kerja. 

“Di sisi lain, aku harus pulang larut malam demi menghindari jam-jam macet di jalan,” kata Angga.

Senada dengan Angga, Sita berujar kerja di Jakarta artinya harus rela mengorbankan mental. Bahkan untuk berkendara di jalan saja harus dilatih sabar. Belum lagi, menghadapi tukang parkir yang sering minta tarif sambil bentak-bentak.

“Mau nggak mau, warga Jakarta harus berani berjuang, berdebat, kadang-kadang bahkan sampai berantem,” kata Sita.

Saking kerasnya Jakarta, ucap Sita, kembalian Rp500 saja susah didapat. Oleh karena itu, demi menginginkan kualitas hidup yang lebih baik, baik Angga dan Sita memilih keluar dari Jakarta dan pindah ke Jogja.

Iklan

Menurut Kepala Program Studi Sarjana Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), I Dewa Made Frendika Septanaya, Jakarta kini belum tentu menarik sebagai tempat tinggal jangka panjang, meskipun masih menjadi episentrum ekonomi yang menarik untuk mobilitas sosial. 

Sebab, kata dia, terdapat persaingan tenaga kerja yang semakin tinggi dan biaya hidup yang mahal. Menurutnya, Jakarta telah bertransformasi dari kota industri menjadi kota jasa dan teknologi, sehingga tenaga kerja yang dibutuhkan lebih ke spesialis.

“Jakarta tidak lagi mudah dimasuki oleh semua kelompok pencari kerja seperti dekade sebelumnya,” ujarnya dikutip dari Suara Surabaya, Selasa (19/5/2026).

Jogja dengan segala kebebasan berekspresinya

Selain tidak menarik sebagai tempat tinggal, warga Jakarta juga sudah punya opsi daerah yang menawarkan fasilitas maju seperti Jogja, terutama dalam hal pendidikan. Kota yang mendapat julukan Kota Pelajar itu, kata Sita, selalu menghadirkan kegiatan berkualitas tiap minggunya.

“Banyak sekali kegiatan komunitas yang berkualitas, mahal hingga murah, bahkan kadang gratis. Misalnya, tari klasik kraton, walking trip sejarah, workshop bikin aneka produk, komunitas spiritual, komunitas dog lovers, sepedaan, pecinta museum, komunitas lari,” kata Sita. 

“Atau kegiatan akademis dan seni yang berskala Internasional, contohnya symposium Kraton Jogja, agenda di GIK UGM, ART JOG, Prambanan Jazz Festival, Jogja Netpac Film Festival, Royal Orchestra-nya Kraton, sampai pameran rutin di museum. Bahkan di Jakarta saja levelnya masih kecil,” lanjutnya.

Jakarta vs Jogja, siapa yang paling cocok tinggal?

Selain agenda umum seperti di atas, fasilitas publik di Jogja juga tak kalah dengan Jakarta. Sita berujar para orang tua tak perlu khawatir mencarikan anak-anak mereka ke sekolah swasta internasional. Selain pendidikan, fasilitas kesehatan juga tergolong bagus. 

“Di sini bahkan ada regular international flight. Kalau ingin ke Singapore atau Kuala Lumpur, ada direct flight. Bandingkan sama Semarang dan Bandung, ribet dan mesti ke Cengkareng dulu,” jelas Sita.

Pada akhirnya, baik Angga dan Sita pun sepakat jika Jogja cocok sebagai tempat pensiunan maupun keluarga yang baru memulai rumah tangga. Namun, bagi orang yang masih mengukur kesuksesan dengan standar kota metropolitan, Kota Jogja mungkin tak akan cocok. 

“Bagi yang ukuran suksesnya adalah hidup mindful, bermakna, berempati, menikmati pertemanan berdasar kesamaan minat, frekuensi dan kesadaran, Jogja lah tempatnya,” ujar Sita.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Mei 2026 oleh

Tags: gila kerjahidup mindfuljakartaJogjaslow living
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO
Otomojok

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha Terbaik Idola Orang Jambi MOJOK.CO
Otomojok

Setelah Melakukan Pengamatan, Saya Menemukan Fakta Bahwa Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha yang Menemukan Habitat Alaminya di Jambi

25 Juni 2026
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Satu Dekade Land of Leisures: Merawat Standar Kurasi dan Meneteskan Rezeki hingga Akar Rumput

Satu Dekade Land of Leisures: Merawat Standar Kurasi dan Meneteskan Rezeki hingga Akar Rumput

30 Juni 2026
Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja MOJOK.CO

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja

24 Juni 2026
Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri? MOJOK.CO

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

29 Juni 2026
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
Derita memelihara dan menyayangi kucing sepenuh hati di desa. Anabul dianggap hewan goblok MOJOK.CO

Sulitnya Memelihara dan Menyayangi Kucing di Desa: Dianggap Aneh dan Nggak Guna, Anabul Hadapi Hinaan dan Racun Tetangga

24 Juni 2026
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.