Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
4 Mei 2026
A A
Penumpang KRL Jakarta lebih manusiawi dibanding penumpang KRL/Commuter Line Jogja

Ilustrasi - Penumpang KRL (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagian orang mengatakan menaiki Commuter Line di Jakarta adalah pertarungan. KRL di Jakarta konon hanya dapat ditumpangi oleh orang-orang tangguh, tetapi kenyataannya kelakuan penumpang di sana lebih manusiawi daripada penumpang KRL Jogja yang tak sadar diri.

***

Minggu (25/4/2026) lalu, saya menaiki KRL Jogja setelah dua tahun lamanya dari terakhir kali menjadi penumpang Commuter Line tersebut. 

Mulanya, tidak terlalu ada masalah saat menaiki rute Stasiun Jogja menuju Stasiun Klaten. Namun, masalah tiba tanpa diduga dalam perjalanan kembali ke Jogja.

Di sana, sebagai seseorang yang sempat tinggal selama satu tahun di Jakarta, saya menemukan kenyataan bahwa penumpang KRL Jakarta yang selama ini dianggap “buruk” ternyata jauh lebih baik dari penumpang KRL Jogja. Akibatnya saya tak tahan, lalu memilih turun lebih awal di Stasiun Maguwo, menyerah bertahan dengan ulah penumpang di kereta ini hingga mencapai tujuan asal.

Penumpang KRL Jakarta lebih tahu diri soal adab menaiki transportasi umum

Pengalaman serupa juga dirasakan Amira (25). Berkaca dari pengalamannya menaiki KRL selama lebih dari satu tahun bekerja di Jakarta, Amira mengatakan penumpang KRL Jakarta lebih baik berdasarkan kesadarannya.

Menurut dia, mereka lebih tahu bagaimana aturan tak tertulis di KRL berlaku. Misal, aturan mengenai alur keluar masuk penumpang yang mengharuskan penumpang dengan tujuan yang terbilang jauh untuk masuk ke bagian dalam kereta, sedangkan penumpang dengan tujuan dekat mengambil posisi siaga di dekat pintu.

Di Jogja, perempuan ini tidak menemukan kesadaran untuk mengikuti aturan itu.

Bahkan, orang-orang yang seharusnya tidak turun lebih awal, malah terhalang untuk masuk ke bagian dalam gerbong. Mereka juga harus mengorbankan diri naik-turun setiap pemberhentian stasiun karena keegoisan penumpang lainnya.

“Selama di KRL Jakarta aku sadar orang-orangnya itu sudah aware soal flow keluar masuk stasiun. Misal, kalau di Jakarta itu pasti mendahulukan yang turun dulu pasti mereka udah menyisihkan dulu sendiri, kalau di Jogja itu nggak, bahkan orang yang nempel pintu harus turun dulu,” kata Amira kepada Mojok, Senin (4/5/2026).

“Terus di Jakarta itu kalau stasiun mau turun udah dekat mereka akan dekat pintu gak masuk ke dalem, kalau jauh masuk ke dalem biar gak numpuk pintu. kalau di Jogja mau numpuk pintu semua,” kata dia menambahkan.

Penumpang KRL Jogja isinya nirempati

Kegeraman Amira bertambah ketika bercerita bahwa penumpang KRL Jogja tidak memiliki empati terhadap penumpang lainnya. Tulisan yang ditempel di kereta untuk mengingatkan penumpang prioritas tidak diacuhkan, malahan mereka berpura-pura tidak tahu demi mempertahankan tempat duduk.

Salah satu pengalaman saat menaiki KRL dari Stasiun Maguwo ke Stasiun Klaten yang menimpa Amira menunjukkan, penumpang dalam Commuter Line ini perlu petugas untuk memperingatkan mereka.

Seolah-olah kesadaran diri sendiri sulit dibentuk, meskipun berhadapan dengan ibu yang tidak hanya membawa dirinya, tetapi juga menaiki kereta sambil menggendong bayi.

