Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
15 Januari 2026
A A
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kita semua cuma serangga di dalam KRL ibu kota, yang bekerja keras hingga lupa dengan diri kita sendiri. Itulah yang ingin disampaikan Franz Kafka melalui novel Metamorphosis, yang ditulis 100 tahun lalu tapi relevansinya pada pekerja urban hari ini makin terasa.

***

Bayangkan, kamu terbangun di suatu pagi dan menyadari bahwa tubuhmu telah berubah menjadi serangga raksasa yang menjijikkan. Punggungmu mengeras laiknya memakai baju besi, perutmu melengkung, dan kakimu tiba-tiba menjadi banyak.

Namun, alih-alih berteriak histeris karena kehilangan kemanusiaanmu, hal pertama yang melintas di pikiranmu justru adalah: “Aduh, aku terlambat kerja! Bagaimana caraku mengejar kereta jam tujuh pagi?”

Adegan pembuka dalam novel Metamorphosis (1915) karya Franz Kafka ini bukan sekadar fantasi absurd. Ia adalah cermin bagi pekerja urban modern hari ini, yang hidup di bawah tekanan ekonomi, birokrasi semrawut, dan krisis identitas yang mendalam. 

Gregor Samsa, sang tokoh utama, bukan berubah jadi serangga dan mati karena sihir, tetapi karena menjadi korban dari sistem yang menggerogoti kemanusiaannya.

Saya pertama kali membaca karya Kafka ini kira-kira tujuh tahun lalu, saat masih aktif kuliah. Saat itu, novel ini saya nikmati sebagai sastra absurd. Mungkin kebanyakan orang juga berpikir demikian.

Namun, ketika saya memasuki dunia kerja, Metamorphosis justru makin relevan. Menurut keyakinan saya, Kafka menulis novel ini bukan sebagai cerita fantasi tentang manusia yang berubah menjadi serangga.

Lebih dari itu. Ia adalah potret sunyi tentang bagaimana seseorang perlahan kehilangan nilai kemanusiaannya di mata orang-orang terdekatnya.

Perubahan fisik Gregor Samsa, menjadi seekor serangga mirip kecoa, hanyalah pintu masuk. Yang sesungguhnya menjadi pusat cerita adalah perubahan sikap keluarga, dunia kerja, dan akhirnya Gregor sendiri terhadap keberadaannya.

Keyakinan saya itu makin menguat setelah berbincang singkat dengan Dalang Sigit Susanto pada Selasa (13/1/2026) lalu. Penerjemah novel Metamorphosis ke dalam Bahasa Indonesia ini kondang setelah beberapa kali mementaskan wayang di Swiss dengan lakon diambil dari novel-novel Kafka, termasuk kisah Gregor Samsa.

Kita dianggap berguna selama mereka masih menghasilkan uang

Bagi Sigit, dalam realitas pekerja urban, relevansi kisah Gregor sangat terasa pada bagaimana harga diri seseorang seringkali dilihat “hanya sebatas angka di slip gaji”. Kamu dianggap berguna selama masih bisa menghasilkan uang.

Kafka menghidupkan kengerian ini melalui reaksi pertama Gregor saat terbangun sebagai serangga. Bukannya memikirkan bagaimana cara menggerakkan “banyak kaki kecilnya yang bergetar tak berdaya”, Gregor justru terpaku pada jam weker di atas laci. 

Ia meratapi pekerjaannya dalam sebuah monolog batin yang sangat akrab di telinga pekerja modern kiwari. 

Iklan

“Oh, Tuhan… betapa melelahkannya pekerjaan yang telah kupilih! Masuk dan keluar dari kereta setiap hari… hubungan manusia yang selalu berubah, tidak pernah menetap, tidak pernah menjadi intim.”

Novel itu ditulis lebih dari seabad yang lalu. Namun, rintihan Gregor tadi lebih terdengar seperti keluhan pekerja di Jakarta yang harus berdesakan di dalam KRL demi pekerjaan yang melelahkan–dan mungkin tak mereka dambakan.

