Kerja jadi PNS di desa nyatanya tak sesuai ekspektasi Ahmad (bukan nama sebenarnya). Sejak awal mendaftar, ia sudah siap menerima konsekuensi akan ditempatkan di manapun dalam jangka waktu yang panjang. Yang jelas, jam kerjanya sudah sesuai aturan, mulai dari pukul 08.00 WIB hingga 16.30 WIB.
Ahmad termasuk orang yang beruntung, karena lolos sekali coba saat mendaftar CPNS. Padahal awalnya, ia enggan menjadi PNS karena ingin kerja proyek sebagai kuli bangunan dengan gaji yang cukup. Tapi lama kelamaan, Ahmad berpikir pekerjaan itu tak akan lama. Sebab seiring bertambahnya usia, fisiknya tak akan lagi kuat.
Akhirnya, Ahmad pun mencoba ikut beberapa bimbingan belajar di Youtube maupun Zoom agar lolos CPNS. Ia pun diterima sebagai PNS di desa, tapi malah kecewa dengan budaya kerja di sana.
Bersyukur kerja jadi PNS di desa, tapi…
Awalnya, Ahmad bersyukur karena ditempatkan sebagai PNS di desa. Dengan begitu, biaya hidupnya lebih murah, seperti harga kos dan makanan. Selain itu, lokasi kantornya juga strategis dan tidak macet.
Setelah 3 tahun bekerja, Ahmad mengajukan diri untuk dimutasi karena salah satu alasan yang membuatnya jengkel. Bukannya dapat tempat lebih bagus, Ahmad nyaris ditempatkan ke pelosok yang sepi penduduk.
Untung, dia masih bisa berpendapat dengan alasan sudah berkeluarga dan selama ini harus menjalani long distance relationship (LDR). Ahmad pun ragu jika akses pulang ke kampungnya bakal lebih susah. Oleh karena itu, ia dipindahkan ke kota.
“Aku akhirnya cerita ke atasan agar dicarikan solusi lain, karena namaku juga sudah diusulkan. Terus dia tanya, kalau aku sendiri inginnya ke mana? Ya aku jawab, maunya ke kantor wilayah provinsi. Akhirnya sekarang aku ditempatkan di kota,” kata Ahmad dihubungi Mojok, Rabu (15/4/2026).
Teman kerja yang menjilat atasan nasibnya bagus
Meskipun kerja di desa, Ahmad tak terhindar dari kerja lembur dan pulang pukul 22.00 WIB. Semua tugas dan komplain pun berhasil dia selesaikan. Ia pun bisa leluasa melakukan inovasi. Satu-satunya alasan ia memutuskan untuk mutasi adalah temannya yang toxic.
Bagaimana tidak, Ahmad yang merasa sudah all out di desa sebagai pelaksana, justru gabut di kota karena ditempatkan di seksi yang tidak ada tugas pelayanannya. Sementara, temannya dulu yang juga sama-sama dipindah ke kota tapi punya kemampuan kurang, malah mendapat posisi strategis.
“Dia ditempatkan di posisi bagus, karena kenal dengan atasannya. Padahal aku tahu, setiap dikasih pekerjaan dia selalu mengeluh, marah-marah, dan hasilnya nggak bagus. Cuma kalau disuruh untuk menghadap atasan, laporan ke kantor wilayah, dia pasti semangat,” ujar Ahmad bersungut-sungut.
Masalahnya, setiap kali temannya ini laporan ke pusat, Ahmad ikut terkena getahnya. Temannya yang hanya modal percaya diri tapi kosong ilmu, sering kali meneleponnya secara langsung untuk bertanya.
“Ujung-ujungnya aku yang menjelaskan, terus dia jelasin lagi ke atasanku. Seakan-akan dia yang tahu segalanya. Dan sekarang dia dapat posisi bagus,” kata Ahmad, “aku jadi mikir, dulu aku kerja keras tapi sekarang dibuang,” lanjutnya.
Karyawan PNS di desa dan kota sama saja
Nyatanya, setelah pindah ke kota, Ahmad masih menjumpai tabiat serupa malah lebih parah. Sebagai PNS, kata Ahmad, dia harus dekat dengan staf tata usaha (TU) agar tahu informasi penting di kantor.
“Misalnya, untuk tahu informasi soal beasiswa, langkah naik jabatan, uji kompetensi jabatan fungsional, dan lain-lain itu harus kenal dekat dengan mereka. Mereka nggak akan membagikan info itu ke karyawan yang nggak mereka kenal. Alhasil, kami harus cari tahu sendiri,” kata Ahmad.
Tak hanya staf TU, beberapa atasannya juga harus “dijilat” dulu agar hak-hak bawahannya diterima. Misalnya, kata Ahmad, ada ibu-ibu yang harus dipuji dulu agar cutinya diterima. Bahkan sampai ada yang membelikan barang-barang mewah.
Tentu saja tak semua begitu. Ahmad meyakini masih ada atasannya yang memang adil ke bawahannya. Mereka masih mau mendengarkan pendapat orang lain dan berharap bawahannya berkembang.
Seketika, Ahmad jadi menyesal dengan keputusannya dulu pindah ke kota. Padahal, ia sudah merelakan hidup dengan ayem tentrem. Di kota, ia harus menghadapi macet, suasana yang tak pernah sepi saat malam sehingga mengganggu istirahat, sampai bertemu lagi dengan rekan kerja yang menjilat.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














