Pada awal deklarasinya, Yakuza Maneges organisasi masyarakat (ormas) yang berpusat di Kediri, Jawa Timur, disambut dengan komentar-komentar buruk dari warganet. Namun, ormas yang dipimpin kiai nyentrik, Gus Thuba, belakangan justru menuai banyak pujian karena berada di garis depan dalam memberantas kasus kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren.
***
“Andai saja ormas-ormas kita seperti Yakuza Maneges…” Begitu bunyi sebuah komentar di unggahan penangkapan seorang guru ngaji terduga pelaku kekerasaan seksual di Pondok Pesantren Al Falah, Kabupaten Malang, Jawa Timur, belum lama ini.
Penangkapan tersebut dilakukan oleh Yakuza Maneges bersama pihak kepolisian terhadap seorang guru ngaji berinisial GM (30), setelah mendapat aduan dari keluarga korban bahwa kiai tersebut telah melakukan kekerasan seksual terhadap sejumlah santri.
Ketua Tim Hukum Yakuza Maneges, Moh. Zaki atau Zacky Chong, menjelaskan, pesantren yang berlokasi di di Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, itu ternyata sudah terindikasi melakukan tindak kekerasan seksual terhadap santri sejak 1996.
“Yang sangat memprihatinkan adalah di Bantur ini jemaah. Bapaknya dan anaknya berjemaah. Bapaknya melakukan (kekerasaan seksual terhadap santri), anaknya juga yang melakukan. Ini menjadi keprihatinan kita,” terang Zaki dalam keterangan persnya di Malang, Senin (3/8/2026).
Lihat postingan ini di Instagram
Yakuza Maneges membongkar borok kekerasan seksual dari pesantren ke pesantren
Jika ditelisik dari masa awal deklarasi Yakuza Maneges sejak Mei 2026 lalu, ormas pimpinan Gus Thuba ini memang sudah menangani sejumlah kasus kekerasan seksual di pesantren, dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah.
Tidak lama setelah dideklarasikan di Kediri, Yakuza Maneges langsung mengungkap kasus kekerasan seksual oleh pimpinan di Pondok Pesantren (ilegal) Padang Ati di Pati, Jawa Tengah. Kasus tersebut sempat menjadi sorotan publik. Ya karena kemarahan terhadap pelaku, sekaligus “kekagetan” dengan arah gerak Yakuza Maneges yang semula sempat dihujani hujatan karena dianggap bakal menjadi ormas gagah-gagahan semata.
Kemudian pada Juni 2026, giliran kasus kekerasan seksual di sebuah pesantren di Bululawang, Malang, yang diungkap Yakuza Maneges. Saat itu Gus Thuba memimpin langsung anggota Yakuza Maneges untuk mendatangi dan menyegel pondok pesantren milik oknum kiai yang diduga melakukan pencabulan terhadap para santriwatinya tersebut.
Tidak berhenti, pada Juli 2026, tindakan serupa dilakukan Gus Thuba terhadap Pondok Pesantren Al Qibtiyah, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Yakuza Maneges mengawal kasus pelecehan seksual terhadap santriwati yang dilakukan oleh pengasuh ponpes berinisial dengan modus minta dipijat rutin.
Dan belum lama setelah memproses terduga pelaku di pesantren Bantur, Malang, Zaki selaku Ketua Tim Hukum Yakuza Maneges menyebut bahwa tim investigasinya sedang memverifikasi aduan masyarakat terkait dugaan kasus serupa di tiga hingga lima pondok pesantren lain di Kabupaten Malang. Dengan kata lain, pemberantasan kasus kekerasan seksual di pesantren masih akan terus dilakukan.
Andai ormas lain seperti Yakuza Maneges: beri rasa aman kepada masyarakat, bukan memalak
Setidaknya dari komentar-komentar warganet dan tiga warga asli Jawa Timur yang Mojok ajak berbincang, tergambar bahwa masyarakat saat ini berbalik menaruh harapan besar terhadap ormas pimpinan Gus Thuba tersebut.
Tiga orang yang Mojok ajak berbincang mengaku, awalnya mereka termasuk dari sekian orang yang menghujat Yakuza Maneges, sebelum tahu apa yang tengah dilakukan oleh ormas yang berpusat di Kediri itu.
“Masih aja ya gus-gusan, gagah-gagahan.”
“Kok nggak malu main yakuza-yakuzaan.”
“Halah pasti cuma bakal jadi perusuh masyarakat. Aura malaknya kuat banget.” Begitu kurang lebih yang ada di benak mereka saat itu.
Mereka mengaku punya alasan kenapa se-skeptis itu dengan kehadiran Yakuza Maneges:
Pertama, didorong kemuakan terhadap gus-gus songong dan berulah. Terutama usai viralnya seorang Gus asal Jogja yang menghina penjual es teh dan seorang Gus muda asal Kediri yang disorot karena suka mencium anak-anak perempuan.
