Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Malang Dihina “Desa”, padahal Tempat Pelarian Terbaik bagi Orang Kota Surabaya yang Stres meski Punya Mal Mewah

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
5 Maret 2026
A A
Orang Surabaya hina Malang. MOJOK.CO

ilustrasi - perempuan ngaku tinggal di Surabaya, culture shock saat pergi ke mal di Malang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang perempuan yang mengaku tinggal di Surabaya meminta maaf, karena sudah membuat video yang menyebut Malang adalah “desa” dan Malang Town Square (Matos) sebagai “mal terkecil di dunia”. Sontak, pernyataannya itu menuai respons marah dari publik.

Setelah videonya yang membanding-bandingkan Matos dengan Pakuwon Mall Surabaya viral, pihaknya langsung meminta maaf lewat akun TikTok pribadinya (@caeinmotion). Dia pun tidak menyangka videonya akan seramai ini.

Iklan

“First of all, dari awal aku sama sekali nggak ada niat buat menjelekkan atau menyindir pihak manapun, apalagi menjelekkan Malang. Di video itu aku pure lagi bercanda sama temanku aja. No hard feelings at all,” ucapnya dikutip Mojok dari akun TikTok @caeinmotion, Kamis (5/3/2026).

“Tapi aku sadar ternyata konten itu bisa disalahartikan dan bikin beberapa pihak merasa nggak nyaman. Untuk itu aku minta maaf yaa, itu bukan tujuan aku sama sekali. Thank you juga buat yang udah ngingetin dengan baik. Next time aku pasti bakal hati-hati sebelum posting.”

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by MALANG RAYA INFO – MEDIA (@malangraya_info)

Namun, apa mau dikata. Nasi telah menjadi bubur. Beberapa orang yang mengaku warga Malang sudah terlanjur sakit hati. Sebagian dari mereka sepakat jika Matos adalah mal kecil, tapi tidak apple to apple rasanya jika dibandingkan dengan mal di Surabaya. Apalagi, Surabaya merupakan kota metropolitan dan terbesar kedua di Indonesia.

Sebaliknya, bagi warga Surabaya asli, Malang justru tempat pelarian terbaik untuk mengasingkan diri. Jauh dari pemandangan gedung-gedung tinggi dan cocok untuk menikmati suasana alam.

Alasan orang Surabaya tinggal di Malang

“Wong Surabaya lapo yoan adoh-adoh nak Malang gawe nge-mal. Wong ndek Surabaya wes akeh. Kebanyakan, nak Malang yo gawe healing ke alam. (Orang Surabaya juga ngapain jauh-jauh ke Malang untuk pergi ke mal. Orang di Surabaya sudah banyak mal. Justru ke Malang itu untuk healing ke alam),” kata Ines (25) saat dihubungi Mojok, Kamis (5/3/2026).

Kegiatan menikmati alam itu juga yang menjadi alasan terbesar Ines selaku orang asli Surabaya untuk tinggal di Malang selama hampir 6 tahun. Awalnya, Ines merantau ke Malang untuk menempuh pendidikan tinggi. Ndilalah, ia makin kerasan dan bekerja di perkebunan sejak pandemi Covid-19.

“Bagiku kegiatan berkebun itu bisa menenangkan pikiran, meluapkan emosi, dan mencari energi positif. Yang berantakan memang hatinya, tapi yang ditata tanamannya,” kelakar Ines.

Iklan

Sebetulnya, kata Ines, hiruk pikuk Surabaya vs Malang tidak jauh berbeda. Apalagi soal macet dan kepadatan kotanya. Tapi setidaknya, dia bisa healing ke wisata alam terdekat tanpa mengeluarkan biaya besar dan waktu yang lama.

“Malahan, teman-temanku dari Surabaya sering menginap di tempatku. Katanya ingin liburan. Akhirnya kuajak panen stroberi.”

“Tempat pelarian” terbaik orang Surabaya

Begitu pula dengan Nisa (25). Perempuan asal Surabaya ini mengaku sering berkunjung ke Malang untuk healing, sekaligus cuci mata dari suasana pekerja perkotaan. Dari pada melihat gedung-gedung tinggi, Nisa lebih suka melihat yang “hijau-hijau”.

“Atau kalau mau ke pantai, aku lebih suka ke Malang Selatan karena pemandangannya bagus,” ujar Nisa yang setidaknya bisa 20 kali pergi ke Malang dalam setahun.

Biasanya, ia tidak pergi sendiri tapi mengajak pacar, saudara, bahkan besti-bestinya di Surabaya yang mengaku stres di usia dewasa. Misalnya tahun 2023 lalu, saat Nisa mengajak bestinya untuk pergi ke Pantai Teluk Asmara karena, bestinya stres mengerjakan revisi skripsi.

Selain itu, Nisa mengaku juga memiliki teman yang berprofesi sebagai guru di Surabaya. Kadangkala, saat temannya itu stres menghadapi gap lintas generasi, ia memilih healing sendirian ke Malang.

Selain pergi ke wisata alam, Nisa juga rutin mengunjungi coffee shop. Sebab, kata dia, banyak coffee shop menarik dan estetik untuk selfie. Bahkan tak jarang, ia jalan-jalan ke mal untuk mencari makan dan belanja. Meski bagi sebagian orang mal bukan tujuan utama, bagi Nisa, pusat perbelanjaan di Malang tetap memiliki daya tarik tersendiri.

“Aku sering banget pergi ke MATOS sama Mall Olympic Garden. Malah, aku pernah beli tas merk Oneda, brand bagus milik lokal yang belum ada di offline store Surabaya,” ujarnya.

Pada akhirnya, Malang memang tidak punya mal sebesar Surabaya, tapi ia punya sesuatu yang lebih berharga. Ialah rasa tenang, keindahan alam yang meluruhkan stres pikiran, sekaligus tempat pelarian terbaik bagi orang-orang Surabaya yang lelah berjuang.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Penyesalan Orang Surabaya yang Tinggal di Malang, Ingin Hidup Tenang malah Dipaksa “Berdamai” dengan Sound Horeg atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Maret 2026 oleh

Tags: healingmal di MalangMalangMATOSrekomendasi tempat wisataSurabayatempat wisata Malangwisata alam Malang
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO
Sekolahan

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Frugal Living, healing, MOJOK.CO
Sehari-hari

Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

26 Mei 2026
Efek rutin olahraga gym, dulu dihina gendut dan jelek kini banyak yang mendekat MOJOK.CO
Sehari-hari

Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus

11 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warung Kopi Aceh: Tempat Orang Terlihat Sibuk, Padahal Cuma Ngopi MOJOK.CO

Warung Kopi Aceh: Tempat Orang Terlihat Sibuk, Padahal Cuma Ngopi

19 Juni 2026
Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika.MOJOK.CO

Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika

12 Juni 2026
Cerita siswa di Timor Tengah Selatan, NTT yang mencari air bersih saja susah. MOJOK.CO

Cerita Siswa di NTT yang Sering Ditegur Guru karena Terlambat Sekolah, padahal Harus Cari Air Bersih Selama 2 Jam untuk Mandi

18 Juni 2026
Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

15 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Perjuangan Lily usai lulus dari manajemen dakwah. MOJOK.CO

Kisah Anak Tukang Tambal Ban yang Setahun Nganggur usai Wisuda, Kini Bisa Kerja di Sekolah Internasional setelah Ratusan Penolakan

17 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.