Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

Jafar Sodiq oleh Jafar Sodiq
26 Juni 2026
A A
Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO

Ilustrasi Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sal Priadi dalam lagu “Malang Santai Sayang” menggambarkan Kota Malang sebagai tempat yang ramah, tapi tidak untuk demo yang mengkritik pemerintah.

Agustus tahun lalu saya pernah ditinggal satu kelas penuh karena mahasiswa izin ikut demonstrasi. Sebagai dosen agama, tentu saya kehilangan satu pertemuan. Namun, saya tidak pernah menganggap mereka musuh kampus, apalagi musuh negara. 

Iklan

Memprotes sesuatu yang dianggap tidak benar adalah bagian dari pendidikan yang tidak selalu bisa diajarkan dari balik slide PowerPoint.

Karena itu, saya cukup heran melihat perkembangan demokrasi belakangan ini. Ada fakta menarik ketika sebuah demonstrasi yang mengkritisi kebijakan pemerintah justru dibalas dengan demonstrasi tandingan yang mendukung pemerintah. 

Fenomena menarik di Kota Malang, demonstrasi mengkritik mahasiswa

Demonstrasi lazimnya lahir dari ketidakpuasan terhadap kebijakan publik. Karena itu, kemunculan demonstrasi tandingan yang secara khusus hadir untuk membela pemerintah menjadi fenomena yang menarik. 

Jika publik merasa puas, biasanya dukungan cukup ditunjukkan melalui kepercayaan, bukan dengan turun ke jalan.

Kalau dulu mahasiswa turun ke jalan modalnya cuma jaket almamater dan pita hitam, membentangkan spanduk dan membawa toa, mahasiswa zaman sekarang tampaknya harus menambah satu perlengkapan wajib di tas mereka: mental siap dituduh sebagai “mahasewa” oleh baliho tandingan. 

Toa mahasiswa kini harus bersaing dengan sound system sekelas hajatan sound horeg, sementara aksi long march dibalas dengan joget gemoy ala senam Zumba.

Sebuah plot twist yang sedang dialami demokrasi kita. Ketika mahasiswa mengkritik efektivitas program MBG dan mempertanyakan penggunaan anggaran negara, mereka justru diteriaki sebagai perusak daerah. 

Ironisnya, semua itu terjadi di sebuah kota yang menamakan dirinya sebagai Kota Pendidikan. Kota dengan kampus-kampus yang selalu dibanggakan masuk QS World University Rankings (QS WUR), kota yang denyut ekonominya hidup dari mahasiswa, kota yang diberkahi kos-kosan dan jajanan olahan tepung di hampir setiap gang sekitar kampus. Kota itu adalah Malang.

Seperti yang terjadi beberapa hari lalu. Gedung DPRD Kota Malang digeruduk ratusan mahasiswa yang dimotori mahasiswa Universitas Brawijaya. Salah satu tuntutan mereka adalah menghentikan atau mengevaluasi program yang dianggap tidak efektif, seperti MBG dan Koperasi Merah Putih.

Beberapa hari setelah aksi mahasiswa, di tempat yang sama, muncul aksi massa yang mengatasnamakan #GerakanDukungPrabowo untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis. Dalam aksi tersebut terpasang spanduk bertuliskan:

“USIR MAHASEWA YANG MENGAKU MAHASISWA DARI BUMI AREMA.”

Spanduk itu terpasang di pagar DPRD dan ramai menjadi sorotan publik.

Iklan

Yak opo iki, ker?

Demonstrasi mendukung pemerintah itu tidak apa-apa, tapi jangan intimidatif

Dalam demokrasi, menyampaikan pendapat, kritik, dan demonstrasi merupakan hak yang dijamin negara. Mahasiswa dalam hal ini sedang menjalankan hak kewargaan mereka. Tidak ada yang salah dengan demonstrasi tandingan. Mendukung pemerintah juga merupakan hak warga negara.

Persoalannya muncul ketika dukungan itu berubah menjadi upaya membungkam kritik melalui stigmatisasi dan intimidasi.

Alih-alih menjadikan kritik sebagai momentum untuk bertafakur dan berbenah, sebagian orang justru sibuk mengecilkan pengkritiknya. Muncullah label “mahasewa”, narasi “selesaikan skripsi dulu, Dek”, “ingat yang bayar UKT orang tua”, dan berbagai serangan personal lain yang sama sekali tidak menjawab substansi kritik.

Dalam kasus Bumi Arema, aksi dukungan terhadap MBG sebenarnya bisa saja berlangsung biasa. Orang datang, berorasi mendukung program pemerintah, menikmati panggung hiburan, lalu pulang. Tidak ada masalah.

Namun, ketika muncul spanduk bernada pengusiran, persoalannya menjadi berbeda. Narasi pada baliho tersebut adalah bentuk provokatif dan intimidatif yang kasatmata. 

