Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
17 April 2026
A A
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

ilustrasi - meninggalkan kerja jadi PNS di desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kerja jadi PNS di desa nyatanya tak sesuai ekspektasi Ahmad (bukan nama sebenarnya). Sejak awal mendaftar, ia sudah siap menerima konsekuensi akan ditempatkan di manapun dalam jangka waktu yang panjang. Yang jelas, jam kerjanya sudah sesuai aturan, mulai dari pukul 08.00 WIB hingga 16.30 WIB.

Ahmad termasuk orang yang beruntung, karena lolos sekali coba saat mendaftar CPNS. Padahal awalnya, ia enggan menjadi PNS karena ingin kerja proyek sebagai kuli bangunan dengan gaji yang cukup. Tapi lama kelamaan, Ahmad berpikir pekerjaan itu tak akan lama. Sebab seiring bertambahnya usia, fisiknya tak akan lagi kuat. 

Akhirnya, Ahmad pun mencoba ikut beberapa bimbingan belajar di Youtube maupun Zoom agar lolos CPNS. Ia pun diterima sebagai PNS di desa, tapi malah kecewa dengan budaya kerja di sana. 

Bersyukur kerja jadi PNS di desa, tapi…

Awalnya, Ahmad bersyukur karena ditempatkan sebagai PNS di desa. Dengan begitu, biaya hidupnya lebih murah, seperti harga kos dan makanan. Selain itu, lokasi kantornya juga strategis dan tidak macet.

Setelah 3 tahun bekerja, Ahmad mengajukan diri untuk dimutasi karena salah satu alasan yang membuatnya jengkel. Bukannya dapat tempat lebih bagus, Ahmad nyaris ditempatkan ke pelosok yang sepi penduduk.

Untung, dia masih bisa berpendapat dengan alasan sudah berkeluarga dan selama ini harus menjalani long distance relationship (LDR). Ahmad pun ragu jika akses pulang ke kampungnya bakal lebih susah. Oleh karena itu, ia dipindahkan ke kota.

“Aku akhirnya cerita ke atasan agar dicarikan solusi lain, karena namaku juga sudah diusulkan. Terus dia tanya, kalau aku sendiri inginnya ke mana? Ya aku jawab, maunya ke kantor wilayah provinsi. Akhirnya sekarang aku ditempatkan di kota,” kata Ahmad dihubungi Mojok, Rabu (15/4/2026).

Teman kerja yang menjilat atasan nasibnya bagus

Meskipun kerja di desa, Ahmad tak terhindar dari kerja lembur dan pulang pukul 22.00 WIB. Semua tugas dan komplain pun berhasil dia selesaikan. Ia pun bisa leluasa melakukan inovasi. Satu-satunya alasan ia memutuskan untuk mutasi adalah temannya yang toxic. 

Bagaimana tidak, Ahmad yang merasa sudah all out di desa sebagai pelaksana, justru gabut di kota karena ditempatkan di seksi yang tidak ada tugas pelayanannya. Sementara, temannya dulu yang juga sama-sama dipindah ke kota tapi punya kemampuan kurang, malah mendapat posisi strategis.

“Dia ditempatkan di posisi bagus, karena kenal dengan atasannya. Padahal aku tahu, setiap dikasih pekerjaan dia selalu mengeluh, marah-marah, dan hasilnya nggak bagus. Cuma kalau disuruh untuk menghadap atasan, laporan ke kantor wilayah, dia pasti semangat,” ujar Ahmad bersungut-sungut.

Masalahnya, setiap kali temannya ini laporan ke pusat, Ahmad ikut terkena getahnya. Temannya yang hanya modal percaya diri tapi kosong ilmu, sering kali meneleponnya secara langsung untuk bertanya.

“Ujung-ujungnya aku yang menjelaskan, terus dia jelasin lagi ke atasanku. Seakan-akan dia yang tahu segalanya. Dan sekarang dia dapat posisi bagus,” kata Ahmad, “aku jadi mikir, dulu aku kerja keras tapi sekarang dibuang,” lanjutnya.

Karyawan PNS di desa dan kota sama saja

Nyatanya, setelah pindah ke kota, Ahmad masih menjumpai tabiat serupa malah lebih parah. Sebagai PNS, kata Ahmad, dia harus dekat dengan staf tata usaha (TU) agar tahu informasi penting di kantor. 

“Misalnya, untuk tahu informasi soal beasiswa, langkah naik jabatan, uji kompetensi jabatan fungsional, dan lain-lain itu harus kenal dekat dengan mereka. Mereka nggak akan membagikan info itu ke karyawan yang nggak mereka kenal. Alhasil, kami harus cari tahu sendiri,” kata Ahmad. 

Iklan

Tak hanya staf TU, beberapa atasannya juga harus “dijilat” dulu agar hak-hak bawahannya diterima. Misalnya, kata Ahmad, ada ibu-ibu yang harus dipuji dulu agar cutinya diterima. Bahkan sampai ada yang membelikan barang-barang mewah. 

Tentu saja tak semua begitu. Ahmad meyakini masih ada atasannya yang memang adil ke bawahannya. Mereka masih mau mendengarkan pendapat orang lain dan berharap bawahannya berkembang.

Seketika, Ahmad jadi menyesal dengan keputusannya dulu pindah ke kota. Padahal, ia sudah merelakan hidup dengan ayem tentrem. Di kota, ia harus menghadapi macet, suasana yang tak pernah sepi saat malam sehingga mengganggu istirahat, sampai bertemu lagi dengan rekan kerja yang menjilat. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 April 2026 oleh

Tags: budaya kerjakerja di desakerja di kotamenjilat atasanPNSpns di desaPNS di kota
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS
Sehari-hari

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO
Edumojok

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Tidak mau ikut CPNS karena tidak mau jadi PNS/ASN atau abdi negara
Urban

PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan

14 April 2026
Punya hard skill yang laku buat kerja di kota tapi tidak berguna buat slow living di desa MOJOK.CO
Catatan

Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan

13 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
Journaling

Journaling, Ringankan Beban Pikiran dan Perasaan untuk Lebih Berani Menikmati Hidup

13 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Penyesalan pasang WiFi di rumah MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Rumah: Lepas Kendali “Merusak” Hidup dan Mental karena Terkungkung Layar HP

17 April 2026
Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.