MOJOK.CO – Suzuki Satria Pro adalah motor yang aneh. Banyak yang sepakat. Sebuah motor yang bisa meleburkan batas antara cinta dan benci.
Adik mertua saya adalah seorang jagoan memenangi undian. Paman, saya biasa memanggilnya begitu, berusia 53 tahun, dan keberuntungan yang tak habis-habis menaunginya.
Sejauh ini, dia telah memenangkan selusin hadiah utama dari belasan pagelaran jalan santai. Produsen wafer dan selang air pernah mengganjarnya dengan hadiah umroh, lengkap dengan uang saku.
Paman juga merupakan salah satu dari segelintir manusia yang berhasil mendapatkan huruf “N” pada kemasan permen karet Yosan. Dia enggan membocorkan dapat hadiah apa. Prestasi tersebut membikin seluruh keponakannya menaruh hormat dan segan.
BACA JUGA: Suzuki Satria F150 Sialan, Motor Mas Mantan yang Nggak Ada Nyamannya Sama Sekali
Iseng, dapat Suzuki Satria Pro
Maka, saat kabar mengenai keberhasilan paman mendapat hadiah motor, saat itu paman belum bilang kalau dapat Suzuki Satria Pro, beredar di grup WA keluarga, saya menganggapnya biasa saja. Se-lumrah murid jenius memperoleh nilai seratus.
Namun, siang itu juga, paman menelepon saya. Dia kepingin menjual motor tersebut kepada saya.
Dengan suara seempuk telemarketing, paman menganggap bahwa hanya saya yang pantas menunggangi Suzuki Satria Pro. Dia sudah terlalu tua untuk memiliki motor semacam itu.
Klimaksnya, Paman berkata bahwa dia rela melepas Suzuki Satria Pro tersebut dengan separuh harga meskipun mesinnya belum pernah sekali saja dia nyalakan.
“Memangnya, motor apa itu?” Tanya saya.
Paman menjawab, motor itu akan tiba selambat-lambatnya sore nanti. Jarak rumah kami terbentang sejauh puluhan kilo, tetapi paman meyakinkan saya bahwa dia sendiri yang akan mengantarnya. Saya mendesaknya untuk menyebutkan merek motor tersebut.
“Ada, deh!” jawabnya seperti remaja tanggung yang tak hendak membeberkan rahasia dunia kepada kawannya yang penasaran. “Yang pasti, kamu akan suka. Paman jamin!”
Tak ada euforia
Motor Ada Deh itu ternyata adalah Suzuki Satria Pro. Dibantu Mas Bojo, paman menurunkannya dari bak L300 tepat selepas azan Ashar. Kami bercengkerama selama satu jam sebelum paman pulang.
Waktu yang cukup untuknya bercerita tentang produsen oli yang menggelar undian. Tahukah kamu, paman memungut botol oli kosong milik tetangga untuk ikut serta.
Maka, pada senja itu, saya dan Mas Bojo duduk di teras dan memandangi Satria Pro berkelir hitam-merah itu. Saya selalu menggandrungi Suzuki Satria, dan saya pernah menunggangi Satria injeksi F150 sebagai motor harian selama beberapa lama.
Namun, saya tak merasakan euforia yang sama ketika mendapati Satria Pro tersebut. Kenapa, ya?
Dugaan saya ada dua. Pertama, saat ini kami tak sedang membutuhkan tunggangan anyar. Saya sudah bahagia dengan Suzuki Titan, dan Mas Bojo belum berencana melego Honda PCX dalam waktu dekat.
Memang, sih, skutik gembrot itu bikin saya sebal karena membuat saya merasa seperti seekor kungkang tiap kali duduk sebagai pembonceng. Dan, bukan sekali-dua saya enggan diajak berpelesir kalau memakai motor tersebut.
“Ini pertanda kalau aku harus berganti motor,” gumam Mas Bojo, sambil memandangi Satria Pro yang kedua spionnya masih terbungkus plastik.
Saya menggeleng dan menyebutkan dugaan kedua. Motor ini tampak aneh dengan cara yang tak sungguh saya pahami.
Elemen desain aneh nan misterius
Sudah sejak lama saya tahu bahwa Suzuki tak pernah becus menggarap desain produk-produknya. Itu memunculkan beragam motor dengan desain ekstrem. Jika tidak sangat bagus, maka keterlaluan buruknya.