Hari ini, bersuara kritis tidak hanya berhadapan dengan perbedaan pendapat. Kritik sering kali dibalas dengan serangan personal. Yang diserang bukan argumennya, melainkan orangnya. 

Yang dibantah bukan datanya, melainkan identitasnya. Seolah-olah ketika mahasiswa berhasil dicap sebagai “mahasewa”, seluruh kritik mereka otomatis gugur.

Perlu menata ulang cara pandang terhadap kritik agar tetap “Malang Santai Sayang”

Sebagai dosen yang pernah ditinggal satu kelas penuh karena mahasiswa ikut demonstrasi, saya melihat baliho intimidatif itu sebagai sesuatu yang sudah melampaui batas kewajaran respons terhadap kritik mahasiswa. Apalagi jika disandingkan dengan gaya dan kultur Malangan yang selama ini dikenal santai dan terbuka.

Sal Priadi dalam lagu “Malang Santai Sayang” menggambarkan kota ini sebagai tempat yang ramah. Pada salah satu liriknya ia bahkan berkata, “mereka nggak gigit.”

Namun, melihat kejadian di depan Gedung DPRD Kota Malang beberapa hari lalu, rasanya lirik itu berubah menjadi semacam tamparan. Betapa garangnya Arek Ngalam hari ini. Mahasiswa tidak hanya dituduh sebagai “mahasewa”, kelompok yang dianggap tergadai, tetapi juga secara terang-terangan diminta pergi dari Bumi Arema.

Mengerikan.

Kita perlu menata ulang cara pandang terhadap kritik. Kritik memang seperti jamu: tidak selalu manis, bahkan sering kali pahit. Namun, justru karena pahit itulah ia menyehatkan.

Ketika kritik tidak lagi dipahami sebagai bagian dari demokrasi, maka yang terjadi adalah apa yang kita lihat hari ini. Buzzer tidak lagi hanya hidup di media sosial, tetapi mulai menemukan bentuknya di dunia nyata. Kritik dibalas demonstrasi tandingan. Argumen dibalas stigma. Substansi dibalas serangan personal.

Kasus baliho di Kota Malang hari ini mungkin juga terjadi di banyak tempat, di banyak kota, dan kepada banyak mahasiswa yang memilih turun ke jalan menyampaikan kritik. 

Rasanya perlu kita renungkan kembali: sebelum semua polemik ini muncul, kita mengenal Malang sebagai kota yang santai. Kota yang ramah. Kota yang terbuka terhadap perbedaan.

Mungkin Kota Malang masih santai, sayang. Hanya saja, kritik tampaknya sudah tidak lagi diterima dengan santai. Atau jangan-jangan, seperti kata serial Avatar dulu, sebelum negara api menyerang semua baik-baik saja.

Penulis: Jafar Sodiq
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Terakhir diperbarui pada 26 Juni 2026 oleh

Tags: Kota MalangMalangMBGpemerintah
Jafar Sodiq

Jafar Sodiq

Saya adalah dosen Agama Islam di Universitas Brawijaya-Malang, alumni Akidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar dan Filologi (konentrasi kajian tasawuf) Universitas Liga Arab Kairo, suka dunia kajian pemikiran, keislaman dan filsafat. Sebagai pengajar saya juga bisa membuat dimsum dan bakso.

Artikel Terkait

Tips Memulai Usaha Coffee Shop yang Tahan Disiksa Negara MOJOK.CO
Cuan

Tips Memulai Usaha dari Mantan Lulusan CPNS yang Memilih Menyiksa Diri Menjadi Pengusaha Coffee Shop

21 Juni 2026
Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO
Kabar

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

17 Juni 2026
Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO
Kabar

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil MOJOK.CO
Esai

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil

27 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

“A Decade of Leisures”, Perayaan 10 Tahun Land of Leisures dengan Tujuan Memperkuat Ekosistem Kreatif Lokal

“A Decade of Leisures”, Perayaan 10 Tahun Land of Leisures dengan Tujuan Memperkuat Ekosistem Kreatif Lokal

19 Juni 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Ragam karya dan pertunjukan dalam Ars Longa: Generatio sebagai pembuka Trilogi Seni ARTJOG MOJOK.CO

Ragam Karya dan Pertunjukan dalam “Ars Longa: Generatio” sebagai Pembuka Trilogi Seni ARTJOG

24 Juni 2026
Ujian keuangan di kota perantauan gara-gara masalah tidak terduga yang datang keroyokan, bikin gagal punya tabungan MOJOK.CO

Ujian Keuangan di Kota Perantauan: Bikin Mumet dan Gagal Nambah Tabungan Gara-gara Masalah yang Datang Keroyokan

24 Juni 2026
Peluncuran logo dan maskot MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah MOJOK.CO

MTQ Nasional XXXI Jateng: Warna Baru Festival Al-Qur’an Terbesar dan Adem Ayem di Semarang

25 Juni 2026
Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan MOJOK.CO

Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan

22 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.