Menurut Sigit, di sini, Kafka ingin menunjukkan bahwa bahkan sebelum fisiknya berubah pun, jiwa Gregor sudah lebih dulu “mengkerdil” akibat rutinitas yang monoton dan menyiksa pikiran.

Detail yang paling menyayat hati adalah alasan di balik ketekunan bekerjanya. Gregor tidak bekerja untuk impian pribadinya, tetapi sebagai mesin pelunas utang keluarga. Ia pernah bergumam dalam hati: 

“Begitu aku sudah mengumpulkan cukup uang untuk melunasi utang orang tuaku kepada bos aku pasti akan melakukannya. Itu akan menjadi pemisah besar dalam hidupku”. 

Kutipan ini menegaskan posisi Gregor sebagai “celengan” (piggy bank) bagi keluarganya. Ia rela tak punya mimpi. Mengubur dalam-dalam cita-citanya. Yang terpenting baginya, tetap bekerja–meski pekerjaan itu tak ia inginkan–demi keluarganya.

Bukankah para sandwich generation hari ini juga merasakannya?

Tubuh kita, para pekerja urban, adalah milik bos

Kalau kalian pikir relevansi kisah Metamorphosis terhadap pekerja urban hari ini cuma sampai di situ, kalian salah. Bagi saya, salah satu adegan paling mencekam–brutal sekaligus relevan– adalah sosok Chief Clerk, sang manajer kantor, datang ke rumahnya karena Gregor terlambat masuk kerja.

Kantor tak mau tahu. Ia tak peduli Gregor berubah menjadi kecoa sekalipun. Yang mereka tahu, Gregor terlambat kerja beberapa jam–untuk pertama kalinya dalam lima tahun.

Dan, jahatnya lagi, Chief Clerk sama sekali tak menanyakan kesehatan Gregor. Ia malah langsung menyerang karakternya. Gregor dituduh malas, tidak cakap, hingga tak mau mendengarkan penjelasan Gregor yang telah berubah menjadi kecoa.

Bagi pekerja urban di luar sana, apakah bos kalian seperti itu? Tidak mau tahu dengan kesehatan pekerjanya, serta cuma melihat kesalahan tanpa pernah mengapresiasi pencapaian. Jika iya, kalian adalah Gregor-Gregor masa kini.

Kalau meminjam teori Marxisme, Chief Clerk adalah kaum borjuis, representasi dari birokrasi yang cuma memandang pekerja bukan sebagai manusia, melainkan sebagai “benda” yang tenaganya harus dieksploitasi sampai habis. 

Pekerja diharapkan untuk terus berfungsi seperti mesin. Dan, jika “mesin” itu rusak, maka ia harus segera disingkirkan karena dianggap tak berguna lagi.

Menurut cerita Sigit Susanto, Kafka menuliskan adegan ini berdasarkan pengalamannya sendiri saat bekerja di Institut Asuransi Kecelakaan Pekerja. Di sana, ia menyaksikan secara langsung bagaimana kekuatan birokrasi membatasi kebebasan individu.

Dalam Metamorphosis, Gregor digambarkan sebagai “creature of the boss” (makhluk milik bos), “alat” yang tidak boleh memiliki “punggung dan pikiran” sendiri. Ya, kira-kira sama seperti pekerja urban hari ini.

franz kafka, pekerja urban.MOJOK.CO
Dalam Metamorphosis, Kafka ingin menyampaikan bahwa pekerja itu dianggap sebagai mesin. Jika rusak, maka ia harus segera disingkirkan karena dianggap tak berguna lagi. (dok. Gramedia)

Kita bakal dibuang setelah dirasa tak berguna

Namun, cerita paling memilukan, bagi saya, justru datang dari perubahan sikap keluarga Gregor. Sebelum tubuh Gregor berubah jadi kecoa, ayahnya digambarkan sebagai pria tua yang lemah dan hanya bersantai di kursi sepanjang hari. 

Baca halaman selanjutnya…

Bahkan, kita cuma dianggap angin lalu ketika sudah tiada.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 15 Januari 2026 oleh

Tags: franz kafkametamorfosispekerjapekerja urbanpilihan redaksiulasan buku
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.