Berkebun menjadi salah satu aktivitas produktif yang kerap dibayangkan seiring dengan resolusi slow living. Jika dibayangkan, punya kebun sendiri di desa bisa menunjang ketahanan pangan. Butuh tanaman—buah atau sayuran—buat konsumsi sehari-hari tinggal petik di kebun sendiri.
Akan tetapi, punya kebun sendiri di desa ternyata bukannya tanpa risiko. Pasalnya, kebun—apalagi di lahan yang jauh dari pengawasan—rentan jadi incaran tangan-tangan panjang.
Alhasil, alih-alih bisa slow living di desa (menikmati hasil kebun sendiri), yang terjadi malah makan hati setiap hari. Rugi besar, Cok!
Tanah kebun subur buat berkebun di desa memang menggiurkan, tapi memuakkan
Setiap pulang ke Jombang, Jawa Timur, saya kerap mengisi pagi atau sore dengan jalan-jalan di perkebunan desa tidak jauh dari rumah istri. Di sana, pemandangan beragam jenis tanaman konsumsi tampak menggoda.
Di lini buah-buahan, ada buah naga, melon, hingga semangka yang momol-momol (gemuk-gemuk). Sementara di sisi sayuran, ada timun, kubis, terong, cabai, tomat, bawang-bawangan, dan macam-macam. Belum lagi tebu dan jagung yang berderet lebat sekali.
Pemandangan tanah subur itu memang menggiurkan. Jadi gambaran slow living yang ideal. Namun, ternyata ada situasi yang sangat memuakkan bagi si pemilik lahan: hasil kebun tersebut, jika memasuki masa panen, pasti sudah jadi incaran orang-orang tangan panjang.
Ingin panen di pagi hari, tapi tidak bisa nikmati hasil kebun sendiri di desa
Perbincangan dengan petani setempat: hasil kebun sendiri itu tidak sepenuhnya bisa dinikmati untuk sendiri, baik untuk dijual maupun buat konsumsi di rumah.
Sebab, yang terjadi sering kali begini: para petani niatnya panen di pagi hari, tapi saat mereka ke ladang, mereka hanya mendapati tanah kosong yang hanya menyisakan hasil tanaman yang dicabut sembarangan.
Tanaman-tanaman yang siap panen itu ternyata sudah ludes dimaling orang. Si petani hanya bisa mengumpat-ngumpat, marah bercampur sedih, dan muak membatin.
Merawat tanaman di kebun itu butuh ketelatenan. Merawat, memupuk, menyirami. Tapi setelah upaya-upaya itu, eh tidak “balik modal” karena lenyap begitu saja.
Penjagaan tidak mempan, petani kalah cerdik dari maling
Petani setempat bukannya tidak bersiaga. Setiap menjelang musim panen, penjagaan sebenarnya sudah diperketat. Misalnya dengan beberapa malam menginap di gubuk kebun. Bahkan ada pula yang sengaja memasang jebakan.
Masalahnya, entah si maling ternyata lebih cerdik. Entah bagaimana caranya, si maling selalu bisa menemukan waktu-waktu ketika si petani lengah. Si maling pun bisa selalu lolos dari jebakan yang sudah dipasang di beberapa titik.
Pernah suatu kali ada petani yang memergoki kebunnya tengah dirampok oleh dua orang maling. Si maling langsung lari.
Si petani memang berusaha mengejar. Tapi pertama, dua maling itu bawa senjata tajam. Yang kedua, entah kenapa pelarian maling selalu lebih gesit ketimbang pengejarnya.
Teriak-teriak cari bala bantuan pun tidak mempan. Sebab kebun si petani jauh dari rumah-rumah warga desa. Suara teriakan yang terdengar hanya samar-samar. Sehingga, ketika sekumpulan warga datang, para maling sudah keburu tidak terkejar.
Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…
Murah hati yang disalahpahami: sudah dicolong, dirusuhi, malah digalaki