Suzuki GSX-S 150, misalnya, adalah motor yang membuat saya kepincut pada pandangan pertama. Demikian pula dengan Satria F150 dan Suzuki Strom 250.
Namun, Suzuki juga bisa menghasilkan produk seperti Shooter, Avenis, dan Burgman Street 125 yang membuat saya agak yakin bahwa desainer produk mereka adalah anak SMK magang. Jurusan tata boga.
Namun, Satria Pro adalah cerita lain: Ia seperti burger
Anda tentu tahu bahwa ahli gizi yang waras tidak akan merekomendasikan burger. Makanan ini mengandung terlalu banyak kalori, lemak jenuh, dan natrium. Kombinasi yang membuat orang merasa kenyang dan bahagia, setidaknya sebelum melakukan cek kesehatan.
Padahal, kita tahu bahwa burger terdiri atas bahan pangan yang mengandung nilai gizi tinggi. Roti dan keju, misalnya, adalah penyuplai energi pokok separuh penduduk bumi. Selada dan tomat adalah bahan pangan yang sering disarankan kepada mereka yang ingin hidup sehat. Dan daging mengandung serat serta kandungan gizi esensial lainnya.
Saat semua bahan pangan di atas menyatu menjadi burger, entah kenapa malah menjadi mesin pembunuh. Suzuki Satria Pro juga demikian.
Jika saya mengamati hanya pada bagian-bagian tertentu, Suzuki Satria Pro sangat menawan. Tarikan garisnya simetris dan tegas.
Shroud pada kedua sisinya menciptakan kesan garang. Lampu depannya sama persis dengan keluarga Gixxer, memunculkan impresi berkelas dan elegan. Cakram floating pada velg depan meneruskan tradisi Satria yang tak kunjung membosankan.
Namun, saat memandang keseluruhan bentuknya, Satria Pro terlihat janggal. Mas Bojo menduga bahwa itu disebabkan oleh desain lampu depannya, dan saya setuju.
Tapi, lampu depannya itu memang unik dan berani. Saya lebih menyukainya dibandingkan desain lampu depan Satria F150 kembarannya yang berdesain biasa saja.
Saat Mas Bojo menaikinya, Suzuki Satria Pro tampak semakin aneh
Saya pernah mendapati perasaan ini ketika melihat pengendara Kawasaki Z125 di jalan. Kawasaki Z125 adalah motor mini, mungil seperti Honda Monkey.
Di mata saya, orang dewasa yang menungganginya tak tampak keren sama sekali. Alih-alih, ia tampak seperti paman durhaka yang merebut sepeda roda tiga keponakannya untuk kemudian dipakainya berpawai keliling kota.
Suzuki Satria Pro jelas lebih besar ketimbang Kawasaki Z125 atau Honda Monkey. Namun, ada bagian pada desainnya yang membuat orang dewasa tampak terlalu besar untuk menungganginya.
Beragam fitur baru dan cita rasa lama
Baru pada dua hari kemudian kami menjajal Suzuki Satria Pro untuk berkeliling Cepu. Beberapa perbedaannya dengan Satria F150 baru saya sadari pada saat itu. Semua perbedaan tersebut berada di separuh bagian depan: sistem keyless, koneksi ponsel, easy start system, rem ABS, dan–segala puji bagi Tuhan!–konektivitas USB.
Akhirnya, keluarga Satria punya sistem keyless, fitur keamanan yang selumrah keberadaan knalpot di motor pabrikan lain. Seperti keyless pada umumnya, kita tinggal memutar knop untuk menjalankan fungsi tertentu. Mirip knop kompor gas.
Namun, keyless Suzuki Satria Pro memiliki kejutan unik. Kamu bisa mencabut knop untuk mengakses anak kunci yang berguna membuka jok saat mengisi bensin.
Saya tidak tahu alasan desainernya memilih mekanisme yang demikian. Yamaha dan Honda bisa mengintegrasikan mekanisme bukaan jok ke dalam sistem keyless mereka, tetapi Suzuki emoh menirunya.
Dugaan saya, ini ada hubungannya dengan kecenderungan tak terhindarkan Suzuki untuk selalu menjadi bahan meme. Memang ada saja kelakuannya.
