MOJOK.CO – Lagu “Mas Bahlil Ganteng” kini sudah tersingkir dalam ingatan anak-anak, berganti dengan lirik “Udah siap belum?” milik No Na.
Watak budaya populer memang seperti kondisi kelistrikan kita akhir-akhir ini: byar-pet. Peluang viralnya secepat peluang terbenamnya.
Rasanya baru kemarin lusa linimasa kita dijajah frasa “Buah apa yang paling manis? Buahlil”. Tapi, belum sempat kita mentas dari sarkasme digital itu, telinga kita kini disergap denting gamelan yang tiba-tiba berubah haluan menjadi musik kelab jedag-jedug dengan lirik “Udah siap belum..”
Seorang kawan yang anaknya masih SD mengeluhkan betapa hegemoninya lagu My Little Bolu Ketan kala itu, hingga mencemari memori internal buah hatinya yang latah menyanyikan MBG: Mas Bahlil Ganteng.
No Na menyelamatkan anak-anak dari kampanye politik terselubung
Katanya, menerapkan disiplin konsumsi medsos untuk anak di rumah rasanya nihil belaka. Di sekolahan, anaknya tetap saja terpapar konten tidak ramah anak dari teman anaknya yang tentu masih kanak-kanak. Memang, pendidikan anak itu tidak murah. Kalau bukan mahal secara ekonomi, ya mahal ongkos sosialnya.
Kini, kawan saya sedikit berlega hati karena anaknya tak lagi merapal lagu ‘MBG’ yang sudah tentu sarat konteks politik. Buatan AI pula. Sebagai gantinya, kini lagu “Rollerblade” yang dibawakan girl group asal Indonesia, No Na menjejali kita semua, termasuk Generasi Z dan anak-anak Gen Alpha.
Beberapa netizen tampak sumringah. Juga kawan saya tentu saja.
Pergantian takhta konsumsi budaya pop dari lirik “MBG: Mas Bahlil Ganteng” ke “Udah siap belum?” disambut suka cita publik di ruang media. Beberapa bahkan melontarkan ungkapan terima kasih di media sosial kepada No Na yang dianggap telah menyelamatkan bocil-bocil Nusantara dari penetrasi kampanye politik terselubung di balik lagu MBG.
Kenapa hal ini terjadi?
Lagu MBG adalah puncak komedi nihilis internet. Sumbernya dari plesetan program “Makan Bergizi Gratis” yang, oleh netizen, diarahkan kepada Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
Yang membuat lagu MBG ganjil adalah ia murni dilahirkan oleh rahim kecerdasan buatan, berbekal komentar-komentar random warganet. AI ini terbukti jago meracik earworm algoritmik yang menempel di kepala layaknya permen karet di sol sepatu.
Lebih ganjil lagi, ternyata lagu MBG digunakan oleh pendukung Bahlil untuk semakin mengerek popularitas tuannya di ruang media. Termasuk Bahlil sendiri yang sempat keranjingan lagu MBG, hingga penasaran ingin bertemu penciptanya.
Meski begitu, estetika lagu yang sekadar mengandalkan ironi dan kelucuan tanpa kedalaman emosional ternyata gampang basi. Lagu MBG kini dipaksa pensiun dari algoritma media sosial oleh single Rollerblade milik No Na yang datang dengan presisi bak penembak jitu.
Anak-anak suka Rollerblade bukan karena paham liriknya
Orang dewasa sering mengira anak-anak menyukai lagu karena memahami liriknya. Padahal, yang pertama kali ditangkap anak justru bukan makna, melainkan bunyi. Dalam kajian pemerolehan bahasa, anak lebih dahulu mengenali ritme, intonasi, pengulangan, dan pola fonetik daripada isi pesan.
Itulah sebabnya balita bisa menyanyikan lagu berbahasa Inggris tanpa mengerti sepatah kata pun.
Kalimat “Udah siap belum?” bekerja sangat efektif karena menggunakan pola percakapan yang sudah akrab di telinga anak.
Mereka setiap hari mendengar pertanyaan seperti “Udah mandi belum?”, “Udah makan belum?”, atau “Udah selesai belum?”.
No Na meminjam struktur bahasa yang telah tertanam dalam memori mereka, lalu meletakkannya tepat sebelum ledakan musik dimulai. Otak anak pun menganggap lagu itu seperti ajakan bermain.
Rollerblade sebenarnya bukan lagu anak-anak. Lagu ini ditulis untuk pasar remaja dan dewasa muda. Namun, algoritma media sosial tidak mengenal kategori umur. Yang dihitung hanyalah seberapa cepat sebuah audio dipakai, ditiru, dan diputar ulang. Akibatnya, lagu yang tidak pernah diniatkan menjadi lagu anak justru bermigrasi ke ruang bermain bocah-bocah SD melalui TikTok, Instagram Reels, hingga grup WhatsApp orang tua.
Ada alasan lain mengapa frasa itu sangat mudah menempel. “Udah siap belum?” bukan sekadar kalimat tanya. Dalam musik populer, ia berfungsi sebagai call, yakni aba-aba yang mengundang respons pendengar.
Pertanyaan itu sebenarnya tidak menunggu jawaban. Ia hanya memberi sinyal bahwa sesuatu yang menyenangkan akan segera dimulai. Mekanisme psikologis semacam ini membuat anak merasa sedang diajak ikut bermain, bukan sekadar mendengarkan lagu.
“Udah siap belum?”
Frasa itu terdengar sepele, tetapi secara musikal bekerja seperti aba-aba sebelum permainan dimulai. Ia bukan pertanyaan yang benar-benar menunggu jawaban, melainkan ajakan agar pendengar ikut masuk ke dalam lagu.
Bagi anak-anak, frasa seperti ini terasa sangat akrab. Mereka sudah biasa mendengar, “Udah makan belum?”, “Udah mandi belum?”, atau “Udah siap belum berangkat sekolah?”.
Pola bahasa sehari-hari itu membuat otak anak langsung merasa sedang diajak berbicara, bukan sekadar mendengarkan musik. Belum lagi kata rollerblade sendiri identik dengan bermain, bergerak, dan bersenang-senang.
Baca halaman selanjutnya














