Pasang WiFi di rumah di desa ternyata punya implikasi sosial yang menyebalkan. Sebab, perangkat yang sedianya untuk dinikmati keluarga sendiri, justru menjadi pemicu ketegangan dengan orang lain. Begitu yang dirasakan oleh Jono (25), pemuda asal Jawa Tengah.
Pasang WiFi di rumah desa demi kenyamanan dan efisiensi keluarga
Jono sebenarnya bukan orang pertama yang pasang WiFi di desa. Sebelumnya sudah ada beberapa orang desa yang memasang lebih dulu. Namun, di lingkungan terdekat Jono—di lingkungan tetangga rumahnya di desa—memang masih belum ada.
Jono pada akhirnya pasang WiFi di rumah karena beberapa pertimbangan. Pertama, tentu demi kenyamanan bersama keluarga. Sebab, dengan memasang WiFi, akses ke internet bisa lebih mudah dan leluasa.
Dan itu ada hubungannya langsung dengan pertimbangan kedua: efisiensi. Setiap orang di rumah—Jono, orang tua, dan adiknya—tidak harus beli paket internet yang kadang sebulan bisa dua kali.
“Bagaimana nggak dua kali, karena kan misalnya buat nonton TikTok atau YouTube, pasti cepet habis lah,” tutur Jono, Senin (13/4/2026).
Sementara dengan pasang WiFi di rumah, ia cukup ambil paket Rp133 ribu sudah bisa untuk seisi rumah. Itu cukup menekan pengeluaran keluarga dalam konteks membeli paket internet sesuai provider masing-masing.
Jadi rame bocil-bocil mabar
Kenyamanan dan efisiensi tersebut pada akhirnya memang keluarga Jono rasakan. Namun, gara-gara pasang WiFi di rumah, rumahnya akhirnya menjadi tongkrongan bocil-bocil tetangga teman adiknya. Kebutuhan mereka adalah “numpang WiFi” untuk mabar.
Dalam konteks untung-rugi, Jono sebenarnya tidak masalah dengan bocil-bocil tersebut. Ia hanya miris saja karena kehidupan bocil-bocil sekarang hanya berkutat di layar.
“Mangkanya kadang aku sengaja matiin, bilang kalau WiFi-nya mati. Terus mereka nggak nongkrong di rumah. Tapi ya pindah ke rumah teman lain yang ada WiFi-nya, jadi ya sama aja, sih, hahaha,” ucap Jono.
Pasang WiFi di rumah jadi petaka karena “dipalak” tetangga di desa
Petaka pasang WiFi di rumah mulai terasa ketika tetangga di desa mulai ikut-ikutan numpang internetan. Jadi bukan hanya bocil-bocil anak mereka, tapi orang tuanya ikut numpang sekalian.
Awalnya satu-dua tetangga datang untuk minta password. Masalahnya, cara mereka minta malah terkesan seperti orang malak. Gambarannya seperti ini:
Tetangga: Jon, password WiFi, Jon.
Tetangga: Jon, password WiFi mbok jangan digonta-ganti.
Gimana tidak diganti-ganti. Sebab, dari satu-dua tetangga, password WiFi rumah Jono kemudian justru menyebar ke tetangga-tetangga yang lain. Efeknya, jelas saja koneksinya menjadi sangat berat dan lemot. Karena kan memang hanya untuk orang serumah saja.
Dari situ, Jono akhirnya sering-sering menggonta-ganti password. Dan itu ternyata malah menjadi masalah baru bagi tetangganya.
“Aku ya heran. Kok bisa mereka yang protes, kan yang bayar aku, gimana sih,” gerutu Jono.
Mau disistem patungan biar sama-sama enak, malah dicap egois dan pelit
Jono sempat berpikir jalan tengah. Kalau memang tetangga di sekitar rumah Jono di desa tersebut mau numpang, maka mending beli paket dengan MBPS yang lebih besar.
Catatannya, biaya bulanannya harus ditanggung bareng-bareng: patungan. Itupun Jono sudah mencoba proporsional: kira-kira berapa beban biaya patungan perrumah yang ikut numpang WiFi di rumah Jono.
Ini anehnya. Tetangga Jono justru enggan untuk patungan.
“Halah, Jon, wong kami ya nggak selalu pakai WiFi, ndadak harus patungan segala.” Begitu salah satu respons tetangga.
“Kamu percaya? Nggak mungkin lah. Kalau sekeluarga udah nyambung, pasti ya lebih milih pakai WiFi dari rumahku,” ujar Jono.
Akhirnya, karena lama-lama tetangganya semakin ngelunjak, ia memutuskan untuk rutin mengganti password. Kalau ada tetangga Jono yang tanya, ia pasti akan berkilah. Pokoknya tidak mengizinkan tetangga mengakses password WiFi di rumahnya. Ia juga memblokir setiap ada perangkat yang tersambung yang teridentifikasi bukan perangkat orang serumah.
“Tapi mereka kadang minta password dari anak-anaknya kan. Ya udah, kubilang ke adikku kalau mereka minta password, bayar. Dan itu kutulis di kertas dan kutempel di depan rumah. Perjam berapa ribu gitu lah,” kata Jono.
Kalau mati disuruh gali kubur sendiri
Sikap Jono tersebut malah memicu ketegangan. Sebab, ada saja tetangga yang kemudian memberi cap “egois” ke Jono. Jono tentu bingung, gimana sih ini konsepnya? Ia yang bayar, tapi tetangga malah yang menuntut hak diberi akses.
“Gara-gara dicap egois, sampai ada selentingan, ‘Orang egois kalau mati biar mandi-mandi sendiri, gali kubur sendiri’. Sumpah itu lucu banget,” kata Jono.
Tapi Jono memilih tidak peduli. Pernah suatu kali ada tetangga yang menggojloki Jono: “Jono sekarang pelit. Nggak bagi-bagi password.”
“Lah, ya kamu pasang WiFi sendiri lah, masa menyalahkan aku?” Begitu respons Jono.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