Tapi, saya pikir lagi, sebenarnya Suzuki tak memerlukan sistem keyless pada semua lini produknya. Mereka sudah memiliki fitur anti maling di dalam DNA mereka.
Maling adalah profesi hina dan pelakunya boleh jadi tolol. Tetapi, maling terbodoh juga tahu bahwa akan lebih menguntungkan baginya mencuri motor merek lain ketimbang motor Suzuki.
Dengan risiko yang sama, untuk apa mempertaruhkan hidup demi menggondol sebuah motor yang harga jual kembalinya langsung terjun begitu keluar dari pintu dealer kayak Suzuki Satria Pro?
Satria Pro juga punya fitur konektivitas USB. Letak slot USB-nya ada di dek tengah, berupa ceruk yang tertutup cover body berbahan kokoh dan tahan air. Namun, ceruk itu terlalu kecil untuk dimasuki ponsel kekinian.
Alhasil, pengguna yang kepingin mengisi daya mesti menyimpan ponselnya di dalam tas. Itu saja dengan syarat bahwa panjang kabelnya memadai.
Ah, ribet sekali!
Suzuki Satria Pro cukup bisa memanjakan pengendara
Saya duduk sebagai pembonceng saat berangkat dari rumah. Harus saya katakan bahwa sedikit sekali motor masa kini yang ramah bagi pembonceng, dan Suzuki Satria Pro adalah salah satunya.
Suspensi belakangnya tak sekeras Satria generasi sebelumnya. Desainnya yang super ramping dan rendah memudahkan saya untuk naik dan duduk selayaknya manusia normal, bukannya seekor kungkang.
Tapi, Suzuki Satria Pro diciptakan untuk memanjakan pengendara. Di perjalanan pulang, Mas Bojo yang duduk sebagai pembonceng berulang kali melafalkan istighfar ketika saya menunjukkan karakter mesin DOHC khas Satria. Tenaga buas, kopling super enteng, dan tuas perseneling model cungkil ala motor balap sejati membuat saya terlena.
Motor itu mencapai angka 80 kilo per jam tanpa kesusahan. Bisa saja lebih andai Mas Bojo melupakan idenya untuk berteriak sepanjang jalan.
Mesin buas dan pengendalian mantap adalah nilai jual utama Suzuki Satria sejak dulu. Pada generasi terbaru ini, Suzuki berhasil meracik keduanya hingga tahap paripurna.
Pendeknya, Suzuki Satria Pro sangat bisa diajak pecicilan tanpa melupakan kenyamanan khas motor harian. Pencapaian itu sudah mampu membuat saya lupa terhadap segala kekurangan desainnya.
Tambahan alasan untuk terus mencinta Suzuki Satria Pro
“Jadi, kita perlu membelinya?” tanya Mas Bojo di hari kemudian. Tak seperti istrinya yang imut ini, Mas Bojo tak pernah menggandrungi Suzuki Satria.
Namun, bila dengan menukar PCX-nya dengan Suzuki Satria Pro bisa menyudahi keluhan saya ketika dia ajak berpelesir, dia merasa itu adalah pertukaran yang sepadan.
Saya menjawab dengan menyebutkan angka dari paman atas motor hasil undian itu. Lima belas juta rupiah. Itu sangat murah, mengingat harga baru Satria Pro telah menembus Rp35 juta. Dan ini adalah motor baru, jika kita hanya melihat fakta mengenai spionnya yang masih terbungkus plastik.
Namun, saya juga mengatakan bahwa Suzuki Satria Pro ini punya elemen aneh pada desainnya. Ia bisa terlihat sebagai motor yang menawan sekaligus memuakkan, dan saya tak mengerti penyebabnya.
Itu urusan gampang, kata Mas Bojo. Dia bisa mengirimnya ke bengkel modifikasi untuk mengubah tampangnya. Yang penting, saat ini dia perlu menjual PCX itu terlebih dahulu sebelum menelepon paman kemudian.
“Dan, yang terpenting, kamu senang, Adinda,” pungkas Mas Bojo, sebelum berlalu ke teras dan menghubungi temannya yang seorang makelar.
Saya tersenyum saat mendapati satu alasan tambahan untuk terus mencintainya.
Penulis: Mita Idhatul Khumaidah
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir dan kisah menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.














