Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
5 Agustus 2026
A A
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Ilustrasi - Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pada awal deklarasinya, Yakuza Maneges organisasi masyarakat (ormas) yang berpusat di Kediri, Jawa Timur, disambut dengan komentar-komentar buruk dari warganet. Namun, ormas yang dipimpin kiai nyentrik, Gus Thuba, belakangan justru menuai banyak pujian karena berada di garis depan dalam memberantas kasus kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren. 

***

Iklan

“Andai saja ormas-ormas kita seperti Yakuza Maneges…” Begitu bunyi sebuah komentar di unggahan penangkapan seorang guru ngaji terduga pelaku kekerasaan seksual di Pondok Pesantren Al Falah, Kabupaten Malang, Jawa Timur, belum lama ini. 

Penangkapan tersebut dilakukan oleh Yakuza Maneges bersama pihak kepolisian terhadap seorang guru ngaji berinisial GM (30), setelah mendapat aduan dari keluarga korban bahwa kiai tersebut telah melakukan kekerasan seksual terhadap sejumlah santri. 

Ketua Tim Hukum Yakuza Maneges, Moh. Zaki atau Zacky Chong, menjelaskan, pesantren yang berlokasi di di Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, itu ternyata sudah terindikasi melakukan tindak kekerasan seksual terhadap santri sejak 1996. 

“Yang sangat memprihatinkan adalah di Bantur ini jemaah. Bapaknya dan anaknya berjemaah. Bapaknya melakukan (kekerasaan seksual terhadap santri), anaknya juga yang melakukan. Ini menjadi keprihatinan kita,” terang Zaki dalam keterangan persnya di Malang, Senin (3/8/2026). 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh TRENdiSOSMED (@trendisosmed)

Yakuza Maneges membongkar borok kekerasan seksual dari pesantren ke pesantren

Jika ditelisik dari masa awal deklarasi Yakuza Maneges sejak Mei 2026 lalu, ormas pimpinan Gus Thuba ini memang sudah menangani sejumlah kasus kekerasan seksual di pesantren, dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah. 

Tidak lama setelah dideklarasikan di Kediri, Yakuza Maneges langsung mengungkap kasus kekerasan seksual oleh pimpinan di Pondok Pesantren (ilegal) Padang Ati di Pati, Jawa Tengah. Kasus tersebut sempat menjadi sorotan publik. Ya karena kemarahan terhadap pelaku, sekaligus “kekagetan” dengan arah gerak Yakuza Maneges yang semula sempat dihujani hujatan karena dianggap bakal menjadi ormas gagah-gagahan semata. 

Kemudian pada Juni 2026, giliran kasus kekerasan seksual di sebuah pesantren di Bululawang, Malang, yang diungkap Yakuza Maneges. Saat itu Gus Thuba memimpin langsung anggota Yakuza Maneges untuk mendatangi dan menyegel pondok pesantren milik oknum kiai yang diduga melakukan pencabulan terhadap para santriwatinya tersebut. 

Tidak berhenti, pada Juli 2026, tindakan serupa dilakukan Gus Thuba terhadap Pondok Pesantren Al Qibtiyah, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Yakuza Maneges mengawal kasus pelecehan seksual terhadap santriwati yang dilakukan oleh pengasuh ponpes berinisial dengan modus minta dipijat rutin. 

Iklan

Dan belum lama setelah memproses terduga pelaku di pesantren Bantur, Malang, Zaki selaku Ketua Tim Hukum Yakuza Maneges menyebut bahwa tim investigasinya sedang memverifikasi aduan masyarakat terkait dugaan kasus serupa di tiga hingga lima pondok pesantren lain di Kabupaten Malang. Dengan kata lain, pemberantasan kasus kekerasan seksual di pesantren masih akan terus dilakukan. 

Andai ormas lain seperti Yakuza Maneges: beri rasa aman kepada masyarakat, bukan memalak

Setidaknya dari komentar-komentar warganet dan tiga warga asli Jawa Timur yang Mojok ajak berbincang, tergambar bahwa masyarakat saat ini berbalik menaruh harapan besar terhadap ormas pimpinan Gus Thuba tersebut. 

Tiga orang yang Mojok ajak berbincang mengaku, awalnya mereka termasuk dari sekian orang yang menghujat Yakuza Maneges, sebelum tahu apa yang tengah dilakukan oleh ormas yang berpusat di Kediri itu. 

“Masih aja ya gus-gusan, gagah-gagahan.”

“Kok nggak malu main yakuza-yakuzaan.” 

“Halah pasti cuma bakal jadi perusuh masyarakat. Aura malaknya kuat banget.” Begitu kurang lebih yang ada di benak mereka saat itu. 

Mereka mengaku punya alasan kenapa se-skeptis itu dengan kehadiran Yakuza Maneges: 

Pertama, didorong kemuakan terhadap gus-gus songong dan berulah. Terutama usai viralnya seorang Gus asal Jogja yang menghina penjual es teh dan seorang Gus muda asal Kediri yang disorot karena suka mencium anak-anak perempuan. 

Kemudian yang kedua, di Indonesia ini ada sejumlah ormas yang berlagak seperti preman. Suka malak. Lalu ketiga, sering kali jika ada penyimpangan di masyarakat—termasuk kekerasaan seksual—ormas-ormas ini cenderung diam. Tidak bertindak. Label ormas dinilai hanya sebatas nama, tapi manfaat keberadaan mereka tidak benar-benar dirasakan secara konkret oleh masyarakat sendiri. 

Maka ketika Yakuza Maneges menunjukkan arah yang menjawab keresahan masyarakat, kini arus pun berbalik: dari yang semula menghujat berubah menjadi apresiasi. 

