Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
23 April 2026
A A
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Ilustrasi - Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sia-sia berkebun di desa gara-gara murah hati yang disalahpahami

Kondisi serupa sebenarnya juga terjadi di kampung halaman saya sendiri di Rembang, Jawa Tengah. Meski tanahnya tidak sesubur di Jombang, tapi setidaknya masih ada jenis tanaman yang bisa tumbuh di kebun: mangga, sawo, pisang, pepaya, jambu (air maupun biji), jagung, kangkung, jahe, dan cabai. 

Beberapa orang di desa saya memang murah hati. Jika ada tetangga minta tanaman dari kebun belakang rumah, pasti akan dikasih secara cuma-cuma. Tapi untuk “tanaman-tanaman kecil” seperti kangkung, cabai, jahe, atau sekadar daun jeruk untuk penyedap masakan. 

Masalahnya kemudian, kemurahhatian itu disalahpahami: ambil tanaman di kebun tetangga tanpa bilang-bilang itu tidak masalah. Toh kalau minta pasti dikasih. 

Alhasil, amat sering orang-orang desa pemilik kebun mengeluh karena hasil kebunnya lenyap sebelum si pemilik kebun bisa menikmati sepenuhnya. Pepaya matang tiba-tiba lenyap padahal sudah dijadwal akan dipetik. Jumlah sawo yang masak tiba-tiba berkurang. Pisang setandan pun bisa raib padahal matangnya sudah ditunggu si pemilik kebun sejak jauh-jauh hari. 

Dia yang maling, dia yang nyolot

Ada seorang warga yang mengaku pernah memergoki tengah menyolong tanaman di kebunnya. Tak pelak jika si warga muntab dan mendamprat si maling yang ternyata warga desa sendiri. 

Lucunya, dalam situasi tersebut, si warga desa pemilik kebun malah seolah menjadi pihak yang salah. Karena saat dilabrak, si maling ada-ada saja alasannya. 

Alasan paling klasik adalah: bilang baru saat itu saja (pertama kali) ngambil tanaman di kebun. Tentu saja si pemilik kebun mencecar tidak percaya. 

Dari situ perdebatan lantas terjadi. Lucu tapi ironis, si maling malah tidak diterima dituduh telah maling. Dia malah berbalik menuduh pemilik kebun sebagai orang pelit.

“Cuma diambil gitu aja nggak terima. Padahal cuma sedikit. Dasar pelit memang!” Begitu kilah si maling. Lah, cuma sedikit katanya. Berkebun juga butuh effort loh. Si pemilik kebun belum sempat menikmati sendiri hasil kebunnya loh!

“Semua kuganti, minta berapa sih? Dikira nggak mampu ganti rugi.” Aneh, benar-benar aneh memang. Dia yang maling, dia yang nyolot. 

Jadi WC, tempat sampah umum, dan bebas buang bangkai binatang

Di Rembang, yang memuakkan dari punya kebun di desa ternyata tidak cuma sekadar dicolong saja. Tapi juga harus siap-siap jadi korban ulah-ulah menyebalkan warga. 

Sebab, kebun milik orang, di mata beberapa orang lain yang “tidak bernalar”, sudah seperti WC dan tempat sampah umum: jadi tempat orang berak dan buang sampah sembarangan.

Tidak jarang pula jadi tempat orang buang bangkai binatang, seperti kucing, tikus, atau ayam. Sering pula menjadi tempat orang membuang kucing (hidup) yang dianggap nakal dan mengganggu. Itu kalau si pemilik kebun menegur pelaku (jika ketahuan), yang terjadi malah bisa pertengkaran. Si pelaku bisa lebih galak.

Alih-alih bisa menikmati hidup dengan nuansa slow living, punya kebun sendiri di desa akhirnya malah seperti dua mata padang. Merepotkan.  

Iklan

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 24 April 2026 oleh

Tags: berkebunberkebun di desakebun desakebun di desapilihan redaksislow livingslow living berkebunslow living di desatanaman berkebuntanaman kebun
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO
Esai

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO
Sekolahan

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO
Urban

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

Yang Perlu Kamu Tahu dan Kamu Lakukan di Tengah Kelesuan Ekonomi Saat Ini

29 Mei 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

1 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
tren olahraga kalcer.MOJOK.CO

Tren dan FOMO Olahraga “Kalcer” yang Mahal Lahir karena Minimnya Fasilitas Publik di Perkotaan

29 Mei 2026
Ambisnya Orang Tua di Jogja Demi Sekolah Favorit untuk Anaknya MOJOK.CO

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026
Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu? MOJOK.CO

Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu?

29 Mei 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

1 Juni 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.