Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
15 Januari 2026
A A
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Namun, begitu Gregor tidak lagi bisa bekerja, sang ayah mengalami perubahan perilaku yang drastis. Ia kembali bekerja sebagai penjaga bank, mengenakan seragam biru ketat dengan kancing emas, yang membuatnya terasa seperti bos di rumah.

Puncaknya, digambarkan dalam adegan serangan apel. Saat Gregor mencoba merayap keluar dari kamarnya, ayahnya–pria yang selama ini ia nafkahi–justru mengejarnya dengan kemarahan yang meluap-luap. 

Ia mulai membombardir Gregor dengan apel dari meja makan. Salah satu apel tersebut bersarang di punggung Gregor, menembus kulit serangganya yang keras, dan dibiarkan membusuk di sana karena tidak ada anggota keluarga yang berani atau mau mencabutnya.

Membaca ulang adegan ini, rasanya nyesek. Membayangkan menjadi Gregor, semula tulang punggung yang menafkahi keluarga, tetapi cacat fisik membuatnya dipandang tak berharga.

Luka apel ini, bagi saya, adalah simbol fisik dari penolakan keluarga. Dalam dunia pekerja urban saat ini, mirip dengan orang tua atau pasangan yang perlahan-lahan berubah menjadi asing atau agresif ketika kita tidak lagi mampu memenuhi ekspektasi finansial mereka. 

Kasih sayang yang dulu ada, kini berubah menjadi rasa jijik karena kita dianggap sebagai “hama” yang menguras sumber daya mereka.

Jika sang ayah mewakili kemarahan, saudara perempuannya, Grete, mewakili kejijikan yang lebih halus tapi lebih mematikan. Awalnya, Grete adalah satu-satunya orang yang peduli; ia membawakan makanan sisa yang membusuk karena ia tahu Gregor menyukainya. Namun, seiring berjalannya waktu, kasih sayangnya terkikis oleh kelelahan dan ambisinya sendiri.

Adegan ikonik yang menandai berakhirnya kemanusiaan Gregor adalah saat Grete bermain biola untuk para penyewa kamar. Gregor, yang sangat mencintai adiknya dan bermimpi menyekolahkannya ke konservatori musik, merayap keluar karena terpesona oleh alunan musik itu.

Namun, alih-alih disambut dengan pelukan, kehadirannya justru memicu bencana bagi reputasi keluarga di depan para penyewa.

Di sinilah Grete mengucapkan kalimat yang nyelekit dan bikin Gregor kena mental–saya pun ikut nyesek membacanya.

“Ayah, Ibu, kita tidak boleh lagi berpikir bahwa ‘ini’ adalah Gregor. Kita harus mencoba menyingkirkannya… ‘itu’ akan menghancurkan kita semua”. 

Grete, adik yang Gregor sayangi, berhenti menyebutnya “kakak” dan menggantinya dengan kata ganti “itu”. Transformasi Grete dari seorang gadis muda yang lembut menjadi orang yang dingin, bagi saya, mencerminkan bagaimana pekerja urban sering kali “dibuang” oleh lingkaran terdekatnya begitu mereka dianggap tidak lagi berguna bagi circle mereka.

Familiar, bukan?

Kita, para pekerja urban, dianggap angin lalu setelah tiada

Mungkin, adegan yang paling memuakkan adalah apa yang terjadi setelah Gregor mati karena kelaparan dan luka-lukanya. Begitu mayat Gregor ditemukan oleh pelayan dan dibuang seperti sampah, keluarga Samsa tidak meratap. Sebaliknya, mereka merasakan kelegaan yang luar biasa.

Mereka mengambil hari libur, naik trem ke luar kota, dan menikmati sinar matahari yang hangat. Sesuatu yang sangat kontras dengan kamar Gregor yang gelap dan berdebu.

Pesan Kafka sangat jelas: kematian Gregor bukan alasan untuk merasa kehilangan. Di realitas urban saat ini, adegan ini mengingatkan kita pada bagaimana roda korporasi dan bahkan struktur keluarga tertentu akan terus berputar dengan ceria setelah mereka “membuang” individu yang sudah habis diperas tenaganya. 

Semakin relevan, bukan?

Penulis: Ahmad Effendi

Iklan

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 15 Januari 2026 oleh

Tags: franz kafkametamorfosispekerjapekerja urbanpilihan redaksiulasan buku
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mending Beli Rumah di Menganti, Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo. MOJOK.CO

Alasan Pasangan Muda Beli Rumah di Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo: Kena Imbas Pembangunan Perkotaan

12 Agustus 2026
Alumnus Peternakan UMM Kerja Jadi Manager di Australia. MOJOK.CO

Dulu Kuliah Tanpa Punya Laptop, Alumnus UMM Ini Buktikan Bisa Kerja di Australia sebagai Manajer Peternakan

11 Agustus 2026
Mahasiswa KKN UGM dan LPS berkolaborasi hadirkan edukasi literasi keuangan di desa terluar Mentawai MOJOK.CO

Literasi Keuangan untuk Desa Terluar di Mentawai: Jadi Bekal Masyarakat Desa Hadapi Ragam Persoalan Finansial

10 Agustus 2026
lestarikan budaya.MOJOK.CO

Rayakan HUT ke-81 RI, InJourney Tebar Diskon 81 Persen dan Gelar Pesta Budaya di Destinasi Sejarah Nusantara

10 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Hyrox. MOJOK.CO

Panduan Selamat sebelum Menjajal Hyrox agar Nggak Celaka: Dari Latihan Angkat Beban sampai Tips Punya Asuransi Jiwa

9 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.