Kemudian yang kedua, di Indonesia ini ada sejumlah ormas yang berlagak seperti preman. Suka malak. Lalu ketiga, sering kali jika ada penyimpangan di masyarakat—termasuk kekerasaan seksual—ormas-ormas ini cenderung diam. Tidak bertindak. Label ormas dinilai hanya sebatas nama, tapi manfaat keberadaan mereka tidak benar-benar dirasakan secara konkret oleh masyarakat sendiri.
Maka ketika Yakuza Maneges menunjukkan arah yang menjawab keresahan masyarakat, kini arus pun berbalik: dari yang semula menghujat berubah menjadi apresiasi.
Mengungkap kasus kekerasan seksual di pesantren jangan dimaknai menyerang institusi
Langkah Yakuza Maneges memang menjadi semacam ruang aman bagi para korban untuk bersuara. Pasalnya, selama ini, korban sering kali hanya bisa bungkam karena posisi sosial yang timpang dengan pelaku sebagai figur otoritas dengan label “suci”. Sementara itu, posisi sosial pelaku yang lebih kuat membuat kesaksian korban sering kali dipandang sebelah mata.
“Situasi semacam ini sering melahirkan budaya diam. Korban merasa takut berbicara karena khawatir tidak dipercaya, disalahkan, atau dianggap mencemarkan nama baik lembaga. Akibatnya, banyak korban memilih memendam pengalaman traumatisnya dalam waktu yang lama,” ujar Direktur Pusat Studi Politik dan Transformasi Sosial (Puspolnas) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Khoirul Anam, dalam keterangan tertulisnya.
“Mengungkap kasus bukan berarti menyerang institusi tertentu. Sebaliknya, hal itu merupakan bagian dari upaya memperbaiki sistem agar menjadi lebih sehat dan bertanggung jawab,” sambungnya.
Selain itu, menurut Khoirul, penyelesaian persoalan kekerasan seksual tidak cukup hanya dengan menghukum pelaku setelah kasus terungkap. Yang seharusnya menjadi prioritas utama adalah pencegahan.
Setiap lembaga pendidikan, lanjut Khoirul, perlu memiliki sistem perlindungan yang jelas, mekanisme pelaporan yang aman, serta prosedur penanganan yang transparan dan profesional.
“Nama baik lembaga tidak akan runtuh karena mengakui adanya masalah dan berupaya memperbaikinya. Sebaliknya, kepercayaan publik justru akan hilang ketika sebuah institusi dianggap lebih sibuk menjaga citra daripada melindungi korban,” ujar Khoirul dalam keterangan tertulisnya.
Dalam konteks tersebut, ia menilai negara tidak boleh hanya hadir ketika kasus telah menjadi viral. Perlindungan anak dan pencegahan kekerasan seksual harus menjadi agenda yang dijalankan secara sistematis dan berkelanjutan.
Maka, pengawasan terhadap lembaga pendidikan, baik umum maupun keagamaan, perlu diperkuat melalui standar perlindungan yang jelas dan berlaku bagi seluruh institusi pendidikan. Langkah-langkah seperti audit berkala terhadap sistem perlindungan anak, pendidikan mengenai pencegahan kekerasan seksual, hingga penyediaan saluran pengaduan yang independen perlu diperluas.
“Negara harus memastikan bahwa setiap peserta didik memperoleh hak yang sama untuk merasa aman di lingkungan pendidikan,” ujarnya.
Transformasi “para petarung”
Pendiri Yakuza Maneges, Gus Thuba, menegaskan, ormas bentukannya tersebut punya misi besar dalam perkara amar ma’ruf nahi munkar.
Yakuza sendiri merupakan akronim dari: Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi”. Sementara maneges berasal dari bahasa Jawa yang berarti jernih atau bening, menggambarkan niat dan hati yang bersih di balik penampilan luar.
”Ini bukan organisasi kriminal, tetapi simbol transformasi para ’petarung’. Kami menegaskan, Yakuza bukan organisasi yang berdiri berseberangan dengan negara, melainkan hadir untuk mendukung dan berjalan bersama aparat penegak hukum,” ujar Gus Thuba, saat memberikan sambutan dalam deklarasi di Kota Kediri, Sabtu (9/5/2026).
Selain itu, Yakuza Maneges juga memiliki semangat spiritual kemanusiaan. “Ini adalah tempat bagi mereka yang sering disebut sebagai santri ”jalur kiri”, yakni yang tersesat, berada di jalan keliru, bahkan terjatuh dalam dosa. Namun, masih memiliki niat dan tekad untuk berbenah kembali dan menjadi pribadi bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat,” tegasnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