Iklan

“Aku juga liat ibu-ibu bawa bayi, tapi mbak yang masih muda itu nggak mau nawarin tempat duduknya. Harus petugas dulu yang ingetin untuk geser. Kalau di Jakarta jarang kayak gitu,” kata dia.

Wanda (24) menyetujui hal ini. Ia bilang, pernah menyaksikan langsung anak muda yang tidak mau mengalah dengan orang tua perihal kursi di kereta.

Padahal, mengingat usia dan tenaga mereka yang masih muda, seharusnya anak muda ini memutuskan dengan kesadaran penuh untuk langsung menyerahkan kursinya kepada mereka yang telah lanjut usia (lansia).

“Anak mudanya nggak mau kalah sama orang tua, kurang ajar,” kata Wanda.

Dibanding di Jakarta, penumpang KRL Jogja itu bertingkah nggak tahu tempat umum

Di transportasi umum yang sama, Wanda juga pernah terganggu karena tingkah tidak tahu tempat oleh penumpang. Perempuan ini menemukan laki-laki yang tidur menggunakan headset, tetapi kepalanya mendongak mengganggu penumpang lain.

Permasalahannya adalah ekspresi tidur pulas itu membuat penumpang lain merasa serbasalah. Mereka jadi melihat orang tidur yang belum tentu pantas untuk disaksikan, tetapi juga tidak dapat menghindar karena ruang dalam kereta yang terbatas. 

“Apalagi mas-mas tidur pakai headset nggak mau nunduk,” kata dia.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Maria (33) yang menyebut tak tahan dengan tingkah penumpang KRL Jogja. Mereka tidak peduli dengan volume bicara yang dapat mengganggu orang-orang disekitarnya.

Penumpang KRL Jogja dapat berbincang-bincang satu sama lain seakan-akan mereka menguasai tempat itu sendiri, padahal sedang berada di ruang publik. Inilah yang mengganggu, kata Maria, mengingat mereka menciptakan kebisingan yang ujungnya berkompetisi satu sama lain.

“Berisik sumpah, orang-orang penumpang KRL Jogja itu berisik,” kata dia.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2026 oleh

Tags: cara naik KRL Jogjakelakuan penumpang KRLKRLKRL jakartaKRL JogjaKRL Jogja vs KRL Jakartakrl jogja-solopengguna KRLRute KRLtarif krl
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL
Catatan

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
Usul Menteri PPPA soal pindah gerbong perempuan di KRL hanya solusi instan, tak menyentuh akar persoalan MOJOK.CO
Kabar

Usulan Menteri PPPA Pindah Gerbong Perempuan di KRL Solusi Instan: Laki-laki Merasa Jadi Tumbal, Tak Sentuh Akar Persoalan

29 April 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO
Urban

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO
Esai

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus "Menyangkal", Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan.MOJOK.CO

Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus “Menyangkal”, Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan

10 Juni 2026
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026
Solusi agar lansia di Indonesia tidak rentan miskin tanpa dana pensiun untuk putus siksaaan finansial sandwich generation MOJOK.CO

Lansia Indonesia Rentan Miskin Tanpa Dana Pensiun bikin Anak Muda Tersiksa Finansial Jadi Sandwich Generation, Harus Diputus

11 Juni 2026
Suzuki Satria Pro: Motor Aneh yang Meleburkan Cinta dan Benci MOJOK.CO

Suzuki Satria Pro: Motor Aneh yang Meleburkan Batas antara Cinta dan Benci

11 Juni 2026
Hujan Bulan Juni untuk Samadi: Es Krim yang Mencair di tengah Aksi Rakyat Memanggil dan Kenaikan Harga yang Bikin Ngelu MOJOK.CO

Hujan Bulan Juni untuk Samadi: Es Krim yang Mencair di Tengah Aksi Rakyat Memanggil dan Kenaikan Harga yang Bikin Ngelu

14 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.