Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

“Gus”: Dulu Panggilan Orang yang Belum Layak Jadi Panutan, Kini Malah Jadi Status Gagah-gagahan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
6 Desember 2024
A A
“Gus”: Dulu Panggilan Orang yang Belum Layak Jadi Panutan, Kini Malah Jadi Status Gagah-gagahan MOJOK.CO

Ilustrasi - Aliansi Santri Jalanan Gelar Aksi Dukungan, Mengapa Masih Ada Pihak yang Menormalisasi Sikap Arogan Miftah Maulana? (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Miftah Maulana Habiburrahman mengundurkan dari jabatan Utusan Khusus Presiden pada Jumat (6/12/2024). Pria yang akrab dipanggil Gus Miftah itu viral karena menghina pedagang es teh. Kasus ini adalah pelajaran bagi semua, bahwa gelar gus itu berat. Tidak boleh kelewat bangga, apalagi belagu. 

***

Iklan

Pengasuh Pesantren Al-Falah Plosos, Kediri, Jawa Timur, KH Abdurrahman Al-Kautsar alias Gus Kautsar pernah mengingatkan, bahwa orang yang mendapat panggilan gus tidak boleh bangga lebih dahulu. 

Gus sendiri adalah gelar penghormatan yang diberikan kepada putra seorang kiai atau ulama, juga pemilik maupun pengasuh pondok pesantren. Gelar ini biasanya dijumpai di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Kautsar berujar gelar Gus disematkan masyarakat kepada anak ulama yang memiliki karya, atsar, atau peninggalan untuk masyarakat. Dengan kata lain, Gus sama sekali bukan gelar kehormatan yang diberikan kepada anak tersebut karena kehebatannya.

“Gus itu sama sekali bukan penghormatan kepada dirinya. Tidak. Tapi ini adalah menghargai jasa-jasa orang tuanya,” tegas Kautsar dikutip dari YouTube Kece Media by Unesa pada Jumat (6/12/2024).

Dalam kasus Miftah Maulana alias Gus Miftah, dia dianggap menghina pedagang es teh. Tak lama kemudian, sebuah video lama yang menunujukkan Miftah merendahkan aktris Yati Pesek kembali viral di media sosial. Sebagai pemuka agama yang harusnya disegani, Gus Miftah malah mendapat banyak hujatan. Dia didera sanksi sosial bertubi.

Hati-hati dengan gelar “Gus”

Belakangan, gelar Gus bahkan lebih tren ketimbang kiai. Padahal, kata Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, gelar Gus adalah panggilan kepada anak kiai yang belum pantas dipanggil kiai.

“Gus, adalah istilah Pesantren untuk menyebut anak kiai yang belum pantas dipanggil kiai (walau sudah tua sekalipun, seperti halnya Gus Mus),” tulis Kiai Mustofa Bisri melalui akun Facebook pribadinya, dikutip Jumat (6/12/2024).

Peneliti sosiologi Universitas Indonesia, Ida Ruwaida Noor mewanti penyematan gelar gus secara feodal berpotensi terjadi di kalangan pesantren. Sistem ketidakadilan itu bisa terjadi ketika status atau kedudukan seseorang di masyarakat didasarkan pada keturunan, bukan karena pencapaian.

“Walaupun istilah tersebut biasanya digunakan pada isu kekuasaan yang turun menurun,” ucap Ida, kepada Mojok, Kamis (5/12/2024). 

Ketika sistem feodal terjadi dalam pesantren, tentu lingkungan menjadi tidak demokratis. Masyarakat harus patuh, kalau tidak, dia dianggap membangkang atau menyimpang.

“Bahkan ada kasus-kasus yang justru memanfaatkan status dan simbolnya untuk memperdayai, bahkan mengeksploitasi pihak-pihak tertentu,” kata Ida.

Tak semua bisa menoleransi dakwah Gus Miftah

Ida menjelaskan Gus dianggap punya status atau kedudukan tinggi karena merupakan keturunan kiai. Oleh karena itu, masyarakat cenderung menghormati dan mematuhi apa kata Gus, sebab dianggap memiliki otoritas “ilmu agama”. 

“Karena faktor keturunan otomatis dapat status terhormat, bahkan dapat privilage tertentu,” ujarnya.

Sementara itu, Filosof sekaligus Penemu Teori Sistem Filsafat Ketuhanan, Gigih Saputra mengatakan sistem feodal seringnya menuntut ketidakadilan dari ulama kepada pengikutnya. 

Ketika masyarakat memberikan kekuasaan besar kepada golongan bangsawan, dalam hal ini khususnya ulama, gus, atau syekh bisa berbahaya. Secara tidak langsung, masyarakat dapat menormalisasi segala perilakunya. 

“Gelar Gus sangat dihormati dalam kontes umat Islam di Jawa. Namun, seharusnya gelar tersebut jangan dimanfaatkan untuk menormalisasi hal yang negatif apalagi membentuk ketidakadilan berpikir,” ucapnya.

Iklan

Sebagai contoh saja, celetukan Miftah Maulana alias Gus Miftah yang menghina pedagang es teh. Masyarakat bisa menganggap hal itu biasa dan boleh ditiru.

Miftah Maulana kelewat bercanda

Gigih berujar pemuka agama memiliki kedudukan tinggi dan berpengaruh besar di dalam masyarakat Islam terutama di Jawa. Segala pemikiran, perilaku, dan tutur katanya akan menjadi contoh di masyarakat. Bahkan cenderung taklid, alias diterima walaupun tanpa mengetahui dasarnya.

Menyampaikan dakwah dengan karakter suka bercanda, kata Gigih, sebetulnya boleh-boleh saja. Namun, candaan seperti Miftah Maulana alias Gus Miftah yang merendahkan orang lain di muka umum itu bukan sikap yang bisa ditolerir. Malah bahaya jika dianggap sebagai hal yang biasa.

“Alasan bercanda sebagai normalisasi itu sangat tidak etis karena menyinggung aspek kemanusiaan paling mendasar tentang akal budi, apalagi dalam konteks umum,” kata Gigih.

Gigih mengatakan seorang figur ulama harusnya bisa memberikan transformasi kemajuan berpikir, sebagaimana di zaman emas peradaban Islam dulu. Ketika sesuatu yang tidak biasa dianggap biasa, maka akan berakibat pada stagnasi perkembangan peradaban.

“Ketidakadilan berakibat pada minimnya inovasi dan kreatifitas temuan-temuan besar seperti teknologi tepat guna dan teori baru,” ucapnya.

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Al-Falah Plosos, Gus Kautsar mengatakan Gus tidak boleh mengandalkan nasab orang tuanya untuk dipanggil kiai. Kebetulan, Gus adalah orang yang terlahir dari keluarga istimewa. 

Namun demikian, dia harus mampu mengangkat keturunan dan prestasinya sendiri tanpa harus melibatkan orang tuanya.

“Hanya untuk mengingatkan ‘He, Mas. Anda itu anaknya orang hebat. Sekarang berusahalah untuk kemudian memantaskan diri menjadi orang yang lumayan. Tidak usah seperti bapaknya, setidaknya lumayan,” kata Gus Kautsar.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Gus Miftah Ajak Selawatan Pemandu Karaoke di Klub Malam

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 10 Desember 2024 oleh

Tags: fedalisme pesantrengelar gusgelar kiaigus miftahMiftah Maulanapilihan redaksiviral di medsos
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Universitas Terbuka (UT).MOJOK.CO

Kuliah di UT Dikira Bikin Kehilangan Relasi, Mahasiswanya Malah Bisa Membangun Jejaring sampai Luar Negeri 

27 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.