Mengungkap kasus kekerasan seksual di pesantren jangan dimaknai menyerang institusi

Langkah Yakuza Maneges memang menjadi semacam ruang aman bagi para korban untuk bersuara. Pasalnya, selama ini, korban sering kali hanya bisa bungkam karena posisi sosial yang timpang dengan pelaku sebagai figur otoritas dengan label “suci”. Sementara itu, posisi sosial pelaku yang lebih kuat membuat kesaksian korban sering kali dipandang sebelah mata.

“Situasi semacam ini sering melahirkan budaya diam. Korban merasa takut berbicara karena khawatir tidak dipercaya, disalahkan, atau dianggap mencemarkan nama baik lembaga. Akibatnya, banyak korban memilih memendam pengalaman traumatisnya dalam waktu yang lama,” ujar  Direktur Pusat Studi Politik dan Transformasi Sosial (Puspolnas) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Khoirul Anam, dalam keterangan tertulisnya. 

“Mengungkap kasus bukan berarti menyerang institusi tertentu. Sebaliknya, hal itu merupakan bagian dari upaya memperbaiki sistem agar menjadi lebih sehat dan bertanggung jawab,” sambungnya.

Selain itu, menurut Khoirul, penyelesaian persoalan kekerasan seksual tidak cukup hanya dengan menghukum pelaku setelah kasus terungkap. Yang seharusnya menjadi prioritas utama adalah pencegahan. 

Setiap lembaga pendidikan, lanjut Khoirul, perlu memiliki sistem perlindungan yang jelas, mekanisme pelaporan yang aman, serta prosedur penanganan yang transparan dan profesional.

“Nama baik lembaga tidak akan runtuh karena mengakui adanya masalah dan berupaya memperbaikinya. Sebaliknya, kepercayaan publik justru akan hilang ketika sebuah institusi dianggap lebih sibuk menjaga citra daripada melindungi korban,” ujar Khoirul dalam keterangan tertulisnya.

Dalam konteks tersebut, ia menilai negara tidak boleh hanya hadir ketika kasus telah menjadi viral. Perlindungan anak dan pencegahan kekerasan seksual harus menjadi agenda yang dijalankan secara sistematis dan berkelanjutan.

Maka, pengawasan terhadap lembaga pendidikan, baik umum maupun keagamaan, perlu diperkuat melalui standar perlindungan yang jelas dan berlaku bagi seluruh institusi pendidikan. Langkah-langkah seperti audit berkala terhadap sistem perlindungan anak, pendidikan mengenai pencegahan kekerasan seksual, hingga penyediaan saluran pengaduan yang independen perlu diperluas.

“Negara harus memastikan bahwa setiap peserta didik memperoleh hak yang sama untuk merasa aman di lingkungan pendidikan,” ujarnya.

Transformasi “para petarung”

Pendiri Yakuza Maneges, Gus Thuba, menegaskan, ormas bentukannya tersebut punya misi besar dalam perkara amar ma’ruf nahi munkar.

Yakuza sendiri merupakan akronim dari: Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi”. Sementara maneges berasal dari bahasa Jawa yang berarti jernih atau bening, menggambarkan niat dan hati yang bersih di balik penampilan luar. 

”Ini bukan organisasi kriminal, tetapi simbol transformasi para ’petarung’. Kami menegaskan, Yakuza bukan organisasi yang berdiri berseberangan dengan negara, melainkan hadir untuk mendukung dan berjalan bersama aparat penegak hukum,” ujar Gus Thuba, saat memberikan sambutan dalam deklarasi di Kota Kediri, Sabtu (9/5/2026). 

Selain itu, Yakuza Maneges juga memiliki semangat spiritual kemanusiaan. “Ini adalah tempat bagi mereka yang sering disebut sebagai santri ”jalur kiri”, yakni yang tersesat, berada di jalan keliru, bahkan terjatuh dalam dosa. Namun, masih memiliki niat dan tekad untuk berbenah kembali dan menjadi pribadi bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat,” tegasnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2026 oleh

Tags: gus thubakekerasan seksualkekerasan seksual pesantrenormasyakuza kediriyakuza maneges
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

modus kekerasan seksual.MOJOK.CO
Kabar

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026
Anak Indonesia bicara soal isu perkawinan anak dan kekerasan di forum dunia. MOJOK.CO
Kabar

Anak-anak Indonesia Muak Dipaksa Kawin tapi Jarang Didengar, Kini Kesal dan Mengadu ke Forum Dunia

8 Mei 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO
Kabar

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026
Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO
Sehari-hari

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Seporsi kekalahan anak laki-laki pekerja swasta di Surabaya: merasa gagal karena kerja gaji kecil pas-pasan, tak kunjung sanggup ringankan beban orang tua di masa tua MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua

3 Agustus 2026
Budi daya ikan nila cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan ngasal MOJOK.CO

Budi daya ikan nila bisa cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan sampai merusak sumber daya 40 tahun ke depan

30 Juli 2026
Alasan seorang ibu tak ragu kuliahkan anak di Universitas Terbuka (UT). Perjalanan dan pencapaian anak jadi jawabannya MOJOK.CO

Saat Ibu Dukung Anak Kuliah di Universitas Terbuka (UT): Berbuah Pencapaian Membanggakan

30 Juli 2026
Sri Sultan HB X dan Dubes Qatar siapkan kejutan program event di Yogyakarta dari kerja sama di bidang kesenian dan kebudayaan MOJOK.CO

Usai Temui Sri Sultan HB X, Dubes Qatar Siapkan Kejutan Program Event Kebudayaan di Yogyakarta

3 Agustus 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Konsultasi Publik di Bandung Hasilkan Masukan Strategis Konservasi Elang Jawa 2026-2036

3 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.