Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
22 April 2026
A A
Gen Z pilih soft living daripada slow living

Ilustrasi - Soft living gen Z (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai generasi Z (gen Z), saya tahu beberapa teman sudah menyerah dengan cita-cita bahwa mereka akan hidup dengan tenang dan damai pada usia tua. Sebagian mulai menyadari bahwa slow living mustahil, kemudian mencoba berdamai dengan soft living.

Meski sebelumnya, artikel Mojok pernah menuliskan mengenai cita-cita gen Z yang ingin slow living seperti kebanyakan orang. Dalam artikel yang sama bisa ditemui realitas bahwa generasi ini masih harus bekerja keras, bahkan side hustle.

Kalau sudah begitu, mimpi indah di usia tua tanpa beban hidup hanya menjadi angan-angan. 

“Mungkin [slow living] lebih ke hidup, tapi nggak ngejar apa-apa,” kata Jatayu, dikutip Rabu (22/4/2026).

“Sekarang kita nggak slow living karena banyak yang dikejar,” tambah dia.

Gen Z hidup dengan sejuta mimpi untuk dikejar

Seperti yang dikatakan Jatayu, gen Z nyatanya memiliki banyak keinginan untuk diwujudkan. Tentu, hidup tenang menjadi salah satu di antaranya.

Berdasarkan hasil riset yang dirilis pada 2022, gen Z menempatkan menabung untuk masa depan sebagai prioritas kedua. Namun bersama daftar prioritas ini, ada banyak prioritas lain yang mengikutinya. Artinya, gen Z memiliki banyak mimpi untuk dikejar, serta dipenuhi sebelum dapat mewujudkan gaya hidup slow living.

Hasil riset prioritas gen Z
Hasil riset prioritas gen Z (Sumber: Riset IDN Research Institute dan Populix, diolah: Shofiatunnisa Azizah/Mojok.co)

Survei menunjukkan bahwa penempatan orang tua sebagai prioritas utama gen Z dipengaruhi oleh riset yang dilakukan dalam rentang waktu berdekatan dengan pandemi Covid-19. Sementara itu, prioritas masa depan mulai terlihat pada peringkat kedua dan seterusnya.

Dari 11 prioritas hidup tersebut, hanya 4 di antaranya yang mencerminkan bahwa gen Z akan memperlambat langkah mereka dalam menjalani hidup, seperti halnya melalui keinginan fleksibel bekerja, menikah dan berkeluarga, travelling, serta menjadi lebih religius. Bahkan, keinginan memiliki anak berada pada prioritas terakhir. 

Soft living menjadi bentuk menyerah paling dapat diterima gen Z untuk tenang

Karena banyaknya keinginan untuk diwujudkan, ketenangan menjadi nomor sekian. Inilah yang kemudian mendorong perubahan rencana, setidaknya untuk gen Z, agar bisa soft living.

Soft living adalah gaya hidup yang memprioritaskan kenyamanan, ketenangan, dan kesejahteraan diri tanpa harus mengejar sukses yang besar atau menjadi ambisius dalam mencapai segalanya.

Gaya hidup ini bisa dimulai melalui langkah kecil, secara perlahan. Alon alon, tapi pasti, begitu mengutip kata salah seorang dosen yang saya hormati. Maka, bagi saya, soft living menunjukkan kesadaran bahwa hidup tidak harus selalu berjuang keras untuk dapat dikatakan berhasil atau cukup.

Bisa jadi, cukup adalah cukup. 

Survei perasaan cemas responden berdasarkan kelompok generasi
Survei perasaan cemas responden berdasarkan kelompok generasi (Sumber: Survei Alvara Research Center, diolah: Shofiatunnisa Azizah/Mojok.co)

Dengan mengetahui kata cukup atau melambat pada waktu tertentu, ini dapat mengurangi rasa cemas akan ketinggalan dan hal-hal lainnya. Data menunjukkan, gen Z menjadi generasi dengan kecemasan paling tinggi.

Iklan

Pekerja asal Jakarta, Lala (24), mengatakan bahwa soft living telah menjadi salah satu caranya untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih nyaman. Ia bilang, di antaranya diterapkan melalui membuat batasan energi, menikmati waktu sendiri dan hal-hal kecil, tidak merasa bersalah saat beristirahat, dan menerima bahwa tidak semua hal dapat dikontrol.

“Overall kurasa, aku menerapkan soft living,” kata dia, Rabu (22/4/2026).

Dalam hal pertemanan, misal, Lala mengaku tidak merasa overthinking atau mengikuti setiap kesempatan bersama teman-temannya. Ia tidak lagi merasa cemas akan ketinggalan atau ditinggalkan.

“Aku yakin aja temanku nggak akan jadiin aku outsider for being jarang nongkrong,” kata dia.

Hidup tidak muluk-muluk dengan soft living

Cerita lain datang dari Cornelia yang juga memutuskan untuk melangkah perlahan demi ketenangan. Melansir dari Business Insider, perempuan ini sempat tinggal bersama orang tuanya saat menunggu perpanjangan visa.

Awalnya, ia pikir hanya akan tinggal selama satu bulan, tetapi malah bertahan lebih lama.

Cornelia bercerita, lima bulan tersebut menjadi salah satu pengalaman terbaik untuknya. 

“Masa tinggal selama lima bulan kerasa kayak ada di penginapan serba lengkap,” kata dia.

Hal itu bisa didapatkannya hanya dengan tinggal bersama orang tua. Ia tidak perlu membayar sewa atau makanan karena ada ibu yang akan selalu memasak untuknya. Ia juga menjadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Cornelia menyadari bahwa dirinya tidak harus selalu mengerahkan seluruhnya untuk dapat merasakan hal yang baik. Bahkan, tinggal bersama orang tua tidak menandakan dirinya mengalami kemunduran atau sejenisnya, melainkan mengambil jeda yang juga memberikan ketenangan untuknya. 

Sebab, soft living adalah tentang menikmati hidup dengan cara yang tidak muluk-muluk.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag” dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 April 2026 oleh

Tags: alasan gen z side hustlegaya hidup gen zGen Zgen z side hustlegen Z soft livingimpian gen Zkepribadian gen zslow livingsoft living
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO
Esai

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO
Urban

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026
Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO
Urban

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co
Pojokan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sebat Bareng menjadi upaya sederhana merespons kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Berlangsung di 16 daerah MOJOK.CO

Sebat Bareng di 16 Kabupaten/Kota: Cara Sederhana Tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Pengingat Industri Kretek Masih Dibutuhkan Indonesia

31 Mei 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026
Pengalaman Merusak Astrea Grand Jadi Motor Racing Kampung MOJOK.CO

Pengalaman Saya “Merusak” Astrea Grand Milik Bapak Menjadi Motor Racing Kampung: Jebakan Menyenangkan dari Motor Honda yang Menjerat Saya Sampai Tua

2 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

1 Juni 2026
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Pentingnya keamanan siber di dunia digital. MOJOK.CO

Idul Adha: Refleksi untuk Kita yang Rela Mengorbankan Data Pribadi Dijual Secara Bebas Tanpa Tahu Kefatalannya

28 Mei 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

1 Juni 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.